Pertama-pertama, Dylan melihat sorot kekagetan di mata Jade. Kekagetan itu kemudian berubah menjadi amarah, dan beberapa saat kemudian, amarah berganti ke kesedihan di mata birunya yang indah. Mata itu berkaca-kaca menatapnya, menimbulkan sedikit harapan di hati Dylan. Apa Jade juga memiliki perasaan yang sama padanya? Ia ingin mengatakan semuanya pada Jade, tetapi lehernya terasa kelu. Dylan seakan kehilangan kemampuan bicara yang selama ini menjadi keahliannya. Ia terpaku pada mata biru yang sedih itu. “Jangan menangis,” bisik Dylan saat melihat air menetes dari pipi Jade. Ia tidak pernah ingin menyakiti Jade, tetapi sekarang Dylan sudah melakukannya. “Kau mencintainya,” Jade balas berbisik dengan suara serak. “Apa itu alasan kau selalu mengencani wanita yang sama? Yang berambut gela

