"Lihatlah! Dia bahkan lupa menghubungiku setelah berjanji membahas masalah ini di rumah. Dia tidak mencariku dan Nari, berarti sejak kemarin Mas Asraf tidak pulang ke rumah. Hahaha, bodohnya kamu Yasmine."
Aku menatap kontak w******p seseorang dengan profil yang menampilkan fotoku sambil tersenyum getir. Pesan yang kemarin kukirimkan pada Mas Asraf sebelum ke kantornya, bahkan masih centang satu hingga pagi ini.
Lalu, apa maksudnya mengajakku bicara secara baik-baik mengenai hubungan kami? Bukan terlalu berharap, aku hanya ingin memegang omongan laki-laki itu untuk yang terakhir kalinya. Ingin memenukan bukti jika dia masih punya niat baik untuk memperjuangkan rumah tangganya atau tidak.
Dan ternyata, begini hasilnya.
Nol besar.
Sadarlah Yasmine. Tidak ada yang bisa diharapkan dari laki-laki berotak s**********n seperti Mas Asraf.
Ingin sekali kuceburkan ponsel ini ke dalam kolam, kalau saja kewarasanku sudah hilang sepenuhnya. Tapi, untung saja aku tidak sampai gila karena ulah laki-laki itu.
Setelah dipikir-pikir laki-laki seperti Mas Asraf memang cocok dengan wanita seperti Maurina. Kenapa tidak aku ikhlaskan saja. Toh, sampah memang tempatnya di tempat sampah kan.
Aku tahu wanita seperti apa Maurina itu. Maharani sudah menceritakan semuanya. Jadi, sekarang tinggal memikirkan cara agar terlepas dari Mas Asraf, lalu menonton dari luar bagaimana dia dihancurkan oleh selingkuhannya.
Bangkitlah, Yasmine. Jangan terpuruk. Batinku terus membisikkan kata-kata yang membuatku semakin bersemangat untuk lepas dari Mas Asraf.
Sepertinya tekadku untuk bercerai dari Mas Asraf semakin besar, tapi, sebelumnya masih ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada laki-laki otak s**********n itu saat kami bertemu nanti.
Aku masih tidak terima harga diriku direndahkan seperti ini. Padahal, selama ini aku sudah berusaha menjelma sebagai istri yang diinginkannya. Sampai resign dari pekerjaan dan berakhir jadi ibu rumah tangga.
Hufft!
Kamu harus kuat, Yasmine. Ada Nari yang harus kamu prioritaskan daripada b******n itu, sekarang. Batinku sembari mengelus d**a.
"Apa yang kamu lakukan di sini pagi-pagi begini, Dek?"
Aku berbalik dan menoleh ke arah pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dan kolam renang, di mana suara yang sangat kukenali itu berasal.
"Kak Vincen?"
Laki-laki yang bertelanjang d**a dan hanya menggunakan jogger pants untuk bawahannya mulai berjalan mendekat ke arahkuu. Hingga posisi kami sama-sama berdiri di pinggir kolam.
Canggung. Tentu saja.
"Mau berenang pagi-pagi begini?" tanyanya dengan menatap lurus ke depan. Di seberang kolam sana terdapat pohon mangga yang sedang berbuah.
"Eh, enggak, Kak. Lagi cari udara segar, aja."
"Sambil menunggu seseorang menghubungimu?" tanya Kak Vincen menatap tajam ke arahku. Lalu pada ponsel yang berada dalam genggaman.
"Kakak ... mendengarnya?"
Seperti tak berniat menjawab pertanyaanku, Kak Vincen kembali memusatkan pandangan ke arah pohon mangga di seberang kolam.
Dari gerak geriknya aku bisa tahu, kalau Kak Vincen memang mendengar semua yang kuucapkan tadi.
Uh, dasar bodoh. Kenapa harus seteledor ini sih, aku.
"Eum, Kak ...."
"Nanti Kakak akan keluar kota untuk meninjau pembangunan proyek. Kamu bisa kan, jaga diri kamu dan Nari selama Kakak tidak ada?"
"I—ya, Kak. Bisa."
Beginilah aku, tiap kali berhadapan dengan mata coklat terang itu selalu dibuat mati kutu. Untuk bicarapun akan gagu.
Kak Vincen adalah seorang pebisnis, yang melanjutkan bisnis almarhum Papa. Bergerak di bidang real estate, dan kini cabangnya sudah merambah ke beberapa kota hingga luar negeri.
Laki-laki ini sosok yang sempurna jika ditelisik lewat kasat mata. Bahkan sikapnya terhadapku dan Mama pun luar biasa. Namun, kenyataan yang baru kuketahui semalam, membuatku prihatin pada laki-laki baik ini.
Aku tidak rela melihat kakakku menderita karena mencintai istri orang. Juga tidak akan membiarkannya menghancurkan rumah tangga orang. Aku sebagai korban pelakor, tahu sekali rasanya.
Perih.
"Kak ... boleh Yasmine tanya sesuatu?" cicitku dengan jantung berdebar. Takut kalau apa yang akan kutanyakan nanti mengundang kemarahan Kak Vincen.
"He'em."
Dari jawaban dan raut wajahnya sepertinya mood Kak Vincen sedang tidak baik. Apa sebaiknya kuurungkan saja sampai Kak Vincen kembali dari luar kota. Ya. Aku tidak boleh gegabah.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Eum, itu ... Kakak hati-hati saat berangkat, ya."
"Apa itu sebuah pertanyaan?"
Glek.
Mendapat serangan dari Kak Vincen, aku hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Eum, itu Kak, sebenarnya aku mau izin pulang ke rumah ... untuk mengambil barang-barangku dan Nari ...."
"Tunggu selepas aku kembali dari luar kota," titahnya tak terbantahkan.
What!
"Ta—pi, Kak, Nari kan harus sekolah. Seragam yang akan dipakai besok masih ada di rumah ...."
Tanganku mulai dibasahi keringat dingin, untuk menyamarkannya aku terpaksa meremas dres yang kukenakan.
"Bersiaplah. Aku antar sekarang!" Lagi-lagi Kak Vincen berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Seenak jidatnya saja. Membuat dosaku semakin bertambah karena harus mengumpatinya pagi-pagi.
Apalagi yang bisa kulakukan selain itu. Membantahnya? Kurasa bukan pilihan yang tepat. Aku harus berpikir beberapa kali untuk melakukannya.
Tapi, kalau kami ke rumah sekarang, bagaimana kalau nanti Kak Vincen bertemu dengan Mas Asraf? Pasti dia akan kembali menghajarnya.
Apa kutolak saja ajakan kakak. Tapi, iris khas lagi tajam itu, untuk beradu pandang saja aku tidak mampu. Kalau sedang memasang mode serius, semenakutkan itu Kak Vincen bagiku.
"Baik, Kak. Kalau begitu, aku bangunkan Nari dulu."
"Kita berdua saja yang pergi," sanggahnya sembari mengusap kepalaku sekilas dan langsung berlalu ke dalam.
Meninggalkanku yang tengah kebingungan.
"Baru beberapa menit, moodnya sudah berubah. Aneh." Aku menatap bingung pada punggung kekar yang kemudian menghilang di balik pintu.
"Cepat! Kakak tunggu di mobil! Nanti kita sarapan di jalan saja!" teriaknya dari dalam, yang membuatku kaget dan hampir jatuh ke kolam andai tidak sempat menyeimbangkan diri.
"I—ya, Kak!"
.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, mobil yang dikendarai Kak Vincen mulai berbelok memasuki halaman rumah yang kutinggali selama menikah dengan Mas Asraf.
Baru saja kami keluar dari mobil, sebuah mobil lainnya juga ikut memasuki halaman. Mobil suamiku. Yang sebentar lagi akan menjadi mantan. Ya. Mantan.
Berbeda denganku yang terlihat cuek. Mas Asraf seperti kaget melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. Matanya membeliak, melihat dengan siapa aku datang.
"Yasmine? Kamu habis dari mana? Kenapa bisa sama dia?" Pertanyaan beruntun itu tentu saja dari Mas Asraf. Siapa lagi.
"Aku yang seharusnya bertanya, kamu habis dari mana, Mas? Apa dari tempat wanita itu? Maksudku, gundikmu."
Pertanyaan yang ajukan membuat Mas Asraf tampak gelagapan. Hufft. Lagi-lagi boroknya harus ketahuan.
"Oh, itu ... Mas habis lembur di kantor."
"Oh, pasti sangat melelahkan, ya? Sampai tidak sempat membersihkan noda lipstick di kemejamu."
.
Bersambung ...