Daniel Alexander Williams, pria berusia 30 tahun dengan aura kharismatik yang sulit diabaikan menatap pelayan bar itu dengan santai, seolah-olah kekacauan yang baru saja terjadi bukanlah masalah besar. Pria yang memiliki wajah tegas dengan rahang kuat, dan mata gelap yang selalu sulit ditebak, segera merogoh dompet kulit hitam dari sakunya, lalu menarik beberapa lembar uang tunai. Tanpa tergesa, ia menyerahkannya kepada pelayan. “Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengganti kerugiannya.”
Pelayan itu terlihat ragu, tapi akhirnya menerima uang tersebut. “Terima kasih, Tuan.” Ia membungkuk sedikit, kemudian pergi.
Sementara itu, Sophia berdiri terpaku. Tubuhnya ramping dengan gaun merah yang membungkusnya sempurna, menonjolkan kulitnya yang sehalus porselen. Matanya, yang biasanya lembut seperti cokelat hangat, kini menatap Daniel dengan sorot terluka. Jantungnya masih berdetak kencang, bukan karena kejadian barusan, tetapi karena intensitas Daniel yang selalu membuatnya sulit bernapas. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, tangan Daniel sudah melingkari pergelangan tangannya.
“Daniel, apa yang kamu lakukan?”
“Kita pergi dari sini.” Nada suara Daniel tidak memberi ruang untuk penolakan.
Ia menarik Sophia keluar dari bar, melewati kerumunan yang kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Sepatu hak tinggi Sophia mengetuk lantai kayu, melawan tarikannya, tetapi ia tahu itu sia-sia. Daniel tidak pernah membiarkan siapa pun menentangnya.
Begitu mereka tiba di luar, angin malam yang dingin menerpa wajah mereka. Sophia menggigil sedikit, tetapi ia terlalu marah untuk memedulikannya. “Lepaskan, Daniel!” serunya, mencoba menarik tangannya.
Daniel berhenti melangkah, tetapi tidak melepaskannya. Ia berbalik, menatap Sophia dengan mata gelap yang kini terlihat dingin dan tajam. “Kenapa? Apa kamu takut aku akan melakukan sesuatu?”
Sophia mendongak, menatap langsung mata pria itu. “Apa lagi yang kamu mau dariku, Daniel? Aku sudah cukup lelah dengan ini semua. Lepaskan aku!”
Daniel tertawa getir mendengar itu. “Lelah?” Suaranya tajam seperti belati.
Sophia memejamkan matanya sejenak, mengingat kembali lima tahun terakhir. Bagaimana ia jatuh cinta pada pria yang dulu terlihat begitu menjanjikan—pria dengan senyum menawan yang bisa membuat siapa pun lupa akan dunia. Tetapi semakin lama ia bersama Daniel, semakin ia menyadari bahwa cinta itu seperti penjara. Pria itu selalu dingin, tidak pernah benar-benar mencintainya dengan tulus.
“Tolong biarkan aku pergi, Daniel. Aku bukan boneka yang bisa kamu mainkan sesukamu. Aku lelah … lelah selalu menuruti semua tuntutanmu, lelah menghadapi sikap dinginmu yang tidak pernah berubah.”
“Jadi, kamu ingin memutuskan hubungan denganku hanya karena aku tidak memenuhi harapanmu?”
“Bukan karena itu. Aku ingin memutuskan hubungan ini karena aku sadar aku pantas mendapatkan yang lebih baik. Kamu tidak pernah menghargai apa pun yang aku lakukan, Daniel. Jadi, lebih baik kita akhiri semua ini.”
Daniel menatapnya lama, sebelum ia berkata, “Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Tapi ingat, Sophia, jika suatu saat kamu kembali menemuiku, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”
Mencoba menahan rasa sakit yang menghujam hatinya. Sophia tahu ini akan sulit, tetapi ia harus melakukannya. “Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menemuimu lagi, Daniel. Tidak kali ini.”
Sophia berbalik untuk pergi, tetapi sebelum melangkah lebih jauh, ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata, “Apa kamu tidak akan menahanku?”
Daniel tersenyum, tetapi senyum itu lebih dingin dari angin malam. “Untuk apa aku menahanmu? Aku tahu kamu tidak akan pernah bisa hidup tanpaku.”
Ucapan itu menusuk Sophia, tetapi kali ini, ia tidak membiarkan dirinya jatuh. Ia memutar tubuhnya lagi menghadap Daniel, mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi. “Aku yang tidak bisa hidup tanpamu, atau kau yang tidak bisa hidup tanpaku?”
Daniel terdiam sesaat. Ia hanya menatap Sophia nanar. “Kita lihat saja nanti.”
Sophia menelan ludah, menahan rasa sakit di dadanya. “Baiklah, kita lihat saja nanti. Selamat tinggal, Daniel.”
Dengan langkah tegap, ia berjalan menuju taksi yang menunggunya di pinggir jalan.
Sementara Daniel tetap berdiri membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menatap ke arah taksi yang perlahan menghilang. Namun, di balik ekspresinya yang dingin, ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dirinya—sesuatu yang tidak pernah ia akui bahkan kepada dirinya sendiri.
***
Langkah kaki Sophia terdengar berat saat ia memasuki rumah. Kunci pintu yang diputar dengan hati-hati seolah berusaha menyembunyikan kepulangannya. Namun, tidak cukup untuk menghindari tatapan kedua orang tuanya yang duduk di sofa ruang tamu. Lampu ruang tengah yang terang memperlihatkan raut serius Robert dan Rose, yang langsung mengalihkan perhatian dari koran dan televisi saat putri mereka muncul.
“Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang,” tanya Robert dengan tegas, khas seorang ayah yang tak mentolerir kesalahan.
Sophia terdiam sejenak, menggantungkan tas di gantungan dekat pintu. Napasnya masih terasa berat setelah perjalanan pulang.
“Jangan bilang kamu menemui lelaki itu lagi,” selidik Robert, kali ini dengan nada lebih tajam.
Sophia mengangkat wajahnya, menatap langsung ayahnya. “Iya, Ayah benar. Aku memang menemui dia.”
Mendengar itu, Robert menghempaskan koran yang dipegangnya ke meja. Bunyi keras koran menghantam permukaan kayu membuat ruangan terasa lebih sunyi. “Sudah berapa kali ayah katakan? Kamu tidak boleh menemui lelaki itu! Dia tidak baik untukmu, Sophia!”
“Tenang saja, Ayah,” jawab Sophia dengan napas berat. Matanya terlihat lelah, tetapi bibirnya melengkungkan senyum getir. “Ini terakhir kalinya aku menemui dia.”
“Apa maksudmu, Sophia?” Kali ini Rose yang berbicara.
Sophia tersenyum, tetapi senyumnya tidak mampu menyembunyikan luka yang mengendap di dalam hatinya. “Aku dan dia sudah berakhir.”
Mendengar itu, Robert menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu mengangguk puas. “Hm, baguslah. Akhirnya putriku sadar juga. Lelaki miskin seperti dia memang tidak pantas untukmu.”
Rose ikut menimpali, “Iya, ayahmu benar. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik.”
Namun, di balik wajah Sophia, sesuatu terlihat retak. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, memandangi lantai rumah yang terasa lebih dingin dari biasanya.
“Jadi, bagaimana dengan perjodohan yang sudah ayah tawarkan untukmu, Sophia?” Robert berkata lagi ketika melihat anaknya terdiam.
Pertanyaan itu menghentikan napas Sophia. Ia mendongak, menatap ayahnya dengan mata lebar. Jantungnya berdegup kencang, seperti baru saja dihantam badai.
“Ayah bercanda, ‘kan?”
Robert menggeleng, matanya menatap putrinya dengan serius. “Ayah tidak bercanda. Calon pasanganmu sudah dipilih, dan dia jauh lebih baik daripada lelaki yang baru saja kamu tinggalkan.”
“Siapa?” Sophia bertanya dengan tajam.
Robert tersenyum, senyum kemenangan yang membuat Sophia merasa seperti pion dalam permainan catur. “Kamu akan tahu besok.”