2 Jam Sebelum Permainan Hari Kedua
"Rigel, dan Vega sudah melakukan pencarian terhadap Betelgeuse saat ini. Sol sedang melakukan penyelidikan terhadap sumber kekuatan gelap yang memasuki bumi. Sementara Capella sedang menuju Kiklios untuk menyampaikan hal ini kepada ibumu," ucap Antares kepada Xynth yang terbaring lemah di kamarnya. "Untuk sekarang, kita berdua sebaiknya tidak pergi kemana pun sampai kaisar tiba."
"Mereka sudah tahu," ujar Xynth padanya dengan suara serak. "Antares, mereka sudah tahu semua tentangku -- tentang pertukaran tubuhku dengan manusia. Aku bisa merasakannya dari visual yang dikirim Betelgeuse. Sosok itu berhasil melihat seluruh pikiran Betelgeuse. Sebentar lagi, mereka mungkin akan tahu tentang lima belas."
Antares bergeming. "Kau tahu kita tidak bisa melakukan apa pun tentang itu saat ini kan Xynth?"
"Lima belas dalam bahaya," kata Xynth lagi, kali ini dengan nada menekan. "Kau harus pergi untuk mengawasi lima belas."
"Mereka memerintahkanku di sini untuk menjagamu," jawab Antares dengan nada ragu. Ia tahu bahwa keselamatan Xynth di atas segalanya, tetapi tubuh Fori juga merupakan tubuh kelima belas putra mahkota dan itu juga sangat penting untuk mereka. "Penyakitmu sedang kambuh. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini."
Xynth menatap tajam ke arah Antares. Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari tempat tidurnya dan segera mengenakan pakaian
"Kau mau ke mana, Xynth? Jangan bilang bahwa kau akan---"
"Aku akan ke kampus," potong Xynth dengan cepat.
"Xynth!" teriak Antares, "jika satu yang terbesar dari mereka sudah memasuki bumi semalam, pasti saat ini sudah banyak dari mereka yang ada di sini. Kau tahu benar bahwa ini akan sangat berbahaya untukmu!"
"Kau harus cepat bersiap, kita akan pergi ke sana!" perintah Xynth tanpa mengacuhkan ucapan Antares sebelumnya.
"Ta-tapi Xynth...."
Antares kemudian menelan lagi maksud ucapannya ketika melihat Xynth sudah menunjukkan wajah sangat serius dan setengah marah. Mau tidak mau, pria itu akhirnya tunduk pada keinginan sang putra mahkota.
---
Hari Kedua Permainan
"Kau tahu kalau semalam banyak terjadi bencana di beberapa negara?" tanya Siska membuyarkan lamunan Fori pagi itu.
Fori menoleh sambil menguap dan langsung berlinangan air mata akibat masih mengantuk. Hampir semua mahasiswa di sana pagi itu membicarakan gempa besar yang melanda dunia serta tsunami di beberapa wilayah pesisir pantai.
"Ah ya, aku melihat breaking news di TV pagi ini. Sepertinya kondisinya cukup parah," jawab Fori dengan mata setengah terbuka.
"Kau terlihat sangat mengantuk. Apa kau kurang tidur? Hari ini juga kau datang sedikit terlambat."
"Semalam aku menginap di panti asuhan tempat aku dulu tinggal," jawab Fori. "Di sana ada mesin pengering yang bagus. Karena aku harus mencuci jas kampus milik Xynth dan kaos milikmu, aku pergi ke sana dan semalaman mengurusnya."
"Kau dulu tinggal di panti asuhan?" tanya Siska dengan wajah kaget.
"Ya," jawab Fori dengan ekspresi tubuh yang mendadak kurang nyaman. Gadis itu tidak sengaja mengungkap asal-usul dirinya. "Orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih berusia dua tahun, jadi aku sudah cukup lama berada di sana."
Ia mengira bahwa dengan mendengar itu Siska akan memandang rendah padanya seperti kebanyakan teman di sekolahnya dulu, tetapi sebaliknya, Siska justru seolah memandang iba ke arah gadis itu.
"Ah iya!" seru Fori mendadak teringat sesuatu. Ia melirik ke arah sekeliling tubuhnya dan seakan mencari sesuatu. Begitu menemukan sebuah paper bag cokelat di belakangnya, ia langsung menyerahkannya kepada Siska. "Ini -- aku kembalikan kaosmu kemarin. Terima kasih banyak, ya!"
Siska terlihat sedikit kikuk saat membalas senyuman Fori. "Sebenarnya kau tidak perlu mengembalikannya begini cepat. Ini kan bisa nanti-nanti saja."
"Hehe, aku harus mencucinya bersamaan dengan baju Xynth agar nantinya tidak lupa. Lagi pula, Xynth kan akan membutuhkannya hari ini."
"Sepertinya tidak juga. Kata mereka hari ini kita boleh menggunakan baju bebas karena game di hari kedua adalah perang strategi paintball."
"Ah, iya, aku baru ingat!" ucap Fori kepadanya.
"Ngomong-ngomong kita harus segera bersiap. Panitia sudah menyiapkan perlengkapan khusus yang harus kita kenakan. Kita mendapat giliran pertama, kan?"
"Ya, benar. Apa tim kita sudah hadir semua?" tanya Fori sambil menoleh ke belakang dan melihat kumpulan tim hitam sedang asyik berbincang dan tertawa-tawa tak jauh dari mereka.
Sepertinya, kebanyakan dari tim hitam tidak memiliki beban apa pun hari itu, meski tim mereka berada di posisi terbawah klasemen dengan poin tiga. Entah bagaimana, mereka semua memperkirakan sendiri bahwa mereka akan kalah dari tim biru yang terdiri dari banyak pria-pria berpostur tangguh.
"Xynth belum datang," jawab Siska sambil melirik ke seluruh ruangan.
"Hah, bagaimana ini? Aku sudah terlanjur mendaftarkan namanya sebagai kapten tim di game hari ini."
"Perhatian kepada seluruh tim!" Suara ketua BEM terdengar melalui mikrofon yang menggema di setiap sudut aula dan langsung mengalihkan perhatian Fori. "Pertandingan game kedua akan segera dimulai satu jam dari sekarang. Game hari kedua disebut dengan Mole Game. Game ini akan digelar di bukit hutan sekolah dan setelah ini, tim yang akan bertanding pertama akan dipandu oleh seorang senior yang ditunjuk untuk menuju lokasi tanding.
"Game ini akan mengutamakan kerja sama tim dan strategi," lanjutnya lagi. "Jadi ingat, utamakan kedua hal itu! Yang harus masing-masing tim lakukan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin tali tanda pengenal tim lawan yang terikat di kepala mereka dalam waktu satu jam. Cara mengeklaim tali tanda pengenal lawan adalah dengan cara menembak lawan pada bagian tubuhnya dengan menggunakan peluru tinta yang sudah disesuaikan dengan warna tim masing-masing.
"Ketika lawan sudah terkena tembakan maka pihak penembak wajib segera mengambil pita tersebut dari kepala pihak yang tertembak. Jika saat akan mengambilnya kalian juga terkena tembakan maka pihak ketiga tersebut bisa mengeklaim pita kalian dan memegang pita milik rekannya yang belum diklaim siapa pun.
"Di sini, orang yang menyimpan pita milik rekannya sendiri yang belum diklaim tim lawan akan disebut mole. Tim lawan yang menembak seorang mole, dapat mengeklaim dua pita lawan sekaligus, yaitu pita milik mole dan milik rekan satu tim mole. Kalian akan diuntungkan jika berhasil menembak seorang mole.
"Namun bukan berarti dengan prinsip ini kalian bisa menolak menjadi mole dengan cara membiarkan ikat kepala rekan kalian yang sudah tumbang tetap pada tempatnya. Pada game ini, siapa pun yang menemukan pita milik rekannya atau juga milik lawan yang belum diklaim siapa pun diwajibkan mengambil pita tersebut. Jika ketahuan sengaja tidak mengambilnya untuk bermain aman atau curang, maka tim kalian akan didiskualifikasi dan tim lawan kalian dinyatakan menang.
"Dalam game ini dilarang keras melakukan kekerasan secara fisik atau menolak memberikan pita jika sudah tertembak. Selain itu juga dilarang keras menembak tim sendiri atau mengambil pita dari siapa pun yang belum tertembak. Jika itu terjadi, tim kalian akan langsung didiskualifikasi.
"Kami bisa memantau semua tindakan kalian dari sini. Beberapa kamera sudah ditempatkan di lokasi tanding dan peserta dari tim lain bisa menyaksikan jalannya pertandingan kalian dari aula."
"Bagaimana jika tembakan terjadi secara bersamaan antara dua belah pihak?" tanya seseorang di aula.
"Jika itu terjadi maka dua belah pihak tetap dinyatakan berhenti dari game, tetapi belum boleh bergerak dari lokasi tumbang sampai ada yang datang dan mengeklaim pita mereka. Pita mereka dapat diklaim siapa pun yang duluan menemukan keduanya."
"Nah di sini yang menjadi poin penting, dengarkan baik-baik!" lanjut sang ketua BEM lagi. "Jika kalian sudah mendapat lebih dari separo jumlah pita milik lawan -- yang berarti minimal enam pita -- maka segera laporkan kepada base penengah yang terdiri dari para senior. Base penengah nantinya akan mengumumkan kemenangan kalian.
"Posisi base penengah akan terletak di bagian bawah bukit. Sementara posisi kiri dan kanan bukit adalah posisi base masing-masing tim. Di base kalian tersebut nanti akan ada bendera berukuran sedang, sesuai warna tim kalian.
"Tim mana pun yang berhasil mencuri bendera tim milik lawan dan membawanya ke base penengah juga dapat langsung dinyatakan sebagai pemenang, Tim yang berhasil mendapat pita terbanyak juga bisa dinyatakan sebagai pemenang. Dua hal ini tergantung tim mana yang berhasil terlebih dahulu menuju base penengah dan menunjukkan jumlah pita atau bendera lawan kepada para senior di sana."
"Bagaimana jika dua tim tiba di waktu bersamaan di base penengah untuk meng-klaim kemenangan?" tanya seorang peserta lainnya.
"Jika itu terjadi maka siapa pun yang membawa bendera tim lawan yang dinyatakan sebagai pemenang. Jika kedua tim sama-sama membawa bendera tim lawan di waktu bersamaan, maka pemenang ditentukan dengan jumlah pita milik lawan yang dimiliki masing-masing tim.
"Jika jumlah pita sama, maka pemenang akan ditentukan berdasarkan jumlah mole terbanyak dalam timnya. Hasil akan dinyatakan imbang jika jumlah pita yang diraih dan jumlah mole dalam kedua tim sama banyak tetapi ini sangat langka terjadi."
"Apakah bendera tim boleh disembunyikan agar tidak direbut?"
"Tidak," jawab sang ketua BEM tersebut kepada sumber suara yang bertanya. "Tim tidak diperkenankan memindahkan atau menyembunyikan bendera tim mereka sendiri. Hanya lawan yang boleh memindahkannya dengan cara mengambil."
"Ada pertanyaan lain?" tanya ketua BEM kepada semua mahasiswa baru di sana. "Jika tidak ada, maka tim hitam dan tim biru dipersilahkan langsung menuju ke lokasi. Kedua tim silakan menaiki shuttle bus yang sudah disediakan di bagian depan gedung fakultas ini."
"Xynth sudah datang?" tanya Fori kepada Siska setelah pengarahan selesai, sambil berjalan keluar dari aula bersama seluruh rombongan tim hitam. Siska mengangkat bahunya.
"Ada yang melihat Xynth?" teriak Fori pada barisan di belakangnya, tetapi tidak ada satu pun yang menyahut Fori.
Fori berjalan mundur dan melihat ke arah dua orang di baris paling belakang. "Kalian melihat Xynth?
"Xynth?" ucap satu orang di sana dengan wajah bingung. "Aku tidak melihatnya? Apa dia belum datang?"
"Kalian sedang mencari Xynth?" tanya ketua tim kelompok merah yang bertubuh gempal kemarin dari arah belakang Fori. Ia seperti baru mau berjalan memasuki aula "Aku melihatnya barusan di toilet pria."
"Errr...," lanjutnya kemudian sambil melirik hati-hati ke arah anggota-anggota tim hitam yang lain. Pria itu lalu mendekati Fori dengan perlahan dan berbisik, "apa dia sedang mabuk? Ia tidak berhenti muntah di sana."
"Hah?! Di toilet yang mana?"
Pria gempal itu langsung menunjuk arah lokasi toilet yang dimaksudnya kepada Fori. Fori sendiri segera berlari menuju toilet yang ditunjuk oleh ketua tim merah tersebut setelah berterima kasih kepada pria itu.
"Xynth!" panggil Fori saat akhirnya menemukan Xynth di bagian depan pintu toilet pria.
Pria itu sedang membuka botol air mineralnya dan menenggak beberapa obat sekaligus. Entah mengapa wajahnya terlihat sangat pucat dan tidak sehat pagi itu.
"Kau sakit... atau baru mabuk?" tanya Fori sambil memandang ke arahnya dengan heran.
Xynth yang baru kembali meneguk air minumnya, segera menutup botol air mineral di tangannya itu sambil menatap sinis pada Fori. "Kau pikir aku pemabuk sepertimu?"
"Dasar menyebalkan!" ucap Fori kepada pria yang sudah melengos duluan di depannya itu. "Xynth, kau sudah dengar peraturan permainan hari ini?"
"Sudah, kenapa?" jawab pria itu dengan santai sambil membuang sesuatu dari tangan kirinya begitu saja ke sembarang arah. Fokus Fori teralih dan ia segera memungut sampah Xynth dengan kesal.
"Tabiatmu buruk sekali, kau tidak lihat tulisan besar-besar 'dilarang membuang sampah' di taman ini?!" tukas gadis itu seraya mengantongi sampah kering Xynth di kantongnya. Ia lalu berusaha bergerak maju dengan mengimbangi langkah cepat Xynth.
"Kau tahu kan kalau kami sudah memilihmu sebagai kapten game hari ini?" tanya Fori pada pria itu.
"Tidak," jawab Xynth cuek. "Siapa yang sembarangan memilihku tanpa ijin?"
Fori terdiam. Ia memilih tidak mau mengaku kalau sebenarnya dirinya sendiri yang mengajukan nama Xynth sebagai kapten mereka hari itu.
"Sebelum pulang kemarin ada briefing soal game hari ini dengan para senior. Karena kau sudah pulang duluan, jadi kau tidak tahu dan tidak ada yang punya nomor ponselmu. Sebagai kapten. nanti kau hanya perlu bertugas memimpin strategi dan lain-lain kok!"
"'Dan lain-lain...,'" ulang Xynth menyindir.
Keduanya sudah tiba di depan shuttle bus mereka. Begitu Xynth masuk, semua orang di dalam bus langsung ramai menyapanya yang terpilih sebagai kapten tim. Xynth tersenyum sekilas kepada mereka dan langsung mengambil tempat duduk di barisan depan yang tersisa.
Ia baru tersadar beberapa detik setelahnya kalau Fori masih terus menatapnya sambil berdiri di sampingnya. Karena hanya kursi di sebelah Xynth yang tersisa saat itu, pria itu pun segera menggeser tubuhnya dengan terpaksa di sana dan membiarkan Fori duduk di sebelahnya.
"Kenapa tidak kau saja sebagai ketua tim yang jadi kapten?" tanya Xynth kepada Fori dengan sedikit kesal.
"Apa? Aku?" celetuk Fori dengan wajah bengong yang dibuat-buat. "Wah, kau tidak lihat tubuhku setipis dan sekecil layangan begini? Bagaimana aku bisa memimpin game laki-laki seperti itu? Untuk bermain saja aku sudah takut, apalagi mengerti strateginya.
"Kalau kau kan memang bertubuh besar dan berotot," sambung Fori lagi sambil menekan lengan bagian atas Xynth tanpa merasa risih."Tubuhmu juga nyaris setinggi dua meter, pasti kan game seperti ini tidak susah untukmu. Sepertinya kau juga pintar soal strategi."
"Singkirkan tanganmu dari lenganku segera," desis Xynth sambil melirik ke arah tangan Fori dengan emosi. "Apa kau pikir semua laki-laki bertubuh besar sudah pasti mahir bermain game seperti ini?"
"Masa kau tidak bisa bermain paintball?" tanya Fori dengan mata bulat yang membesar.
"Bukan itu maksudku---"
"Tenang saja, Xynth," potong Fori sambil tersenyum lebar. "Kau atur saja strateginya. Jika nanti terjadi apa-apa, aku akan melindungimu!"
Xynth mendadak diam membisu dengan wajah datar. Wanita ini baru mengatakan sedetik lalu bahwa ia sekurus layangan dan takut, tapi kini ia malah bilang akan melindungiku?! Pria itu membatin.
"Itu jas milikku?" tanya Xynth sambil melihat ke arah paper bag di pangkuan Fori yang terbuka.
"Ah, iya, ini sudah kucuci," tukas Fori mendadak teringat. Ia memberikan paper bag itu ke tangan Xynth. Pria itu lalu segera mengambil jasnya dari dalam paper bag dan segera menutupi kepalanya dengan jas itu sambil menyenderkan tubuhnya ke belakang kursi dan mencoba tidur.
"Kau mau tidur?" tanya Fori sambil mengintip wajah Xynth dari balik jas itu dengan heran.
Ia melihat mata perak pria itu sedikit terbuka dan kini memandang ke arah wajah Fori dengan tajam dari balik jasnya. Pria itu sebenarnya sedikit terkejut karena wajah Fori hanya terpaut beberapa senti darinya.
"Kalau aku sampai menutup wajahku begini," -- desis Xynth dengan emosi -- "itu artinya aku tidak mau kau ganggu!"
"Ah, ba-baiklah," jawab Fori sedikit ketakutan. Gadis itu terdiam beberapa menit. Namun selang beberapa lama kemudian, ia memanggil nama Xynth lagi. Pria itu berpura-pura tidak mendengarnya.
"Xynth," panggil Fori tak menyerah -- kali ini sambil mengintip dari balik jas pria itu. Xynth seketika meradang begitu melihat wajah Fori kembali begitu dekat lagi dengan wajahnya.
"Aku sudah bilang aku tidak mau diganggu! Kenapa kau cerewet sekali, sih?!" bentak Xynth naik pitam.
"Bu-bukan begitu," ucap Fori. "Tapi kita sudah akan sampai. Lokasinya soalnya tidak jauh kok dari aula tadi."
Xynth melongok ke depan dan melihat kalau mereka sudah mendekati kawasan bukit hutan kampus. Sekitar tiga puluh meter lagi dari jalanan di bagian depan mereka, ada banyak senior dengan seragam kaos putih yang bersiap menyambut mereka di bawah spanduk tanda fakultas mereka.
"Kau tidak mau turun?" tanya Fori kepada Xynth ketika bus mereka sudah berhenti di dekat spanduk itu.
Xynth terdiam sejenak dan menahan rasa malunya. Ia kemudian bergerak turun tanpa bersuara sama sekali. Pria itu lalu berjalan menuju ke bagian booth di depan pagar besi besar tempat masuk ke hutan area game dan langsung memandangi sesuatu di papan pengumuman dengan sangat serius.
"Ayo Fori," ucap Siska sambil menggandeng lengan Fori dari belakangnya dengan mendadak. "Tempat ruang ganti wanita di sebelah sana."
Fori memandangi Xynth sejenak dengan sedikit khawatir, sebelum akhirnya mengikuti langkah Siska. Keduanya langsung menuju ke area khusus yang berisi booth untuk ruang ganti dan loker peserta wanita yang berdampingan dengan deret portable toilet berdinding hijau.
"Xynth sepertinya sedang sakit. Kau lihat wajahnya sangat pucat?" tanya Fori pada Siska ketika mereka tiba di ruang ganti.
"Sepertinya dia memang kurang tidur," sahut Siska sambil mengenakan rompi hitam pada bagian tubuhnya dari ujung ruangan. Gadis itu lalu masuk ke bilik toilet.
"Ya, mungkin saja," ucap Fori mengawang.
"Ah, tidak ada tempat sampah di sini," kata Siska mendadak setelah ia keluar lagi dari bilik toilet. Gadis itu memegang sebuah kantong plastik hitam kecil di tangannya dengan kebingungan. "Aku akan keluar duluan untuk membuang pembalutku."
"Kau sedang menstruasi?" tanya Fori seraya mengikat erat-erat tali hitamnya di kepala. Ia melihat Siska mengangguk menjawabnya.
"Ah ya!" seru gadis itu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia segera mengeluarkan sampah kering milik Xynth yang sedari tadi ada di kantong bajunya. "Boleh aku titip ini?"
"Baiklah. Jangan dulu jalan ke base ya, tunggu aku. Kita akan rapat strategi di sana, kan?" tanya Siska sambil melangkah keluar setelah mengambil gumapalan kecil kertas berwarna perak dari tangan Fori.
"Ya," jawab Fori sambil lalu. Setelah memasukkan barang-barangnya ke loker, gadis itu pun segera melangkah ke luar.