"Pengkhianatan tidak pernah mudah ditangani dan tidak ada cara yang tepat untuk menerimanya." - Christine Feehan
.
"Kalau ada waktu, besok tolong ke rumah, ya, Mas. Mama ingin bicara sama kamu."
"Baik, Sayang. Mas, pasti datang. Oh, ya, sekarang kamu lagi apa ...."
Tut.
Setelah mengucapkan satu kalimat itu, aku segera memutuskan sambungan tanpa membiarkan Mas Asraf menyelesaikan ucapannya.
Otakku bahkan tidak bisa mencerna isi kepala laki-laki itu. Setelah apa yang terjadi dia masih punya muka untuk berbicara padaku seolah semuanya baik-baik saja.
Bahkan masih berani menyematkan panggilan 'sayang' padahal aku sangat muak mendengarnya. Apa dia sudah gila atau sedang amnesia?
Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengab laki-laki seperti Mas Asraf? Apakah kesalahanku begitu besar di masa lalu, hingga ditakdirkan berjodoh dengan laki-laki seperti itu.
Dari tujuh milyar lebih manusia di bumi, kenapa harus dia? Manusia paling jahat yang pernah kutemui.
Kenapa aku tidak dipertemukan dengan laki-laki baik, seperti kakakku. Entah sejak kapan aku sudah membuka galeri ponsel dan menatap foto seseorang hingga pandanganku mulai mengabur.
Kenapa tiba-tiba aku jadi teringat Kak Vincen?
Setelah insiden berbicara dengan Mas Asraf, aku mendadak insomnia dan menghabiskan waktu berselancar di media sosial sampai pukul dua pagi. Berniat mencari hiburan agar tetap waras, yang nyatanya tidak kutemukan sama sekali.
Hampa. Semuanya sama saja, mendadak membuatku overthinking. Ngomong-ngomong, mengenai overthinking, bukankah jam-jam segini memang waktunya.
Hufft!
Hidup semelelahkan ini ternyata.
Hahaha.
Aku mendadak tertawa saat tidak sengaja mengeluh. Jika begini saja aku sudah menyerah, lalu, apa kabarnya wanita-wanita hebat di luar sana. Yang dihadapkan pada masalah-masalah yang lebih besar dari yang kuhadapi saat ini.
Aku dikhianati suamiku, tapi, aku masih memiliki keluarga yang tepat sebagai rumah lainnya untuk kuberpulang. Aku punya segalanya selain suami yang setia tentunya. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak punya itu semua?
Bukankah seharusnya aku banyak-banyak bersyukur?
Maafkan aku, ya Allah. Maafkan, aku.
Berulang kali aku mengusap d**a sembari beristighfar dalam hati sembari memejam. Sebelum dentingan yang bersumber dari benda pipih di tanganku yang lain membuatku sedikit kaget.
Ting.
"Kenapa belum tidur?"
DM dari Kak Vincen lewat i********:.
Bukannya tadi Kak Vincen pamit untuk tidur?
"Lagi enggak bisa tidur aja ...." Belum selesai balasan aku ketik, laki-laki itu sudah melakukan panggilan vidio lewat WA. Dan aku tidak punya pilihan selain menjawabnya.
"Kakak," panggilku setelah panggilan kami tersambung yang ternyata Kak Vincen sedang berbaring di ranjang dengan bertelanjang d**a, ditemani cahaya temaram dari lampu tidur yang kutebak berasal dari nakas di samping ranjangnya.
"Kok masih di sofa? Kamu belum tidur dari tadi?" tanya Kak Vincen membuatku sedikit gelagapan dan hanya bisa menyengir.
Ingin berbohong tapi sudah tertangkap basah.
"Lagi enggak bisa tidur aja, Kak."
"Mata kamu sembab, Dek. Kamu habis nangis, kan. Lagi ada masalah apa, emangnya? Cerita sama kakak," ujar Kak Vincen lembut di seberang sana. Aku bisa melihat dengan jelas raut gelisah di wajahnya.
"Enggak ada, Kak. Aku okay, lihat."
Aku sengaja berpose konyol untuk mengalihkan pikiran Kak Vincen. Dan sepertinya aku berhasil, melihat laki-laki itu tertawa sembari mengusap wajahnya beberapa kali.
"Dek," panggilnya terdengar serius tiba-tiba. Jujur, ini sedikit menakutkan.
"Ya."
"Aku ini kakakmu. Kamu bisa saja berbohong di depan siapapun. Tapi, bukan berarti bisa berbohong di depanku. Sekarang cerita, kamu lagi ada masalah apa?"
Deg.
Aku terhenyak. Sebelum Kak Vincen mengucapkan satu kalimat yang terdengar ambigu, namun, berhasil membuatku menceritakan kekhawatiran yang kualami.
"Kamu punya aku, Yas. Kamu enggak sendirian. I'm yours. You know?"
.
Pagi hari.
Setelah mengantar Nari ke sekolah, aku segera kembali ke rumah, karena Mas Asraf mengirim pesan akan mampir ke rumah Mama sebelum berangkat ke kantor.
Padahal, semalam aku ragu kalau laki-laki itu akan menepati janjinya.
"Ma, Assalamualaikum," ucapku saat melihat Mama sedang bersantai di sofa. Dan aku segera mengambil tempat di sampingnya.
"Waalaikumsalam, Sayang kamu udah pulang. Kok cepat banget?"
"Iya, Ma. Barusan Mas Asraf WA kalau dia sedang dalam perjalanan kemari."
"Bagus, dong. Mama kira dia tidak punya nyali ke sini."
Belum lama saat aku dan Mama asik bercengkrama, sebuah suara mobil terdengar di halaman rumah.
"Sepertinya itu Mas Asraf deh, Ma, sebentar aku lihat dulu."
Saat kakiku menapaki teras, tampak mobil Mas Asraf sudah terparkir di halaman. Bersamaan dengan pemiliknya keluar dari sana sembari tersenyum ke arahku.
Senyum yang sama sekali tak lagi mempesona. Sebab aku tahu, senyum itu juga pasti sering dipersembahkan untuk selingkuhannya.
"Sayang," ujarnya saat sudah menapaki lantai yang sama denganku. Di atas teras bermaterial granit hitam mengkilat.
Andai aku adalah seseorang yang punya kekuatan seperti dalam film-film fantasi, ingin sekali rasanya membentur tubuh Mas Asraf hingga hancur di lantai yang sekarang kupijaki.
"Silahkan masuk, Mas. Mama sudah menunggu di dalam," imbuhku mengabaikan tangannya yang sengaja diulur untuk kusalim.
Maaf sekali, Mas, rasa hormatku sudah hilang bersamaan dengan hari di mana kupergoki kau dengan Maurina di kantor.
"Assalamualaikum," ucap Mas Asraf yang mengekor di bekalangku saat melihat Mama sedang duduk di sofa.
"Waalaikumsalam, mari silahkan duduk. Yasmine, suruh Bibi buatkan minum," perintah Mama yang membuatku segera ke dapur memangggil Bibi.
Sebelum menghilang di balik tembok, aku sempat menoleh dan melihat Mas Asraf yang hendak menyalami Mama, namun, diabaikan oleh Mama.
Tidak seperti biasanya. Sepertinya Mama benar-benar marah sekarang.
Setelah menyuruh Bibi mengantarkan minum, aku segera naik ke kamar untuk menghindari Mas Asraf. Saat melihat laki-laki itu, yang ada kebencian semakin mengakar di hatiku. Jadi, menghindar adalah keputusan yang tepat. Toh, Mama juga tidak menyuruhku untuk berada di sana.
Setelah menutup pintu kamar rapat-rapat, aku duduk di sofa dekat jendela menunggu Mas Asraf keluar dari rumah. Benar saja, tidak sampai sepuluh menit, laki-laki itu sudah berjalan menunjukm mobilnya dengan raut wajah yang tidak bisa kuartikan.
Kecewa dan amarah tampak jelas di wajahnya. Tiba-tiba aku menjadi sangat penasaran dengan apa yang Mama katakan pada laki-laki itu.
"Kira-kira Mama ngomong apa, ya?"
Setelah mobil Mas Asraf melesat pergi, aku segera keluar dari kamar untuk menghampiri Mama di sofa.
"Ma."
"Sayang." Mama tersenyum ke arahku tapi, matanya berkaca-kaca. Juga tatapannya yang tampak sendu.
"Mama kenapa? Mas Asraf bilang apa?"
"Sayang, nanti Mama ceritakan sama kamu, ya. Sekarang Mama butuh waktu sendiri dulu."
"Tapi, Ma ...." Tanpa menungguku selesai, Mama sudah bangkit dari sofa dan berjalan ke kamarnya.
Aneh.
Mama kenapa? Apa yang sudah laki-laki b******k itu katakan pada Mamaku?
Awas saja kalau sampai Mama kenapa-kenapa. Aku akan semakin membenci kamu Mas.
.
Tiba waktu Nari pulang sekolah, aku segera bersiap-siap untuk menjemput putriku.
"Bi Salmi, kalau Mama tanya, bilang aku pergi untuk jemput Nari, ya," kataku pada Bi Salmi yang berpapasan di ruang tamu.
"Baik, Non. Hati-hati di jalan ya, Non."
"Iya, Bi."
.
"Nari sudah dijemput Pak Asraf, Bu. Sekitar lima menit yang lalu."
Aliran darahku seperti berhenti mendengar perkataan Pak Arif—satpam di sekolah putriku.
Ingin rasanya memaki laki-laki paruh baya itu, tapi, ini bukan salahnya. Karena yang beliau tahu, aku dan Mas Asraf walinya Nari. Dan itu tidak bisa diisangkal, kenapa aku bisa melupakan ini.
Nariku. Ya Tuhan. Tidak mungkin kan, Mas Asraf punya rencana licik. Kenapa aku sampai melupakan ini.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."
Aku mencoba terlihat senormal mungkin di hadapan Pak Arif. Padahal, kakiku terasa seperti tidak lagi berpijak di tanah sekarang.
Ting.
Aku segera meraih ponsel dalam tas saat bunyi notifikasi dari benda pipih itu terdengar.
"Temui aku di cafe biasa atau kau tidak akan pernah bertemu dengan Nari lagi selamanya."
Tanganku bergetar setelah membaca pesan dari Mas Asraf. Apakah kehancuranku akan dimulai sekarang.
Kakak.
Andai Kak Vincen ada di sini ....