Bab 3 : Pertemuan Tak Terduga

1261 Words
Cermin besar di sudut kamar memantulkan bayangan Sophia yang tengah bersiap. Jemari rampingnya dengan cermat mengancingkan perhiasan sederhana di lehernya—sebuah kalung perak kecil dengan liontin berbentuk bunga yang pernah diberikan almarhum neneknya. Gaun satin biru langit yang ia kenakan pas di tubuh, mengalir anggun hingga menutupi lutut. Rambut hitam yang biasanya tergerai, kali ini digulung ke atas dengan beberapa helaian dibiarkan jatuh. Namun, matanya yang cokelat gelap menyiratkan kegelisahan. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Di seberang kamar, Rose berdiri dengan tangan terlipat di d**a, mengamati putrinya yang tengah berdandan. “Kamu terlihat cantik, Sophia.” Sophia hanya mengangguk. “Apakah aku harus bertemu dengannya sekarang?” Rose menghela napas. “Ini untuk masa depanmu, Sophia.” Robert muncul di ambang pintu, mengenakan setelan jas hitam yang tidak terlalu sering ia pakai. “Waktunya berangkat,” katanya tegas. “Jangan membuat keluarga ini terlihat buruk di hadapan mereka.” Sophia menahan komentar yang hampir meluncur dari bibirnya. Ia mengambil tas clutch kecilnya dan mengikuti kedua orang tuanya ke luar rumah. Mobil hitam mengkilap milik Robert meluncur tenang di sepanjang jalan raya kota Austin yang mulai sepi. Di dalam mobil, suasana terasa berat. Sophia duduk di kursi belakang, memperhatikan bayangan gedung-gedung tinggi yang melesat di luar jendela. Tangannya menggenggam erat tas kecilnya, seolah itu bisa menenangkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Rose yang duduk di samping Robert di depan, sesekali melirik ke belakang, memastikan putrinya tetap tenang. Sementara Robert hanya fokus pada kemudi. “Ingat, Sophia. Jangan menunjukkan sikap kasar. Orang yang akan kamu temui ini memiliki pengaruh besar. Jangan membuat malu keluarga kita.” Sophia hanya mendesah pelan. Ia tidak membalas, tetapi pikirannya melayang jauh. Siapa lelaki yang akan ia temui? Dan mengapa semua ini terasa seperti hukuman? Setelah beberapa menit, mobil berhenti di depan sebuah mansion megah. Bangunan itu berdiri menjulang dengan dinding putih berornamen klasik, lengkap dengan pilar-pilar besar di depan pintu masuknya. Di gerbang, tulisan ‘Williams Mansion’ terukir di atas papan emas besar yang berkilauan di bawah lampu malam. Mata Sophia membelalak, sementara Rose menutup mulutnya, terkejut melihat kemewahan yang terpampang di depan mereka. Bahkan Robert, yang biasanya tenang, terlihat kehilangan kata-kata sejenak. “Ini ... ini tempat mereka?” gumam Rose, suaranya hampir tak terdengar. Robert hanya mengangguk, menarik napas dalam sebelum membuka pintu mobil. “Jaga sikap kalian. Kita di sini bukan sebagai tamu biasa.” Sophia turun dari mobil dengan hati-hati, tumit tinggi sepatunya mengetuk pelan jalanan berlapis batu. Ia mendongak, menatap mansion itu sekali lagi. Jendela-jendela besar dengan tirai berat menjuntai indah. Pintu besar terbuka, dan seorang pria tua berusia sekitar lima puluhan melangkah keluar. Penampilannya rapi dengan setelan jas abu-abu yang dipadukan dasi merah. “Selamat malam, Tuan dan Nyonya,” sapanya sopan. “Saya Lewis, kepala pelayan keluarga Williams. Tuan besar sedang menunggu kalian di ruang utama. Silakan masuk.” Rose mengangguk kikuk, sementara Robert menjawab dengan formalitas. “Terima kasih, Lewis.” Sophia mengikuti mereka masuk, matanya terus memandang sekeliling. Interior mansion itu tidak kalah mengesankan. Lantai marmer yang berkilauan memantulkan lampu gantung kristal besar yang tergantung di langit-langit. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan klasik berbingkai emas, sementara karpet merah tebal membentang di sepanjang lorong menuju ruang utama. Langkah kaki mereka terhenti di depan pintu ganda besar yang dijaga oleh dua pelayan lain. Lewis membuka pintu itu perlahan, sebuah ruang luas dengan sofa kulit mewah, perapian besar, dan meja panjang berisi minuman sudah terlihat jelas. Memperlihatkan seorang pria tua yang berjalan perlahan dengan tongkat kayu berukir di tangan kanannya. Pria itu adalah William Arthur Williams, pemilik Williams Group, salah satu konglomerasi terbesar di negeri ini. “Selamat malam, Tuan Robert, Nyonya Rose, dan tentu saja, Sophia.” William menyambut mereka. Robert melangkah maju, membungkuk hormat sambil menjabat tangan William. “Selamat malam, Tuan William. Terima kasih telah menerima kami di rumah Anda yang indah.” “Keluargaku telah menunggu untuk bertemu dengan kalian.” Tatapan William beralih ke Sophia, matanya mengamati gadis itu sejenak. “Kamu pasti Sophia.” Sophia mengangguk sopan, meski hatinya berdegup kencang. “Selamat malam, Tuan William. Terima kasih telah mengundang kami.” William tersenyum tipis, lalu melirik ke arah pintu. “David, Edward, masuklah.” Suara langkah mendekat mengiringi dua pria yang masuk ke dalam ruangan. Yang pertama adalah seorang pria muda dengan postur tegap, mengenakan setelan navy blue yang terjahit sempurna. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, alis hitam tebal, dan sepasang mata abu-abu dingin yang menatap Sophia sejenak sebelum beralih pada keluarganya. “Ini David,” ujar William sambil memperkenalkan pemuda itu. “Cucuku, dan orang yang ingin aku perkenalkan kepada Sophia.” David melangkah mendekat, mengulurkan tangan. “David,” sapanya. Sophia menyambut uluran tangan itu dengan ragu-ragu. Jemarinya yang halus bersentuhan dengan tangan David yang dingin dan kokoh. “Senang bertemu dengan Anda,” balasnya. David hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Namun, tatapannya yang tajam membuat Sophia merasa seolah ia tengah dinilai. Di belakang David, seorang pria lain masuk, mengenakan setelan abu-abu yang lebih santai. Wajahnya menunjukkan usia yang sedikit lebih tua, mungkin sekitar akhir empat puluhan. Rambut cokelat gelapnya disisir dengan rapi, dan senyumnya sedikit lebih hangat dibandingkan David. “Ini Edward,” lanjut William. “Anakku yang kedua.” Edward melangkah maju, senyum ramah menghiasi wajahnya. “Selamat malam. Saya Edward, paman dari David.” Rose dan Robert menyambut dengan sopan, sementara Sophia hanya mengangguk. Edward tampak lebih terbuka, berbeda dari kesan dingin yang ditampilkan David. “Silakan duduk,” ujar William, mempersilakan mereka ke sofa mewah di tengah ruangan. Pelayan segera datang membawa minuman. Saat semua sudah duduk, William mulai berbicara. “Sophia, aku tahu ini mendadak, tetapi aku yakin perjodohan ini adalah keputusan yang tepat. David adalah penerus Williams Group. Dia tidak hanya berbakat, tetapi juga pria yang bertanggung jawab.” Sophia melirik David yang duduk di sebelahnya. Pria itu tetap diam, matanya fokus pada cangkir teh di tangannya. Hatinya sedikit gelisah, tetapi ia berusaha menjaga sikapnya. “Saya dengar, Anda kehilangan orang tua Anda?” tanya Rose tiba-tiba. David mengangguk perlahan. “Iya. Orang tua saya meninggal dalam kecelakaan lima tahun lalu.” Ada keheningan sejenak di ruangan itu. Sophia dapat merasakan luka dalam yang masih tersisa di balik kata-kata David yang singkat. Edward yang duduk di sisi lain, mencoba mencairkan suasana. “David memang kehilangan banyak hal, tetapi dia selalu kuat. Bahkan sekarang, dia sudah membawa banyak perubahan besar di perusahaan kami.” William mengangguk setuju. “Dia adalah kebanggaanku.” Percakapan mereka terhenti ketika Lewis, kepala pelayan mansion, mendekati William. Pria tua itu membungkuk hormat sebelum berbicara. “Permisi, Tuan.” “Ada apa, Lewis?” tanya William, alisnya sedikit terangkat. “Tuan muda keempat sudah kembali.” Ruangan seketika hening. William menatap Lewis dengan tatapan yang sulit dipercaya. “Benarkah? Suruh dia masuk,” ujarnya, suaranya bergetar karena tak sabar. Pasalnya, sudah lima tahun anaknya itu pergi, dan sekarang akhirnya ia kembali lagi. “Baik, Tuan,” jawab Lewis, membungkuk lagi sebelum bergegas meninggalkan ruangan. Edward yang duduk di seberang William, terlihat jelas tidak senang. Rahangnya mengeras, dan ia bersandar dengan kasar ke sofa. “Apa dia benar-benar harus kembali sekarang?” gumam Edward dingin, meski cukup keras untuk didengar. Tatapan William menyipit, memperingatkan Edward agar tidak bicara lebih jauh. Namun, ketegangan sudah menyebar ke seluruh ruangan. Pintu ruang utama terbuka kembali, kali ini langkah kaki terdengar lebih berat. Sepatu pantofel menginjak lantai marmer dengan ritme yang stabil. Semua kepala berbalik serentak ke arah pria yang masuk. Sophia terpaku. Napasnya tertahan ketika pandangannya beradu dengan netra pria itu. Waktu terasa berhenti sejenak, pikirannya melayang pada semua kenangan pahit yang ingin ia lupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD