Suara nyaring seorang gadis terus menggema memenuhi rumah mewah itu ketika tubuhnya di seret masuk. Ia meronta-ronta sekuat tenaga namun kedua laki-laki kekar di sisinya bukanlah tandingan nya.
" Nula " Suara senja seorang wanita tua yang duduk di sofa membuat nya terdiam
" Nenek!! "
Ranula atau kerap di sapa Nula pun merengek menatap nanar ke Nenek tua itu.
" Heh! nggak usah manja, ini nenek gue bukan nenek lo " Hardik perempuan berdress merah menyala yang duduk angkuh di sisinya
" Nenek, aku nggak mau nikah Nek. Nggak "
" Yakali nikah, baru aja di angkat anak " Dumel nya dalam hati.
Baru saja sebulan keluarga Taraya mengadopsi nya dan kini ia harus di lempar ke pernikahan yang bahkan tidak ia ketahui.
Nenek Tina sang pemimpin keluarga Taraya pun menatap nya getir, hatinya tak tega tapi apa boleh buat. Cucu kandung nya, Riana----enggan menikah dengan kolega bisnis yang akan menyelamatkan perusahaan mereka.
Tidak ada cara lain selain kan mengirim Nula ke pernikahan itu. Meskipun sedikit berat karena Nenek Tina menyayangi Nula seperti cucunya sendiri karena Nula lahir dan besar di rumah ini, meskipun dari seorang pembantu yang sudah meninggal 24 tahun lalu.
" Nggak usah ngeyel! nikah sama keluarga Rajandra udah termasuk berkah di hidup kamu, tau! " Sang menantu Taraya menyahut sinis. Tidak beda jauh dengan putri nya
" Yaudah, Tante Ana aja yang nikah sama dia " Sungut Nula membuat Viana nyaris terbatuk darah mendengar nya.
" Kurang ajar!! "
" Mah! kan aku udah bilang jangan adopsi dia, liat kan! dia anak yang nggak tau diri " Kecam Viana kesal
" Sudah, jangan bertengkar " Nenek Tina menghela nafas berat.
" Ranula, ini demi kebaikan keluarga kita. Maafin nenek ya, Riana nggak mau nikah jadi Nenek terpaksa harus ngirim kamu ke sana. Jangan khawatir kamu tetep keluarga Taraya dan selama nya rumah ini juga rumah kamu, nurut ya "
Nula baru hendak menyahut saat putra sulung Taraya lebih dulu bersuara
" Nikah sama Allerian dan tiap bulan saya kirim 3 juta buat uang jajan kamu! "
" Bener om Hardi! " kilau bintang terlihat di mata jernih nya.
Soal uang Nula tidak mungkin menolak!
Sikapnya yang serakah membuat Riana berdecih sinis. Benar-benar sangat memalukan
" Bener. Tapi kamu harus nikah sama dia, nggak cuman itu. Allerian juga keluarga kaya dan kamu pasti bakal dapet lebih banyak uang bulanan "
Ledakan bintang di matanya semakin berbinar. Membayangkan saldo rekening yang tiada habisnya membuat kedua pipi nya memerah
" Oke! aku setuju " Serunya
" Dasar miskin, mata duitan! " cibir Riana pedas sebelum melengos pergi.
" Dih, di jaman kaya gini mau nikah sama laki-laki tua tapi kaya raya pun nggak akan rugi! selama ada uang " Seru Nula semakin tidak tau malu
Nenek Tina menatap nya gusar, Nula masih jauh dari kata dewasa. Ia khawatir sikapnya akan mengundang keburukan di hidup nya.
✿✿✿✿✿
Malam itu angin terasa begitu hangat memasuki jendela kamar yang sengaja di buka. Nula yang sibuk membereskan barang-barangnya pun menoleh saat pintu kamar nya di buka.
Alisnya mengerut saat melihat Riana berdiri di ambang pintu dengan wajah sombong nya.
" Ngapain ? " Tanya Nula acuh tak acuh
" Ngapain lo bawa barang-barang rongsok lu? lo pikir Allerian mau rumah nya kotor sama barang-barang lo, hah "
Oceh Riana saat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar kecil Ranula. Matanya menatap remeh ke tumpukan baju Nula yang sederhana----kebanyakan baju bekas nya.
" Kenapa emang nya, kan gue istri nya dan lagi juga gue cuman punya ini " Sahut Nula berusaha tegar dan tak terpancing emosi
Tawa mengejek terdengar bagai percikan api di sumbu kesabaran Nula. Cepat-cepat Nula menyelesaikan berkemas nya
" Kesian banget sih lo Nul, jadi pengantin pengganti dan nikah tanpa resepsi. Status lo sama aja di umpetin "
Nula terdiam, kerongkongan nya tercekat oleh gumpalan pahit. Gerakan tangan nya saat menutup koper terkesan grabak grubuk tak sabaran
" Tapi segitu juga udah untung si buat lo. Secara, lo kan cuman anak haram dari pembantu dan kalo bukan karena Nenek mungkin lo bakal tinggal di pinggir jalan terus ngemis tiap hari "
Trang!
Riana tersentak saat Nula menaruh kasar bingkai fotonya dan ibunya ke dalam kardus, mata indahnya yang mata selalu berbinar kini terlihat begitu kelam dan dingin.
" Terus kenapa? kenapa kalo gue cuman anak pembantu? "
" Kenapa kalo gue nggak punya bapak? "
Suara penuh intimidasi Nula membuat Riana gelagapan.
" Gue justru bersyukur nggak punya orang tua karena percuma punya orang tua tapi nggak bisa ngedidik anaknya dan ngebiarin anaknya bersikap buruk ke orang lain. Kaya orang tua lo! " Cerca Nula dengan nada tinggi di akhir kalimatnya.
" Lo-"
" Apa! "
" Ada yang salah dari kata-kata gue? atau hati lo sakit nerima fakta sepahit itu? "
Riana menggeram tertahan, ia mengangkat tangan nya mencekik Nula dengan penuh emosi
" Jaga ucapan lo b*****t!! kalo bukan karena keluarga gue lo bukan apa-apa!! Lo cuman anak pembantu, lo cuman anak hina yang nggak jelas siapa bapak nya!! "
" Lo c*m-" Riana tertegun saat Nula menepis kasar tangannya
" Gue cuman anak yang selalu menang dari lo. Apa lo lupa nilai akademis lo itu berkat siapa? lo lupa piagam dan penghargaan lo itu dari mana? "
Riana mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar seperti serigala yang sekarat namun terus melawan.
" Gua nggak akan biarin lo bahagia!! meskipun lo udah nikah gua tetep bakal bikin lo menderita!! "
Nula berbalik dan kembali melanjutkan berkemas
" Silahkan " Sahutnya getir menahan tangis.
Suara pintu tertutup dengan begitu keras mengguncang jiwanya, ruangan yang telah 25 tahun ia tempati kini terasa sunyi dan dingin. Bahkan sinar rembulan yang semula memantul di kaca pun ikut menghilang.
Nula terduduk lemas dengan airmata nya yang berjatuhan. Ia berusaha tegar setiap hari menerima hinaan dari Riana atau ibunya namun tetap saja hatinya terluka.
Meskipun Nenek Tina telah berbaik hati padanya namun rasanya seperti: Lebih baik di buang dari pada di rawat tapi terus di tikam.
" Mah, akhirnya aku bebas dari keluarga ini. Akhirnya aku bisa pergi " Bisiknya pada figur seorang wanita hamil yang tersenyum manis.
✿✿✿✿✿
Jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi saat Nula sudah berpenampilan rapih cantik dan harum dengan dress putih yang indah membentuk lekuk tubuhnya yang ideal. Tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk.
" Kapan Nek dia dateng? " tanyanya gugup, jantung nya terus berdebar tak menentu.
" Sebentar lagi mungkin " Sahut Nenek Tina yang duduk di sisinya.
Nula mengangguk samar sambil mengatur nafasnya yang tak karuan, ia tak menyangka jika nikah kontrak ini berhasil membuat nya gugup setengah mati.
" Paling juga Allerian lagi marah karena pengantin nya di tukar sama anak pembantu "
" Riana! " Nenek Tina menegur sinis
Riana menekuk wajahnya tak terima " Belain aja terus dia! "
" Riana, jaga sikap kamu " Hardi ikut menegur putri nya membuat rasa jengkel di hati Riana semakin besar.
" Jangan belain dia Pah! "
" Bukan belain, Papah cuman nggak mau sikap kamu di nilai buruk "
" Papah kamu bener, jangan urusin Nula dulu ya " Viana ikut bersuara mengusap lembut pipi putri nya.
Nula yang menjadi bahan emosi Riana pun tampak begitu tenang dan sesekali menoleh ke arah pintu. Ia tak sabar, antara ingin bertemu calon suaminya atau ingin cepat pergi dari rumah itu.
Seorang laki-laki berjas hitam berlenggang masuk kemudian menyapa mereka dengan senyuman manis. Nula melihat nya dari atas hingga bawah
" Nggak cacat " bisik nya penasaran dan sedikit berharap jika itu hanya jebakan.
" Saya Anton sekertaris Tuan muda Allerian, saya datang untuk menjemput Nona Ranula karena Tuan Allerian tidak bisa datang dan langsung menunggu di catatan sipil " Terangnya membuat Nula terdiam dengan hati terasa hampa
" Loh. Kenapa? bukan nya keluarga Rajandra harus jemput Nula di sini? " tanya Nenek Tina sedikit tak terima
" Mereka.... sibuk "