Nenek Tina dan putranya saling bertatapan sejenak seolah menyuarakan protes yang terpendam.
" Tapi perjanjiannya mereka harus datang menjemput "
" Itu berlaku jika Tuan muda kami menikah dengan Riana bukan Ranula " Sahut Anton sedikit tak enak hati.
Suara tawa tertahan membuat Nula menunduk dalam, ia lagi-lagi menahan rasa malu dan sesak di hatinya.
Setelah berdebat dengan pikiran sendiri, Nula pun berdiri dengan wajah tegas. Ia mengambil kopernya
" Ayo, nanti telat "
Keluarga angkatnya kompak menoleh menatap nya dengan berbagai ekspresi. Terutama Riana yang wajahnya di penuhi kelicikan
" Ngebet banget lo mau nikah, Allerian aja nggak mau tuh " Riana tak tahan jika tidak mencibir gadis itu.
Nula menarik senyuman nya yang tak sampai ke mata " Iya dong, kenapa? lo nggak rela gua pergi "
" Cih! bagus kalo lo pergi biar rumah gue kembali damai tanpa lo "
Nula tak menyahut ia melangkah menghampiri Anton kemudian mengajak nya pergi. Tak ada niat sedikitpun untuk pamit karena kebaikan keluarga ini sudah cukup bagi nya.
" Bahkan dia nggak pamitan sama sekali! dasar sombong, di kiranya bakal jadi nyonya muda Rajandra kali ya! " Viana berseru jengkel menatap kepergian putri angkat nya.
" Udah Mah biarin aja, nanti juga kena batunya! Aku denger Allerian semenjak lumpuh jadi kaya orang gila bahkan pembantu di rumah nya pun nggak ada yang betah! "
" ssstt! mulut kamu " Hardi menegur
" Emang iya kan " Riana memutar sinis kedua bola matanya.
Sementara di luar rumah Nula terus berdiri menatap bangunan mewah bergaya eroa klasik dengan perasaan campur aduk. Meskipun ini bukan rumah nya tapi tetap saja rasanya berat untuk melangkah pergi, karena di sini tersimpan banyak kenangan ibunya yang sering ia dengar dari pelayan lain.
" Ranula!! "
Nula tersentak kemudian tersenyum lebar saat para pelayan di sana menghampiri nya. Para pelayan yang sudah seperti ibu baginya
" Ini hadiah dari kami, nggak mewah tapi kami harap kamu terus nyimpan nya ya. Sering-sering pulang ya "
Air mata Nula yang sejak tadi ia tahan pun tumpah saat mendengar nya. Mereka lah rumah bagi Nula, orang-orang yang sejak kecil ikut serta merawat nya dengan penuh kasih sayang.
" Iya Bu Niah, aku bakal sering pulang ketemu kalian " Sahut Nula memeluk mereka bersamaan
" Udah cepat sana nanti telat " Si paling muda yang usianya tak jauh dari Nula pun bersuara sambil melepaskan pelukannya
" Elin benar, sana pergi. Pengantin nggak boleh telat nanti sial " Goda Bu Niah sambil menyentil gemas ujung hidung Nula
" Iya, aku pergi jangan rindu "
" Cih! kami justru merasa lega karena nggak perlu lagi teriak-teriak nyariin kamu " Elin menyahut getir
" Ish, yaudah aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik ya " Sambil berkata begitu Nula berusaha menahan tangis nya
Dengan berat hati dan di iringi lembaian tangan penuh haru dari para ibu nya, Nula melangkah masuk ke dalam mobil.
Ia melambaikan tangan saat mobil itu berjalan keluar dari pekarangan rumah, tak ada satupun keluarga Taraya yang keluar mengantar kepergian nya. Sekilas Nula merasa seperti dia di usir
✿✿✿✿✿
Hampir setengah jam berlalu saat Nula tiba di gedung catatan sipil, orang-orang berlalu lalang keluar-masuk dari dalam gedung. Sebagian ada yang foto-foto dengan buku nikah dan gaun pernikahan ala kadarnya.
Nula merasa sedikit takjub melihat dunia luar karena selama hidupnya ia hanya berada di sekitaran rumah Taraya dan keluar hanya ke pasar ikut Bu Niah.
" Mari Nona, di dalam Tuan Allerian sudah menunggu "
Nula menegakkan tubuhnya dengan wajah berseri-seri kemudian melangkah di belakang tubuh jangkung Anton.
Matanya tak bisa menahan untuk tidak menjalar kemana-mana saat masuk ke dalam gedung itu. Di dalamnya sedikit ramai dan berisik dengan suara yang tumpang tindih.
" Ke sini " Nula terhenyak ia hampir melewati lift yang terbuka
Dengan cengiran lebar yang tampak polos itu dia masuk dan berdiri di samping Anton. Nula sedikit miris meruntuki tinggi badannya yang hanya sebahu Anton.
Ting!
Lift terbuka di lantai 3 dan segera Nula melangkah keluar mengikuti Anton yang membawanya masuk ke ruangan.
Di sana seseorang tengah berbincang, sorot mata indah perempuan itu tertuju pada laki-laki yang duduk di kursi roda. Punggungnya yang tegap dan lebar membuat jantung nya berdebar kencang
Nula mengepal kedua tangan nya yang berkeringat, ruangan itu terasa dingin namun keringat perlahan membanjiri punggungnya.
" Ibu Ranula? silahkan duduk "
Nula menangkap jelas gerakan pelan penuh penasaran dari calon suaminya. Tanpa ragu Nula duduk di sisinya
Nula tau dari sudut matanya jika Allerian meliriknya sekilas. Penampilan laki-laki itu begitu menarik dan aura Tuan Muda kaya raya nya begitu kental.
Rambutnya sebahu dengan gaya wolf-cut, tampak sempurna membingkai wajah tampan nya.
".... Baik, mari kita ambil sesi foto "
Nula mengangguk semangat sementara suaminya hanya diam mengikuti instruksi.
Keduanya pun di bimbing masuk ke ruang sesi foto untuk surat nikah, Nula menoleh memperhatikan Allerian yang acuh dan dingin.
Dengan berani Nula merapikan kerah kemeja hitam Allerian membuat sang empunya menegang dan menatap nya terkejut.
" Dah rapih! " Seru Nula dan kembali duduk menatap kamera
Allerian merasa sesuatu seperti meledak di dirinya, ada rasa tak nyaman yang bersarang
Pengambilan foto pun selesai dan mereka juga sudah selesai menandatangani buku nikah berwarna hijau. Setelah itu bersama-sama keluar dari gedung catatan sipil.
" Kamu pulang sendiri, aku masih ada urusan " Kata Allerian dingin tanpa menoleh sedikitpun
" Eh! ta-" Ucapan Nula terhenti saat Allerian menutup pintu mobil
Anton menghampiri nya " Ini kartu bus, Nona bisa naik bus ke jalan Anggrek perumahan Nirmala 1 " Ujarnya kemudian bergegas memasuki mobil
Nula yang masih tercengang hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasaan campur aduk.
" HEY!! AKU INI ISTRI MU SIALAN!! " teriaknya penuh emosi hingga mengundang perhatian orang-orang di sana
" ARGHH!! "
Nula terkulai lemas, wajahnya sedih dan muram. Ia menyeret tungkai nya pergi dari sana dengan penuh kepasrahan.
" Gua aja nggak tau di mana halte bus " Gumam nya lirih menyelusuri trotoar
Di belakangnya mobil putih melaju cepat dan dengan sengaja menyiprat genangan air hingga membasahi tubuhnya.
Nula terdiam kaget dengan mulut terbuka, ia menatap mobil itu dengan amarah meledak
" WOY SETAN!! LO BUTA YA HAH!! " teriaknya keras penuh emosi namun mobil itu sudah melaju pergi.
" Sial banget sumpah, sial!! " Keluh nya mengusap kasar tubuhnya yang basah
Mobil putih itu berhenti di sebrang jalan, kacanya terbuka menampilkan sosok Riana yang tersenyum iblis. Puas sekali berhasil membuat Nula kebasahan
" Ikutin dia terus "
Dari arah belakang Allerian memberi intrupsi pada supir nya.
✿✿✿✿✿
Nula menahan sebisa mungkin airmata yang mendesak ingin tumpah, hari ini begitu sial baginya. Harusnya dia bahagia, kan? tapi semuanya justru terasa begitu sesak.
Suami nya tidak mempedulikan nya sama sekali bahkan meninggalkan nya begitu saja di tempat yang bahkan belum pernah Nula datangi.
Apa Allerian tidak tau jika istri nya itu perempuan yang lahir dan besar di balik dinding tebal dan tinggi? jangankan dunia luar, hanya 10 menit pergi dari kediaman Taraya saja ia tidak tau bagaimana caranya pulang.
Mengandalkan arahan dari Anton akhir nya Nula tiba di perumahan Nirmala. Ia linglung seperti orang hilang saat menghampiri pos satpam di pintu masuk
" Pak, rumah Tuan Allerian dimana ya? "
Satpam itu menatap nya dari atas hingga bawah, penampilan nya yang kusam lepek dan kotor membuat satpam itu curiga
" Ada keperluan apa ya? "
" Saya istri nya, Pak "
Wajah satpam itu tak enak di lihat, campuran antara mengejek dan menghina tergambar di wajahnya.
" Jangan aneh-aneh mbak, sana pergi " usir nya
" Saya serius! Saya Ranula istri Allerian yang tinggal di perumahan ini " Sahut Nula jengkel
" Udah sana pergi, tiap hari ada kok yang ngaku anak, temen, selingkuhan dan segala macem di sini. "
Nula berdecak kesal ia tak bisa membuktikan apapun jika dia istri dari Allerian. Koper, tas dan buku nikah nya ada di mobil Allerian.
Dengan tubuh layu yang lelah serta dingin yang merambat, perempuan menyedihkan itu duduk di tepi taman perumahan, berharap mobil suami nya lewat dan melihat betapa menyedihkan nya Ranula.