Bab 6 Kembali untuk Pergi

1051 Words
"Bagi saya, hal yang lebih buruk daripada kematian adalah pengkhianatan. Kamu tahu, saya bisa memahami kematian, tetapi saya tidak bisa membayangkan pengkhianatan."- Malcolm X . Sakit? Tidak. Yang ada hanya perasaan muak dan jijik. Melihat ekspresi Mas Asraf saat ini, aku ingin terbahak. Noda merah di bagian depan kemejanya membuat laki-laki itu tidak bisa berkutik. Dia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang aku yakin itu tidak terasa gatal sama sekali. "Aku kemari hanya ingin mengambil seragam sekolah Nari serta beberapa keperluan pribadi kami," jelasku tanpa mengalihkan pandangan dari ayah putriku. Sementara tanganku tidak pernah lepas dari lengan Kak Vincen. Aku berusaha menahan kakakku supaya tidak sampai menghajar Mas Asraf. Sejak kuperjelas tentang noda lipstick di baju seseorang, laki-laki yang berdiri di sampingku sudah menunjukkan gelagat aneh. Jadi, aku harus berjaga-jaga agar tidak lagi ada adegan adu jotos di sini. Malu jika sampai ada tetangga yang melihat kami. "Lepaskan tanganku, Dek?" Suara Kak Vincen terdengar datar tapi tajam. "Tidak." "Kenapa? Kamu tidak tega melihat dia kuhabisi?" tanya Kak Vincen dengan tatapan menusuk ke dalam mataku. Seperti ada sesuatu yang lain selain amarah yang tersembunyi di dalam sana. Tapi, aku tidak mampu mencernanya. "Aku tidak rela melihat tangan Kak Vincen harus kotor karena bersentuhan dengan laki-laki seperti itu," ujarku tersenyum tipis sembari mengusap lengannya. Raut wajah Kak Vincen yang semula susah diartikan kini berubah sedikit teduh. Sementara laki-laki yang masih mematung beberapa meter di depan sana menajamkan tatapannya pada kami. Haha. Aku tahu Mas Asraf sedang cemburu. Baiklah, biar kuperlihatkan yang lebih parah dari ini. Sakitku melihatnya bersama Maurina, dia juga harus merasakannya. Meski tidak seberapa dibandingkan dengan lukaku yang semakin menganga. "Tangan ini sering mengusap kepalaku, menggandeng tanganku sejak kecil. Tangan ini juga yang selalu melindungiku. Jadi ... aku tidak mau tangan ini kotor karena menyentuh manusia kotor seperti dia!" ujarku lantang sembari mengelus tangan kakakku dengan kepala yang sengaja kusandarkan di bahunya. Mas Asraf pasti bisa mendengar ucapanku barusan dengan jelas. Sangat jelas. Terbukti dari tangannya yang mulai mengepal. Sinyal matanya memberitahu tentang kesakitan yang tengah laki-laki itu rasakan. Sementara aku, jangan tanya dari mana keberanian yang kudapatkan untuk bersikap seperti ini pada Kak Vincen. Itu datang secara tiba-tiba. Demi membalas perbuatan Mas Asraf, apapun akan kulakukan, bahkan jika harus di cap murahan sekalipun. "Yasmine, kita harus bicara!" tegas Mas Asraf dengan suara meninggi. Kak Vincen yang berdiri di sisiku memberontak, beruntung usapan tanganku berhasil menahannya. Entahlah, sejak dulu, perlakukan lembutku selalu berhasil mengalahkan sisi keras laki-laki ini. Seperti kejadian saat seorang temannya hendak berbuat kurang ajar padaku di suatu hari, ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kalau tidak salah, Yuda namanya. Teman sekolah Kak Vincen yang hampir berakhir babak belur karena tertangkap hendak melecehkanku ketika berkunjung ke rumah. "Woi, b******k!" teriak Kak Vincen yang muncul dari kamar mandi di samping dapur dan melihatku sedang memberontak dalam cengkraman laki-laki bernama Yuda itu. Entah apa yang mempengaruhinya, hingga laki-laki itu berani berbuat demikian. Aku tidak begitu paham. Saat itu, aku yang dilanda ketakukan, langsung berlari memeluk Kak Vincen dan menangis di d**a bilangnya. "Kamu tidak apa-apa, Dek? Lepas, biar Kakak beri dia pelajaran." "Tidak mau. Aku takut, Kak." "Vin, sorry, tadi gue ... itu gue cuma ...." "Diam lo, b******k. Lo pikir gue enggak lihat apa yang mau lo lakuin sama adek gue. Selama ini gue masih mau temenan sama lo meski gue tahu lo b******k, lo mainin banyak perempuan. Tapi, lo malah mau ngerusak adek temen lo sendiri. Gue enggak habis pikir." "Vin, itu gue minta maaf, gue enggak ada maksud..." "Mending sekarang lo pergi dari rumah gue, sebelum lo mati!" "Oke, gue pergi." "Ingat, Yud. Urusan kita belum selesai. Kalau bukan karena adek gue, lo udah habis gue bikin babak belur!" teriakan Kak Vincen menggema seiring dengan kepergian temannya itu. Dan sejak hari itu, hubungan pertemanan mereka mulai merenggang dan Kak Vincen semakin ketat menjagaku. Terlebih soal pakaian, dia tidak mengizinkanku memakai baju yang di atas lutut atau yang terlalu ngepas di badan. Kak Vincen punya sisi arogan yang diwarisi dari almarhum Papa. Tapi, sebisa mungkin dia tutupi dariku. Kecuali saat terjebak dalam situasi genting yang memang tidak bisa dihindari. Dan aku yang sangat paham dengan karakternya, berusaha mati-matian meredam sisi tersebut. Ah, entahlah. Apapun Kak Vincen, bagaimanapun bentuknya, dia tetap yang paling keren. Dibalik keras dan dinginnya sikap yang dia tunjukkan di depan umum, kakakku memiliki sisi yang lembut dan penuh kasih sayang. Tentu saja hanya aku dan Mama yang tahu. "Yasmine, apa kamu tidak mendengar kata-kataku?" tanya Mas Asraf kesal. Melihat sikapku yang masih cuek saja dab tidak peduli sama sekali dengannya. Dia kuanggap angin lalu. Rasa hormat yang dulunya masih kujunjung, tekikis sudah. "Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?" tanyaku dengan tatapan malas. "Banyak, Sayang. Ini tentang rumah tangga kita dan aku tidak ingin orang lain mendengarnya," lirih Mas Asraf. Seperti putus asa. "Kalau begitu bicarakan saja. Toh, di sini tidak ada orang lain." "Tapi, dia orang lain, Yasmine! Dan aku tidak suka melihat kamu terlalu dekat dengannya, sekarang juga lepaskan tanganku dari lengannya!" "Jangan meninggikan suaramu di depan adikku!" "Dia istriku. Kamu tidak punya hak ikut campur urusanku dengan istriku, karena kamu hanya seorang kakak angkat baginya. Kalian tidak punya hubungan darah, jadi tolong jaga jarak dari istriku," balas Mas Asraf tak mau kalah. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa mendengar deru nafas Kak Vincen. Dadanya naik turun, menahan emosi yang siap tumpah. Ucapan Mas Asraf barusan pasti terdengar menyakitkan. "Dia memang hanya Kakak angkat, tapi selama ini Kak selalu ada untukku dan Nari bahkan di saat suamiku sendiri beralasan sibuk berkerja, padahal, sibuk berzina dengan perempuan lain!" ucapku lantang. "Yasmine, kenapa kamu malah berbicara seperti itu tentang suami kamu sendiri. Kita sedang berada di luar, apa kamu tidak malu kalau ada tetangga yang mendengarnya?" Laki-laki itu tampak gelagapan. Heh, apa dia takut nama baiknya di komplek ini tercoreng. Aku melepas genggaman dari lengan Kak Vincen dan berjalan mendekat ke arah Mas Asraf. "Kenapa aku harus malu, toh, yang kubilang itu benar, kan. Aku malah ingin semua orang di komplek ini tahu, kalau kamu memang laki-laki tukang selingkuh dan tukang zina!" bentakku tepat di depan wajahnya. Aku sudah tidak tahan menghadapi sikap tak tahu diri laki-laki itu. Plak! Tanganku menyentuh pipi bekas tamparan Mas Asraf. Perih. "Ya—smine ...." "Hebat kamu, Mas," ujarku tersenyum sinis. "Beraninya kau melukai adikku!" . Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD