Persiapan Menuju Rumah Pak Lik Winarno

1433 Words
"Sudah, Bu, Titah pamit ya," kata Titah, sambil tersenyum pada Ibu Sarah. "Iya, nak. Hati-hati di jalan, ya," jawab Ibu Sarah, tangannya terulur untuk membelai rambut Titah. "Iya, Bu..." Titah mengangguk, matanya berbinar. "Assalamu'alaikum," Bara, Titah, Daffa, dan Daffi mengucapkan salam serentak, lalu mencium punggung tangan Ibu Sarah dengan hormat. "Waalaikumsalam," Ibu Sarah membalas salam mereka dengan hangat, senyumnya merekah. Keempat sahabat itu—Titah, Bara, Daffa, dan Daffi—berjalan menuju halte untuk naik angkot menuju sekolah. Suasana pagi itu terasa riang, diiringi canda tawa mereka. Sesampainya di sekolah, mereka berpisah, karena ruang ujian untuk ujian kelulusan sekolah mereka terpisah. Bunyi bel tanda ujian dimulai memecah kesunyian. Setengah jam berlalu, mereka fokus mengerjakan soal ujian. Akhirnya, bel istirahat berbunyi! Mereka bergegas menuju kantin, bertemu kembali untuk bertukar pikiran dan membahas soal ujian yang telah dikerjakan. SMP Garuda – Kantin Sekolah “Gimana tadi ulangannya?” tanya Titah, membuka percakapan. Bara langsung menyahut, “Lancar, dong! Kalian gimana?” Daffa dan Daffi menjawab bersamaan, “Alhamdulillah, lancar juga.” “Em… Lancar juga, ya,” Daffi menyindir Daffa, nada bicaranya sedikit meragukan. Daffa langsung cemberut, “Ih… Daffi! Kita kan saudara kembar, ngomongnya gitu amat!” Daffi hanya menjawab singkat, “Kenyataan, Fa.” Titah, yang melihat pertengkaran kecil itu, langsung menengahi, “Udah, udah! Bisa nggak kalian berdua nggak berantem sehari aja? Puyeng kepala gue!” Daffa masih ingin protes, “Tapi, Tah…” “Udah, Fa. Sekarang kita makan aja, ya, Tah?” Titah mengalihkan perhatian. “Setuju!” jawab Titah. “Ya udah, pesan aja. Biar Bara yang bayar,” Bara menawarkan. “Haaa… Serius, nih, Bar?” Daffi terkejut. Biasanya Bara tidak pernah mentraktir. Bara tersenyum, “Iya, dong.” Daffa penasaran, “Tumben, nih, Bar? Dalam rangka apa ini?” Bara hanya tersenyum misterius, “Enggak dalam rangka apa-apa. Pesan aja!” Daffa dan Daffi langsung semangat memesan makanan. Dalam hati, Bara menghela napas. Ia sebenarnya ingin memberitahu sahabat-sahabatnya tentang kepindahannya ke Turki, tetapi belum berani. “Sorry, guys. I have to lie because I can’t bear to tell you the news of my separation. I need time to tell you about my move to Türkiye,” batin Bara. Setelah beberapa saat, Titah memulai pembicaraan lagi, “Oh ya, gue mau tanya nih.” Daffa dan Daffi serempak bertanya, “Tanya apa, Tah?” “Kalian kalau lulus dari SMP Garuda, mau ke SMA mana? Kalau gue sih, SMA Garuda,” jawab Titah. Daffa langsung berseru, “Ih, kok kita sehati, sih, Tah! Gue juga mau masuk SMA Garuda!” Daffi dan Bara pun menyetujui, “Gue juga!” Titah senang, “Oke, kalau begitu kita sekolahnya samaan lagi, ya!” “Oke!” seru mereka berempat, kompak. Daffa tiba-tiba teringat sesuatu, “Eh, Titah, gue kira tadi mau nanya ke rumah Pak Lik Winarno jam berapa, atau ada kabar gembira, misalnya latihan ujian sekolahnya libur, atau ada rencana khusus gitu.” Titah menjelaskan, “Eh, kalau latihan di rumah Pak Lik tetap, Fa. Enggak ada liburnya, kecuali jadwal atau jamnya aja yang dikurangi.” Daffa hanya bergumam, “Hmm…” Titah mengalihkan pembicaraan, “Udah, nanti aja bahasnya. Nah, itu dia, makanannya udah datang. Sekarang waktunya…” “MAKAN!” seru mereka berempat, kompak lagi. Setelah istirahat selesai, mereka kembali ke kelas untuk mengerjakan ujian terakhir di sekolah. Beberapa Menit Kemudian… Mereka pulang sekolah bersama, menaiki angkot yang sama. Sesampainya di pertigaan dekat rumah Titah, Daffa dan Daffi pamit untuk menuju rumah Bara, sebelum akhirnya bersama-sama menuju rumah Pak Lik Winarno. Di Rumah Titah (Pak Nano) “Oke, nanti aku ke rumah kalian ya, Kembar. Seperti biasa, kan?” tanya Titah. “Iya, Tah,” jawab Daffi. “Ya sudah, kalau begitu gue masuk ya, Dah,” pamit Titah. “Dah,” jawab Daffa dan Daffi bersamaan. Di Rumah Bara (Pak Ferdi) “Nah, Bara, sudah sampai di rumah. Ya, tinggal kamu sendiri deh,” kata Daffa. “Iya, Fa. Nggak apa-apa kok. Ya sudah, gue jalan pulang ya,” jawab Bara. “Oke,” kata Daffa dan Daffi. Di Rumah Bara (Pak Raihan) Suasana rumah Pak Raihan tampak tegang. Pak Raihan dan Bu Rosalinda sedang sibuk mengepak koper-koper besar. “Sudah semua, kan, Mah, barang-barang Bara yang mau dibawa ke Turki?” tanya Pak Raihan, memastikan. “Sudah, Pah,” jawab Bu Rosalinda. “Sekarang tinggal kita tunggu Bara pulang.” Saat itu juga, Bara tiba di rumah. “Assalamu’alaikum,” sapa Bara. “Waalaikumsalam,” jawab Pak Raihan dan Bu Rosalinda bersamaan. Bara langsung memperhatikan koper-koper besar itu dengan heran. “Loh, Pah, Mah… ini koper banyak banget! Papa atau Mama mau ke mana? Pasti mau keluar kota atau keluar negeri, dan ada kerjaan juga, ya kan, Pah, Mah?” tanyanya polos. Pak Raihan menatap Bara dengan serius. “Bukan Mama dan Papa, tapi kamu.” Bara terbelalak, “Haaa… Aku? Pah, kan kemarin sudah Bara bilang, kalau Bara mau lanjutkan SMA di sini!” Bu Rosalinda mencoba menenangkan Bara, “Bara…” Bara memotong, “Sudah, ya, Mah. Nggak usah bujuk Bara. Lagian juga, Bara masih ujian kelulusan sekolah.” Pak Raihan menahan amarahnya, suaranya meninggi, “Bara… Kamu!” Ia hampir saja menampar Bara karena kesal dengan sikap anaknya yang selalu membantah. Bara, yang merasa tersudut, langsung berbalik dan pergi meninggalkan rumah. “Ah, sudahlah,” gumamnya. Bu Rosalinda hanya bisa menangis, “Sayang, Bara…” Di tengah jalan, Bara bergumam, “Aku langsung ke rumah Pak Lik Winarno saja deh.” Di Rumah Daffa dan Daffi (Pak Ferdi) “Leh, ayo makan dulu, Leh, sebelum kamu ke rumah Pak Lik Winarno,” ajak Ibu Yanti lembut. “Oke, Mami…” jawab Daffa patuh. Ibu Yanti bertanya pada Daffi, “Fi, kamu sudah selesai makan siangnya?” “Sudah, Mi. Fa, ayo kita berangkat,” jawab Daffi. Daffa protes, “Ih… Daffi, tunggu dulu, dong! Daffa kan mau makan siang dulu. Hari ini makanan kesukaanku, Fi!” Daffi menghela napas, “Hmm… Ya sudah, terserah kamu.” Ibu Yanti heran, “Lho, Leh, mau ke mana?” Daffa menjawab, “Mau ke rumah Pak Lik Winarno.” Daffa sedikit kesal, “Ih… Daffi bisa sabar sebentar nggak, sih? Kakaknya ditungguin, dong!” Daffi menjawab santai, “Lah, emang mau nungguin kamu? Sudah, buruan makannya!” Daffa masih mengeluh, “Ih… Sabar, sama Daffa kamu harus sabar, ya, oke…” “Hmm…” gumam Daffi. Beberapa Menit Kemudian… “Selesai!” seru Daffa setelah menghabiskan makan siangnya. “Ya sudah, Leh, sana berangkat,” kata Ibu Yanti. Daffa mencari Daffi, “Oke, Mami. Eh, tapi Daffi di mana, ya, Mi?” Ibu Yanti ikut mencari, “Lha, iya, ya… Fi… Daffi…!” Daffa menemukan Daffi sedang tidur, “Ih… Mami, lihat deh, Daffi malah tidur! Nyebelin banget, kan, Mi!” Ibu Yanti menyarankan, “Ya sudah, ayo, Leh, kita bangunin saja.” Ibu Yanti membangunkan Daffi, “Fi… Fi… Daffi…” Daffi menguap, “Ha… Em… Iya, Mi? Kenapa?” Daffa menjawab, “Ayo, kita berangkat ke rumah Lik Winarno.” Daffi langsung bangun, “Oh, iya, ya… Ayo, Dah. Mi, kita berangkat ya,” pamit Daffi. “Iya, Leh,” jawab Ibu Yanti. Daffi pamit, “Mami, Daffa pamit berangkat ya.” “Iya, Sayang. Hati-hati di jalan, ya, Leh,” pesan Ibu Yanti. “Iya, Mi. Assalamu’alaikum,” pamit Daffi. “Waalaikumsalam,” jawab Ibu Yanti. Daffa juga pamit, “Ih… Daffi tunggu, kenapa selalu ditinggal sih? Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Leh,” balas Ibu Yanti. Di Rumah Titah (Pak Nano) Ibu Sarah tampak khawatir, “Lho, Tah, kok kamu belum berangkat, Ta? Pak Likmu nanti nunggu kelamaan gimana?” Titah menjelaskan, “Enggak tahu, nih, Bu. Daffa dan Daffi belum datang soalnya.” Tiba-tiba, Ibu Sarah menunjuk, “Eh, ya Allah… Nah, itu mereka!” Titah lega, “Oh, iya, benar, Bu.” Daffa dan Daffi memberi salam, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” (Daffa) dan “Assalamu’alaikum, Tante, Titah…” (Daffi). Ibu Sarah dan Titah membalas salam mereka. Ibu Sarah memberi tahu, “Nah, nduk, niku Daffa dan Daffi sudah datang.” Titah buru-buru pamit, “Oh, ya sudah, Bu. Titah langsung berangkat saja. Enggak enak, soalnya pasti Lik Winarno sudah nunggu.” Ibu Sarah mengingatkan, “Oh, ya sudah, iya, gih sana. Hati-hati.” “Iya, Bu,” jawab Titah. Mereka berpamitan lagi, “Assalamu’alaikum,” (Titah dan Daffi). Daffa protes karena ditinggal, “Ih… Titah, Daffi, tungguin, dong! Masa Daffa ditinggalin, sih!” Ibu Sarah menjawab salam mereka, “Waalaikumsalam…” Titah sedikit kesal, “Ya, buruan, loe, ah! Lambat amat, sudah kaya keong!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD