"Perasaan terlarang yang kumiliki tak selamanya indah. Bahkan kerap kali menyakiti. Meski begitu, aku tetap menikmatinya." Vincenzo Andera
.
"Kakak, Mas Asraf ... Mas Asraf ...."
Aku yang sedang berada di kantor, seketika panik setelah menjawab panggilan dari Yasmine. Wanita yang masih menjadi adik kecil di mataku meski sekarang dia sudah tumbuh dewasa, menikah, serta memiliki anak.
Bagaimana bisa tenang, sementara di seberang sana suaranya timbul tenggelam dalam isak tangis. Awalnya aku mengira, Asraf yang sudah sembilan tahun menjadi suaminya sedang dalam bahaya. Hingga Yasmine tampak begitu panik saat menghubungiku.
"Yas, dengerin Kakak, ya. Sekarang coba tenang dulu. Tarik nafas, hembuskan. Ulangi sampai kamu merasa tenang. Terus baru cerita sama kakak. Oke."
Aku memberi intruksi hingga suara tarikan dan hembusan nafas Yasmine terdengar di seberang sana.
"Sekarang gimana, sudah merasa lebih baik?" tanyaku setelah mendengar helaan panjang.
"Sudah, Kak."
"Kalau begitu, sekarang cerita sama Kakak apa yang terjadi dengan Asraf?"
"Mas Asraf selingkuh ... dengan sekretarisnya."
Hening.
Kali ini aku yang harus menghela nafas.
Butuh beberapa detik untuk mencerna semuanya. Otakku tidak bisa langsung menerima perkataan Yasmine mentah-mentah.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanyaku dengan suara tertahan dan tangan mengepal.
"Temanku satu kantor dengan Mas Asraf. Dia punya jabatan tak kalah penting dari Mas Asraf, jadi dia tahu semuanya. Dia juga mengirimkan foto-foto kedekatan Mas Asraf dengan wanita itu."
Perkataan Yasmine diakhiri isak tangis yang tertangkap jelas oleh telingaku. Jangan tanya hati seorang kakak mengetahui adiknya sedang dalam kesakitan.
Hancur.
"Kamu ingin Kakak melakukan apa? Membuat suami kamu menderita atau ... membunuhnya?" tanyaku tidak main-main. Berharap Yasmine mau memilih salah satu dari dua pilihan yang keberikan.
Berani sekali b*****h itu bermain-main dengan perasaan adikku.
"Jangan, Kak. Cukup temani aku ke kantor Mad Asraf besok. Aku punya rencana sendiri."
"Tapi, apa kamu yakin?"
"Yakin, Kak. Kali ini percaya sama sama aku. Aku bukan wanita lemah yang bisa diperlakukan semena-mena." Suara Yasmine mulai terdengar lebih tegas dari sebelumnya.
Mau tidak mau aku harus mengalah dan membiarkannya mengambil keputusan sendiri kali ini.
"Baiklah. Tapi, jangan larang Kakak untuk membantu. Kamu tahu kan, kita harus saling membantu satu sama lain?"
"Tentu. Aku tidak mungkin melupakan itu. Kalau gitu, Yasmine tutup dulu, ya. Mau jemput Nari di sekolah."
"Eum."
"Yasmine sayang Kakak. Assalamualaikum."
Tut.
Deg.
"Wa—waalaikumsalam."
Bruak!
Aku menggebrak meja begitu kuat, hingga tangan terasa perih. Tapi, ini tidak seberapa dibandingkan dengan kata-kata terakhir Yasmine yang berhasil membuat sesuatu mulai berdetak kencang di dalam sana.
Juga pengkhianatan yang laki-laki itu lakukan terhadap adikku. Andai Yasmine memberi izin, detik ini juga aku mencari dan menghabisi b******n itu.
Ya. Aku dan Yasmine adalah saudara. Namun, dalam tubuh kami tidak mengalir darah yang sama. Bahkan fisik kami tidak memiliki kemiripan sama sekali. Warna mataku coklat terang dengan wajah khas timur tengah serta perawakan tubuh yang kekar, salinan dari Papa.
Sementara Yasmine, bermata hazel, dengan kulit putih gading, rambut hitam legam dengan tubuh mungil namun sexy.
Yasmine anak angkat di keluargaku, dan kami tumbuh bersama hingga dewasa. Kami saling menyayangi satu sama lain layaknya adik kakak. Hingga entah kapan perasaan terlarang itu mulai tumbuh dihatiku. Yang membuatku menderita sampai sekarang.
Aku mencintai wanita bermata hazel itu. Yasmine Roselia, adik angkatku sendiri. Mama sudah lama tahu, dan sangat menentang perasaan terkutuk itu.
Namun, melihat ketulusanku dan sebuah alasan lain yaitu tidak ingin kehilangan Yasmine. Akhirnya Mama memberi restu. Toh, kami bukan saudara kandung.
Sejak hari itu aku dan Mama sudah bersiap-siap untuk menyampaikan kabar mengejutkan itu pada Yasmine di hari ulang tahunnya yang beberapa Minggu lagi. Harap-harap cemas hatiku menerka untuk sebuah jawaban yang akan kuterima.
Tiba hari H, kenyataannya jauh lebih mengejutkan dari perkiraan kami. Aku yang dibuat speechless oleh Yasmine. Di mana gadis yang mulai berusia 19 tahun itu membawa seorang laki-laki ke hadapanku dan Mama.
"Ma, Kak Vincen, kenalin, ini Mas Asraf, pacarku. Di hari ulang tahunku ini, Mas Asraf bermaksud melamarku untuk menjadi istrinya," tutur Yasmine dengan mata berbinar-binar kala itu.
Aku yang mendengarnya bagai dihantam palu godam ribuan kali. Sakit. Jika bukan karena dua wanita yang harus kupastikan kemanan dan kebahagiaannya. Mungkin mati adalah jalan yang tepat.
"Asraf bajingaan ...! Berani sekali menyakiti adikku!"
Aku berani bertaruh, Yasmine jauh lebih unggul dibandingkan selingkuhan b******n itu. Dan laki-laki itu hampir saja mati jika saja Yasmine tidak menghentikanku kemarin.
.
"Kamu sedang apa malam-malam di sini?" tanya Mama yang tiba-tiba muncul.
Aku yang duduk dan memikirkan banyak hal hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mama.
"Duduk, Ma."
Ya. Taman belakang yang langsung terhubung dengan area dapur adalah tempat favoritku di malam hari.
"Yasmine dengan kamu ke sini?"
"Iya, Ma. Dia dan Nari kangen sama Mama." Aku terpaksa berbohong karena Yasmine belum ingin menceritakan semuanya pada Mama.
"Sudah saatnya kamu mengambil langkah untuk kehidupan kamu, Vincen. Ingat, usia kamu sudah tidak muda lagi. Lihatlah, sekarang Mama sudah tua, sebelum pergi, Mama ingin melihat anak-anak Mama menikah dan memiliki keluarga, agar Mama bisa pergi dengan tenang."
"Tapi, dia bagaimana Ma?"
"Lupakan dia, Vincen, dia sudah menikah. Sudah saatnya kamu melupakannya dan membuka hati untuk orang lain."
"Tapi, dia tidak bahagia, Ma. Dia menderita, suaminya seorang pengkhianat. Aku berniat untuk merebutnya kembali. Laki-laki itu tidak bisa membuatnya bahagia.
"Vincen apa yang kamu katakan!"
Maaf, Dek. Kakak terpaksa mengatakan ini semua pada Mama.
"Jawab Mamam, Vincen. Maksud kamu apa?"
"Yasmine kabur dari rumah, setelah mengetahui Asraf bermain gila dengan sekretarisnya," sahutku tanpa menoleh ke arah Mama. Tidak berani, lebih terpatnya.
"Apaa?! Kamu tidak bohong, kan? Terus kenapa adikmu tidak menceritakan apapun pada Mama? Apa dia menganggap Mama ini orang lain? Biar Mama temui dia sekarang!"
"Ma," cegahku saat wanita di sampingku sudah bersiap pergi menemui Yasmine.
"Jangan sekarang, Ma. Kondisi Yasmine sedang tidak baik. Dia tidak memberitahu Mama bukan karena tidak menganggap Mama, tapi, dia takut membuat Mama khawatir."
"Tapi, Vin ..."
"Percaya sama aku, Ma. Besok atau lusa, Yasmine pasti akan memberitahu Mama. Sekarang dia hanya butuh untuk menenangkan diri."
"Jaga adik kamu, Vin. Mama tidak rela siapapun menyakitinya," ujar Mama dengan suara serak dan menghambur ke pelukanku. Bahunya naik turun, sesakit itu mengetahui putri tersayangnya telah disia-siakan. Aku tahu rasanya. Sakit sekali.
"Pasti, Ma. Siapapun yang menyakitinya akan berhadapan denganku."
.
Bersambung ...