Dia menyebalkan, tapi aku menyayanginya. Kami sering berselisih paham, tapi, bagiku dia adalah pahlawan.
Lalu, ketika nanti dia memiliki seseorang yang spesial, apakah hubungan kami masih sama hangatnya? ~Yasmine Roselia
.
"Kakak kenapa?" tanyaku khawatir. Tidak biasanya Kak Vincen berbicara seperti itu. Nada suaranya seperti tidak baik-baik saja.
Sedang sakitkah, ia?
Apa ini semua gara-gara wanita itu? Wanita yang sudah bersuami yang dicintai kakakku. Jika benar, kenapa wanita itu tega membelenggu kakakku dalam perasaan terlarangnya? Kenapa dia tega menyiksa laki-laki yang sangat berharga bagiku dan Mama?
Gemuruh perasaanku memikirkannya.
"Kak," panggilku sekali lagi karena tak kunjung mendapat respon dari Kak Vincen di seberang sana. Hanya pemandangan pantai dan suara semilir angin saja yang terdengar, Kak Vincen tidak sama sekali.
"Iya, Dek."
Hufft.
Syukurlah. Aku sedikit lega setelah mendengar suaranya. Meski belum tahu pasti apa yang sebenarnya tengah dialami laki-laki itu saat ini, hingga membuatnya sedikit aneh. Ya. Aneh.
"Kakak baik-baik saja, kan?"
"Tentu. Lihat, kakak okay, kan?" tanya Kak Vincen yang mulai mengganti mode kamera depan. Lalu, wajah tampannya dengan senyum paling manis memenuhi layar ponselku.
Ketampanannya paripurna. Kakakku.
Tapi, tampaknya Kak Vincen terlihat sedikit lesu.
"Kok lesu? Kakak sedang sakit atau gimana?" tanyaku dengan kening mengernyit. Bingung lagi dibuatnya.
"Kecapean, Dek. Kerjaannya lumayan banyak."
"Heum. Ya, jangan dipaksain, dong, Kak. Gimana pun, kesehatan tetap lebih penting dari segalanya," omelku sedikit kesal.
Dari dulu laki-laki ini memang sedikit gila kerja, hingga kesehatannya sering kali dijadikan nomor dua. Itulah yang membuat aku dan Mama sering mengomelinya. Tampan, tapi nyebelin.
Dia cuma sibuk peduli sama kesehatanku dan Mama saja.
"Habis mau gimana? Ini udah jadi tanggung jawab Kakak," kilah Kak Vincen terdengar basi. Itu basa basi paling basi yang sangat sering keluar dari mulutnya untuk pembelaan diri.
"Ya. Tetap aja, kesehatan Kak Vincen harus diutamakan. Kalau Kakak sakit, siapa yang bakal mengemban tanggung jawab itu? Jawab, siapa?"
"Iya, iya. Bawel banget, sih."
"Nyebelin tau, nggak?" balasku sedikit ketus.
"Siapa yang nyebelin?" tanyanya di sembari menaikkan alis. Sumpah. Aku paling kesal tiap Kak Vincen bercanda seperti itu tiap kali aku sedang serius.
"Pake nanya lagi."
"Hahaha. Marah nih, ceritanya? Tengok sini dong, ngapain sembunyi- sembunyi kek gitu? Kakak lagi kangen tahu?"
"Paan, sih?"
"Ya, enggak kenapa-kenapa, kangen aja," ujar Kak Vincen membuatku kembali teringat akan sesuatu yang hampir saja terlupakan gara-gara perdebatan tidak jelas barusan.
"Kak."
"He'em."
"Aku boleh nanya sesuatu, enggak?" tanyaku hati-hati. Jujur, perasaanku mulai tidak tenang sekarang. Aku takut Kak Vincen marah. Tapi, ini juga terkait masa depan kakakku.
Aku ingin melihatnya bahagia dengan wanita yang dicintainya, membangun keluarga, hidup bersama hingga maut memisahkan mereka, tapi ... bukan dengan wanita yang berstatus istri orang itu.
"Boleh. Apa?" Dia mengernyitkan kening.
"Tapi, janji jangan marah, ya?" tanyaku sembari mengangkat jari kelingking ke depan kamera.
"Emangnya kamu mau tanya apa?" Kak Vincen semakin mendekatkan wajahnya ke layar ponsel. Dilihat dari raut wajahnya, Kak Vincen tampak sangat penasaran.
"Eum, itu ... itu saat Kak Vincen pulang nanti, aku pengen dikenalin sama teman dekatnya Kak Vincen," ucapku membuat Kak Vincen terkejut. Namun, di menit kemudian dia seperti mencoba mengusai dirinya kembali.
"Kamu yakin itu sebuah pertanyaan?"
Kali ini aku gelagapan dibuatnya. Benar, ucapanku barusan sangat melenceng dari yang hendak kutanyakan pada Kak Vincen. Tapi, aku tidak peduli, setidaknya itu bisa menjadi pancingan awal untuknya.
"Eum, aku salah, ya? Tapi, aku serius loh, ingin ketemu sama pacar Kakak. Kata Mama, sekarang Kakak sedang dekat dengan seseorang. Jadi, aku sangat penasaran seperti apa wanita yang sudah berhasil merebut hati Kakakku yang sudah lama beku itu. Hehe."
"What! Mama bilang gitu sama kamu?" tanyanya tampak shock. Rasanya pengen kukerjai saja. Siapa suruh main rahasia-rahasiaan sama aku.
"He'em."
"Serius?!"
Kak Vincen kembali memastikan, dan aku kembali mengangguk penuh kepastian. Bersamaan dengan helaan nafas berat Kak Vincen di seberang sana.
"Tapi, Mama enggak ngomong yang aneh-aneh kan, Dek?"
"Aneh gimana?" tanyaku.
"Maksud Kakak, Mama enggak bilang siapa nama wanita itu kan?"
Aku ingin terbahak saat melihat wajah Kak Vincen yang terlihat was-was menanti jawabanku. Padahal, jangankan namanya, sedikitpun Mama tidak pernah bercerita tentang wanita yang digilai Kak Vincen.
"Eum, gimana, ya ...."
"Dek, please, jangan bercanda, Kakak lagi serius," potongnya cepat dengan raut wajah semakin panik. Entah apa yang disembunyikan tentang wanita itu, hingga Kak Vincen menjadi sangat takut kalau aku sampai tahu namanya.
Aneh.
"Enggak kok, Kak. Mama enggak bilang wanita itu siapa. Mama cuma bilang kalau Kak Vincen lagi dekat sama seseorang sekarang? Memangnya, wanita itu sangat berharga ya, Kak, sampai Kakak merahasiakan dari aku segala? Kok sekarang aku jadi takut, ya, kalau suatu saat Kak Vincen bakal enggak peduli sama aku lagi, setelah wanita itu masuk dalam hidup kakak."
Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku, dan belakangan aku mulai menyadari satu hal. Benar. Bagaimana kalau nanti Kak Vincen tidak memedulikan aku lagi. Kenapa aku jadi takut sekarang?
Ya Tuhan. Penyakit hati macam apa ini? Kenapa ketakutanku jadi tak berdasar begini. Istighfar, Yasmine.
"Kamu ngomong apa sih, Dek? Enggak jelas. Ya, enggak mungkinlah Kakak enggak peduli sama kamu. Karena sampai kapanpun, Mama, kamu dan Nari akan selalu menjadi prioritas Kakak. Enggak akan pernah berubah."
"Tapi ...."
"Soal teman dekat, Kakak. Kamu tenang aja, suatu saat pasti kamu bakal kenal. Udah, ya, Kakak mau istirahat sekarang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tut.
Aneh.
Kenapa tiba-tiba aku tidak rela kalau Kak Vincen punya kekasih?
Kenapa tiba-tiba aku jadi egois seperti ini? Sadarlah, Yasmine. Kakakmu juga berhak memiliki kehidupan sendiri. Tidak selamanya dia harus memikirkanmu dan Nari.
Logikaku terus saja menyadarkanku yang tiba-tiba tidak bisa berpikir dengan jernih. Kenapa begini? Kenapa hatiku sesak membayangkan tentang Kak Vincen dan kekasihnya?
Please, jangan egois, Yasmine! Sudah saatnya laki-laki baik itu menggapai bahagianya.
Aku terus saja mengatakan hal-hal positif dalam hati sembari mengelus d**a. Butuh waktu beberapa menit untuk kembali tenang, sebelum ponselku kembali berdering, dan nama yang muncul di layar panggilan berhasil mengusik ketenanganku.
Mas Asraf.
Laki-laki jahat itu. Sialnya, dia ayah dari putriku.
Mulanya aku hanya menatap layar pipih di tanganku tanpa berniat menjawabnya, namun, saat teringat dengan pesan Mama, tanganku segera menggeser ikon hijau itu ke atas. Lalu, menyapa Mas Asraf dengan d**a bergemuruh.
"Halo."
"Halo, Sayang."
Brengsek!
.
Bersambung ....