Bab 7 Bicara dengan Mama

1076 Words
Dalam pelukan Kak Vincen, debaran jantungku berdetak kian hebatnya. Milik Kak Vincen pun hampir sama. Pertanda kakakku sedang berada dalam situasi marah, semarah-marahnya. "Kakak, please! Aku baik-baik saja, okay . Jadi, Kakak tenang. I'm fine, really." Entah sudah berapa banyak kata-kata magic yang keluar dari bibirku untuk membujuknya, berharap kobaran api yang sedang menyala dalam diri Kak Vincen segera mereda. Aku tidak peduli lagi dengan kondisi Mas Asraf yang terkapar di atas rerumputan dan terus memangggiku. Yang penting Kak Vincen tidak terlepas dari kendaliku atau kejadian seperti beberapa menit yang lalu terulang kembali. "Kakak okay, kan?" tanyaku kembali memastikan. Bukan jawaban yang kuterima, melainkan Kak Vincen semakin mengeratkan pelukannya. Ya. Dia sedang butuh ketenangan. Dia butuh aku untuk membuat emosinya meredam. "Kakak, ...." "Sttss. Biarkan seperti ini sebentar, Yas. Keinginanku untuk membunuh suami kamu masih sangat besar. Tahan aku dengan cara seperti ini," bisik Kak Vincen di telingaku. Mendengarnya berkata seperti itu, rasa takut dan bersalah mulai menghampiri. Bagaimanapun aku yang membuat Kak Vincen seperti ini. Andai tadi aku tidak mengiyakan ajakannya untuk kemari, andai aku tidak maju dan menantang Mas Asraf hingga tangannya mendarat di pipi. Kak Vincen tidak akan emosi seperti ini hingga berakhir menghajar Mas Asraf. "Tenang, ya. Aku tidak mau Kakak jadi pembunuh. Kakak harus tetap menjadi Kakak yang baik selamanya. Aku sayang Kak Vincen." Dalam keadaan masih gemetar, aku berbisik pelan, berharap kata-kata tulusku barusan sampai ke hati laki-laki ini. Laki-laki terbaik di dunia. Namun, sepertinya hasilnya tidak sesuai yang kuharapkan. Aku yang menyandarkan kepala di d**a Kak Vincen dapat merasakan detak jantungnya lebih hebat dari sebelumnya. Apa kata-kataku barusan membuat dia tambah marah? Apa aku baru saja melakukan kesalahan besar? "Maafkan, Yasmine, Kak," cicitku merasa ada yang tidak beres. Tapi, lagi-lagi Kak Vincen malah semakin merapatkan tubuhku ke tubuhnya, sampai untuk bernafas pun susah. Sesak. "Apa kamu merasakan sesuatu, Yas?" tanya Kak Vincen terdengar ambigu. Aku mendongak. Tapi, dia menatapku dengan alis terangkat. "Maksudnya?" tanyaku sebelum pelukan kami terlepas. "Tidak ada, lupakan saja. Ayo, ke dalam, ambil barang-barangmu lalu kita pergi." Kak Vincen menarik tanganku untuk masuk ke rumah, meninggalkan Mas Asraf yang masih mencoba untuk bangkit dari ketidakberdayaannya. "Yas, tolong bantu aku, Sayang. Bantu aku masuk ke dalam!" ringis Mas Asraf yang masih terdengar olehku. Tanpa menghiraukan ratapan Mas Asraf, aku menurut saja saat Kak Vincen menuntunku ke pintu utama. Tidak lama setelah menekan bel, pintu terbuka dari dalam dan Bi Rosma muncul di baliknya. "Bu Yasmine, sudah pulang, Bu? Tapi, Bapak belum pulang dari kemarin ...." "Itu Bapak ada di halaman. Tolong kamu bantu ke dalam." Aku menunjukkan sebuah pemandangan yang membuat Bi Rosma terkejut sekaligus beristighfar. "Astagfirullah! Ya Ampun, Pak Asraf!" pekiknya sembari berlari untuk menolong Mas Asraf. Sementara aku dan Kak Vincen langsung masuk ke dalam rumah dan menuju lantai dua di mana kamarku dan Mas Asraf terletak, juga kamar Nari di sebelahnya. Setelah selesai membereskan dua koper berisi keperluanku dan Nari dengan dibantu Kak Vincen, kami bergegas turun. Saat melewati ruang tamu, Mas Asraf tampak sudah berada di sofa dalam keadaan terbaring. Sesekali meringis saat tangannya menyentuh beberapa bagian wajahnya yang terlihat memar. "Yas, kamu mau ke mana. Tolong obati luka Mas, Sayang" ucapnya terdengar lirih. Sebenarnya aku kasihan melihatnya seperti itu, tapi sakit hatiku mengalahkan rasa empati yang kumiliki. Persetan dengan pengkhianat itu. "Ayo, Kak, kita pergi." . Saat mobil yang dikendarai Kak Vincen melewati jalanan sepi. Aku memintanya untuk menepi. "Kenapa berhenti?" tanya Kak Vincen bingung. Tanpa merespon pertanyaannya, aku lekas mengambil tissue dan membersihkan darah yang mulai mengering di sudut bibir Kak Vincen. "Auwh!" "Tahan ya, ini bakal perih. Udah mulai kering soalnya," ujarku sembari melanjutkan aktivitas membersihkan lukanya dengan hati-hati. Beberapa bagian wajah Kak Vincen juga tampak memar, soalnya tadi dia sempat terkena beberapa serangan Mas Asraf. Meski tidak separah yang laki-laki itu terima. "Tau gini, tadi Kakak bawa perlengkapan P3K," celutuknya membuatku menekan tissue ke sudut bibirnya. "Auwh! Sakit, Dek!" "Habis Kakak ngomongnya suka ngawur, sih. Emangnya, Kakak enggak nyesal sampe berantem gini?" "Enggak! Apalagi ada yang obatin." "Ishh!" "Ngomong-ngomong, pipi kamu masih sakit? Coba Kakak lihat sini bekas tamparan suami kamu." Tanpa aba-aba Kak Vincen menangkup wajahku dengab kedua tangannya, membuatku salting saja. "Pipi kamu merah, Dek." What! . Setelah kami tiba di rumah, kulihat Nari sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan sedang sarapan di meja makan dengan Mama. "Assalamualaikum," ucapku dan Kak Vincen berbarengan. "Waalaikumsalam," jawab Mama dan Nari. Kami pun ikut bergabung ke meja makan untuk mengobrol. "Kalian enggak sarapan?" "Enggak, Ma. Tadi, aku dan Kakak udah sarapan di jalan." " Mama habis dari mana sama Om?" tanya putriku dengan wajah cemberut. "Mama habis dari rumah buat ambil pakaian dan buku sekolah Nari. Kok cemberut gitu, Sayang?" "Habis Nari enggak diajak," seru putriku. "Duh, maafin, ya. Tadi, Nari masih tidur Mama enggak tega banguninnya." "He'em." "Kok gitu jawabnya, Mama kan udah minta maaf. Nari masih marah sama Mama?" tanyaku lembut sembari mengusap kepalanya. Berusaha membujuk putriku agar menyudahi marahnya. Mama malah sangat bersyukur Nak, kamu tidak ikut pergi. "Iya, Ma. Nari enggak marah lagi, Nari udah maafin Mama." "Makasih, Sayang. Nari emang anak Mama yang paling baik dan paling cantik!" seruku mencubit pipinya gemas. "Sama-sama. Mama juga cantik." "Oma juga cantik, kan?" tanya Mama membuat kami semuanya tergelak. "Iya, dong. Kan Mama cantiknya asalnya dari Oma. Iya kan, Om?" "Iya, dong. Neng Geulis jangan marah lagi, ya. Nanti kalau Om pulang dari luar kota, kita jalan-jalan berdua deh. Gimana?" "Boleh-boleh." "Yaudah kalau gitu Om siap-siap dulu, ya. Nanti Nari ke sekolahnya bareng Om aja." . Malam hari. setelah menemani Nari belajar dan menidurkannya, aku turun ke bawah bermaksud mencari Mama. Tapi, setelah mencari ke kamar, ruang tamu dan ruang TV, aku menemukan Mama. Bi Salmi juga tidak kelihatan. Aku sempat mondar mandir di ruang tengah, hingga teringat kalau semalam Mama dan Kak Vincen sempat berbincang di halaman belakang. Gegas aku ke sana untuk memastikan keberadaan wanita yang sangat kusayangi itu. Benar saja, pintu dapur terbuka dan wanita yang mulai muncul garis kerutan di wajahnya tengah duduk di kursi panjang bermaterial besi. Tatapannya kosong. Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya, hingga tidak menyadari kehadiranku. "Ma," panggilku. "Eh, Yasmine. Kamu belum tidur?" Mama seperti terkejut menyadari kedatanganku. Lalu, sedikit bergeser, memberi ruang untukku duduk. "Belum, Ma. Yasmine belum mengantuk." "Bagaimana bisa mengantuk jika harus memendam masalah sebesar itu sendirian, Sayang." Deg. Aku yang baru mendaratkan tubuh ke atas kursi, terkejut mendengar perkataan Mama. "Ma ...." "Ceritakan semuanya. Kalau kamu masih menganggap Mama bagian penting dalam hidupmu." . Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD