“Sayang!” Varlo membuka mata lalu memanggil istrinya. Dia menggeliat, kemudian mengubah posisinya menjadi berbaring miring. Matanya mengerjab saat pandangannya terlihat mengabur. Varlo terdiam, menghilangkan kantuk itu sambil menunggu respons istrinya. Namun, beberapa menit kemudian dia tidak mendengar suara Jasmine. “Sayang!” Varlo kembali berteriak, kali ini lebih kencang. Beberapa menit menunggu, tapi Varlo tidak kunjung mendapat respons. Dia bangkit kemudian turun ke lantai satu. Dia menyugar rambutnya ke belakang, lalu mengucek mata. Saat sampai dapur, dia mendapati tempat itu kosong. Padahal saat pagi hari Jasmine sering berkutat di dapur mencoba resep masakan baru. “Sayang!” Varlo berjalan keluar menuju halaman samping, tempat kedua yang sering Jasmine tempati saat pagi hari. Dia

