Tidak kutahu pastiya kapan. Namun, memang sudah jauh-jauh hari hatiku dihancurkan. ~Yasmine Roselia.
.
"Mama ... tahu dari mana?" tanyaku dengan perasaan tidak tenang.
Sungguh aku sangat terkejut dan bingung sekarang. Bagaimana Mama bisa tahu, padahal aku belum menceritakan apapun padanya.
"Kakakmu yang bilang. Jadi, itu semua benar?" tanya wanita yang sedang duduk di sebelahku dengan tatapan penuh telisik.
Dan aku ... tidak bisa berkutik.
"Benar, Ma. Mas Asraf berkhianat. Dia berselingkuh dengan sekretarisnya."
Akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibirku, dengan begitu lugas. Bukan karena hatiku tidak terpengaruh, namun, berpura-pura kuat saja di hadapan Mama Mega.
Mungkin iya, aku tidak akan lemah menjalani semua ini. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar, tapi, sedang berusaha saja.
Aku punya hati, pun aku seorang wanita. Siapa yang ikhlas diperlakukan seperti itu? Wanita mana, seorang ibu mana yang bisa menerima dengan lapang d**a? Jika pun ada, mungkin bukan aku orangnya.
Jujur. Aku tidak bisa, pun tidak ridha. Seperti mata Mama yang kulihat mulai berkaca-kaca. Hatiku ikut gemiris di dalam sini. Riuh. Gemuruh. Mas Asraf, Maurina, andai bisa ingin kucabik-cabik mereka berdua.
"Nak." Mama segera menarik tubuhku dalam dekapannya.
Di sana, di pundak Mama, kusembunyikan wajah dengan mata memejam. Air mataku tidak boleh tumpah, baju mamaku tidak boleh basah. Aku harus terlihat kuat di hadapan pemilik tubuh yang mulai melayu ini, namun, kasih sayangnya tak lekang dibalut usia.
"Sejak kapan, Nak?" bisik Mama pelan. Suaranya yang biasa terdengar lembut, kini bergetar.
"Ma ...."
"Kenapa tidak pernah bercerita pada Mama? Kenapa rasa sakit itu harus kamu pendam sendirian?" Kali ini Mama mencercaku penuh tekanan.
Perlahan aku mencoba bangkit dari dekapan Mama, kutatap wanita yang sedang menangis itu dengan senyuman.
"Ma, aku kuat," ujarku sembari menggenggam tangannya.
"Mama tanya sejak kapan suami kamu berkelakuan hina seperti itu?"
Aku menggeleng pelan. "Entahlah, Ma. Yasmine tidak tahu kapan pastinya. Tapi, sepertinya itu sudah lama."
Nyatanya aku memang tidak tahu kapan tepatnya Mas Asraf bermain api dengan Maurina. Tapi, hubungan haram itu sudah mereka bangun jauh-jauh hari. Maharani saksinya.
Mas Asraf kurang teliti hingga ketahuan oleh sahabatku sendiri.
"Kenapa seperti ini nasibmu, Nak? Mama dan Papa membesarkanmu dengan sepenuh hati, kenapa sekarang malah begini? Tega sekali Asraf berbuat seperti ini pada anak Mama. Ke mana janjinya dulu?" lirih Mama terdengar sakit di telingaku. Hingga air mata yang sejak tadi kutahan-tahan ikut tumpah juga.
Maaf, Ma.
Benar. Aku tumbuh besar dengan balutan kasih sayang yang melimpah ruah dari keluarga ini. Aku tidak pernah merasakan penderitaan. Orangtua dan kakakku tidak mengenalkanku pada istilah itu.
Dan karena itulah mungkin Tuhan menegurku lewat Mas Asraf, lewat laki-laki yang dulunya begitu kucintai. Bukankah dalam hidup bukan hanya yang baik-baik saja?
Hidup ini penuh warna, bukan hitam saja atau putih saja.
Namun, entah kenapa rasa-rasanya aku tidak kuat menghadapi peringatan ini. Bukan warna seperti ini yang aku inginkan dalam hidupku. Rasa-rasanya ini seperti di luar kemampuanku.
Aku tidak mampu.
"Maafkan, aku, Ma. Aku sudah mengecewakan Mama. Padahal, dulu waktu kukenalkan Mas Asraf pada Mama dan Papa, aku begitu keukeuh menyakinkan kalian kalau Mas Asraf adalah laki-laki sekaligus imam yang baik untukku. Nyatanya aku salah, Ma. Aku telah salah menilai Mas Asraf."
Aku memilih menunduk karena tidak sanggup menatap wajah Mama. Pasti sekarang Mama sangat kecewa padaku. Padahal, konon kuketahui Mama dan Papa ingin menjodohkanku dengan seseorang, yang mungkin saja pilihan mereka seribu kali lebih baik dari pilihanku.
"Sudahlah, Sayang. Apalagi yang mau disesali toh, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang Mama hanya ingin bertemu dengan Asraf. Tolong sampaikan pada laki-laki itu untuk menemui Mama besok," tegas Mama membuatku tercekat.
"Ta—tapi, untuk apa? Aku tidak ingin berurusan lagi dengan Mas Asraf ...."
"Mama ingin menagih janji yang pernah dia ucapkan di hadapan Mama, Papa dan kakakmu. Jangan dia pikir dia bisa bebas begitu saja setelah menyakiti putriku.
Kamu bukan anak sebatang kara yang bisa diperlakukan semena-mena, kamu punya keluarga. Mama tidak terima harga diri putri Mama diinjak-injak oleh Asraf! Memangnya dia siapa berani berlaku seperti itu?"
Ma. Sebegitu berhargakah aku?
.
Setelah mengantar Mama ke kamar, aku langsung kembali ke kamarku di mana ada Nari yang sudah tertidur.
Ngilu rasanya saat kupandangi wajah polos yang tengah terlelap itu. Bagaimana nasib anakku nanti? Bagaimana cara menjelaskannya pada Nari yang diusianya sekarang seharusnya dipenuhi kebahagiaan?
Anak broken home. Begitukah sebutannya? Itukah status anakku? Siapkah ia? Siapkah aku?
Bagaimana tanggapan lingkungan sekitar? Teman-temannya? Jawaban apa yang harus keberikan saat malaikat kecil ini bertanya di mana ayahnya?
Nariku. Sosok yang bahkan lebih berharga dari nyawa dan darahku. Mama harus bagaimana, Nak?
Ditengah kegelisahan sembari menatapnya Nari yang sedang terbaring, tiba-tiba ponselku yang tergeletak di nakas berdering.
Kak Vincen?
Tumben dia melakukan panggilan vidio malam-malam begini.
"Halo, Kak," ujarku setelah mengusap bagian yang terdapat ikon hijau itu ke atas. Sehingga wajah Kak Vincen yang tampak sedang rebahan itu kelihatan.
"Halo, Sayang. Belum tidur? Nari mana?" tanya Kak Vincen, kemudian kutekan gambar persegi di sudut kiri bawah untuk beralih ke kamera belakang. Sehingga nampak putriku yang sedang tertidur.
"Udah bobo, Kak. Nyenyak banget. Kakak lagi di hotel, ya? Kapan pulang?"
"Cepat banget bobonya. Iya, nih. Viewnya cantik banget, dekat pantai soalnya. Eum, Kakak pulangnya kalau enggak besok, lusa. Doain biar kerjaan cepat kelar. Bentar ya, Kakak jalan ke balkon."
Kamera sedikit goyang saat Kak Vincen tampak bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke arah balkon. Tiba-tiba, saat dia mengalihkan kameranya, aku hampir saja menjerit andai tidak menyadari Nari yang sedang tidur—karena melihat suasana pantai yang begitu indah pada malam hari. Menggoda.
Ditambah banyak cahaya lampu yang memendar. Keren banget.
"Cantik, kan?"
"Cantik banget, Kak. Pengen ke sana!" Aku memekik tertahan.
"Nanti kapan-kapan, Kakak bakal ajak kamu sama Nari. Sekarang kamu pindah ke sofa dulu deh, biar enggak gangguin tidurnya Nari," perintah Kak Vincen yang masih mengarahkan kamera ponselnya ke sana kemari. Memamerkan suasana pantai di sekelilingnya padaku.
"Dek, ganti kamera depan, Kakak mau lihat kamu," perintah Kak Vincen lagi setelah aku duduk di sofa yang letaknya agak jauh dari ranjang.
"Ngapain lihat-lihat aku?" tanyaku sengaja membuatnya kesal. Sebelum Kak Vincen mengucapkan kalimat yang terdengar aneh menurutku. Tidak. Maksudnya, cara penyampaian Kak Vincen yang aneh. Tidak seperti biasanya.
"Kangen, Dek. Sumpah. Kangen banget."
Itu ... nadanya terdengar berat, tidak seperti biasanya.