Part 6 - Mencari Farel dan Sean

1344 Words
Daniel mencoba untuk terus melacak dan mencari informasi tentang keponakannya berada. Hingga tak sadar ia sudah terlalu lama di depan komputer. Salah satu ART pun datang mengetuk pintu ruang kerjanya. Tookk...Tookk....Tookk.... "Masuk!" Pembantu itu pun masuk ke dalam ruang kerja Daniel. "Den, makan siang udah siap. Aden makan siang dulu yaa, nanti aden sakit," ucap wanita paruh baya itu yang sudah lama bekerja dengan keluarga Daniel. Namanya adalah Bi Eti. "Bentar Bi, Daniel masih coba cari keberadaan Sean sama Farel." Daniel sudah menganggap Bi Eti seperti ibunya sendiri. "Itu bisa nanti aden, sekarang makan dulu ya. Nanti aden bisa sakit, kan aden sendiri nanti yang ngerasain kalo aden sakit, bukan bibi yang ngerasain." "Okee Bi, tapi Daniel bangunin manusia kebo satu itu dulu," ucap Daniel sambil menunjuk Rafael yang sedang tertidur di sofa. "Ya udah, bibi ke dapur dulu buat nyiapin makanannya Aden." "Siap Bi." Bibi Eti pun keluar dari ruang kerja milik Daniel. Daniel melangkah mendekati Rafael, si manusia kebo itu. "Raf, woy bangun!" "Rafa kebo!" "Gue laper mau makan, lo mau makan gak?" masih belum ada respond dari Rafael. "Ck! Emang harus cepet cari bini deh Raf, biar lo gak kebo lagi." gerutu Daniel yang mulai kesal dengan Rafael. "RAFAAA!!! Kalau lo gak bangun juga gue siram pakai air comberan!!!" Daniel pun berteriak karna sangat kesal, ia paling malas membangunkan Rafael. Buugghh.... Rafael pun terjatuh dari sofa karna ia terkejut dengan teriakan trompet milik Daniel itu. "Sialan lo!" Rafael mengusap pinggangnya yang terasa sakit. "Bisa gak sih lo bangunin gue pelan-pelan." gerutu Rafael. Rafael pun terbangun dengan rambut yang sedikit berantakan. Daniel hanya memutar matanya dengan jengah. Ia pun enggan menanggapi gerutuan Rafael yang tak berfaedah itu. "Gue mau makan, lo kalo mau ikut ayo, kalo gak mending lo pulang. Liat lo disini bikin gue sakit mata." Daniel kemudian melenggang pergi meninggalkan Rafael yang melongo mendengar ucapan Daniel. Hanya Daniel yang berani mengomeli dan melawan Rafael. "Shiittt!!! Bocah tengik, mulutnya minta di hujat. Liat aja, gue tambahin kerjaan lo entar." Rafael pun akhirnya keluar dari ruang kerja milik Daniel itu. Ia melangkah menuju dapur untuk makan siang. Walaupun kurang berselera untuk makan, tapi ia juga membutuhkan energi untuk mencari anak-anaknya itu. *** "Tante maafin Sesil yaa, gara-gara Sesil anak-anak jadi hilang hiks..hikss," ucap Sesil dengan raut wajah penuh rasa bersalah dan memelas, hingga membuat orang tak tega melihatnya. "Sesil janji tante akan berusaha mencari mereka hiks...hikss... Sesil janji kalau mereka ketemu, Sesil akan menjaga mereka dengan baik hiks..hikss..." "Sini nak, jangan begitu. Sudah tak apa, Rafa, anak buahnya dan orang suruhan Papa Rafa sedang mencarinya." Siska membawa Sesil yang bersimpuh di kakinya untuk duduk di sofa. Sesil pun memeluk tubuh Siska. "Maafin Sesil tante, hikkss...hikks maaf." Siska mengusap punggung Sesil yang bergetar karna menangis. "Iyaa sayang, sudah jangan menangis lagi. Kita berdoa semoga Rafa menemukan Farel dan Sean hari ini juga." Siska mengusap air mata Sesil, Sesil mengangguk mendengar ucapan Siska. Kemudian, Dani pun duduk di sofa yang ada di dekat istrinya dan Sesil. Ia baru saja selesai berbicara dengan anak buahnya yang tadi menghubunginya. "Gimana Pa? Udah ada kabar dari mereka?" Tanya Siska dengan penuh harap. Dani menghela nafasnya, kemudian ia menjawab pertanyaan istrinya. "Tadi mereka sempat berjumpa dengan anak-anak Ma—" belum selesai Dani berbicara, namun Siska memotong ucapannya. "Beneran Pa? Trus mereka langsung nemuin Sean dan Farel kan Pa?" Dani menggelengkan kepalanya. "Mereka kehilangan jejak Ma, mereka juga lupa untuk memotret plat mobil yang membawa anak-anak." "Jadi beneran Pa cucu-cucuku di culik?" Mata Siska mulai berkaca-kaca. Sesil langsung memeluk tubuh Siska. "Papa gak bisa pastiin Ma. Kata orang suruhan Papa, mereka melihat seorang gadis, supirnya, dan anak kecil seusia Sean. Farel dan Sean ikut masuk ke mobil mereka Ma. Papa berharap Farel dan Sean sekarang berada di orang yang baik Ma." "Semoga saja Pa, jika Farel dan Sean ada di orang baik itu, Mama akan melakukan apapun Pa pada keluarga mereka. Jika mungkin gadis itu belum menikah dan memiliki kekasih, Mama akan jadikan dia menantu Mama." Dani pun menganggukkan kepalanya tanda ia setuju. Tanpa mereka sadari, ada yang tak menyukai percakapan mereka. Ia akan bertekad tidak akan membiarkan itu semua terjadi, terutama seorang gadis yang akan dijodohkan oleh Rafa itu. Ia akan menghalangi hal itu, agar tidak terjadi pernikahan di antara mereka. Dan ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Rafanya. "Kenapa jadi gini sih?! Bukan ini yang gue inginkan." batinnya. *** Hari sudah sore, anak-anak sudah bangun dan sekarang mereka ada di halaman belakang bersama Opa mereka Edgar. Mereka sedang memberi makan ikan hias yang ada di belakang rumah milik keluarga Abraham itu. "Opa, apa kita bisa memancing ikan ini untuk dimakan?" Tanya Farel. "Tidak Farel, ini ikan hias, sayang dong kalau dimakan. Memangnya Farel ingin memancing ikan?" "Iyaa Opa, apa bisa kita memancing ikan?" "Bisa, besok kalau Opa ada waktu kita akan mancing di tempat pemancingan milik Opa." "Benelan Opa?" Tanya Farel dengan penuh antusias. "Iyaa beneran dong." "Apa Ean oleh ikut Opa?" "Iya Sean, tentu saja boleh." "Gilang juga mau ikut Opa." "Arsen juga, sudah lama kita tidak memancing Opa." "Bagaimana kalau akhir pekan?" "Masih lama Opa." keluh Farel. "Kasian dong kak Arsen, nanti kecapean pulang sekolah, les, trus di ajak mancing. Nanti kak Arsennya gak bisa istirahat." Edgar menjelaskan dengan pelan-pelan agar anak seusia mereka mengerti. "Baik lah Opa," ucap Farel dengan sedikit lesu. "Heeyy jangan sedih dong, cucu Opa gak boleh sedih harus banyak senyum." Farel pun kembali tersenyum, setidaknya ia bisa merasakan bagaimana memancing itu. Ia dulu pernah melihat acara memancing di tv, setelah itu ia mengajak Opa dan Daddynya. Namun mereka sibuk dan tak bisa menemaninya memancing. Tapi sebentar lagi keinginannya akan terkabul bersama Opanya, Edgar. "Iyaa Opa, Farel senyum ni." Farel tersenyum kearah Opanya. "ANAK-ANAK AYO MANDI DULU, INI UDAH SORE!" teriak Tasya di teras belakang rumah itu. "IYA MAMI, SEBENTAR!" teriak mereka secara bersamaan. "CEPETAN, JANGAN NANTI-NANTI!!" "IYA MAMI!" "Opa, apa perempuan suka berteriak seperti itu?" Tanya Arsen. "Hah? Kenapa?" "Kenapa perempuan suka berteriak Opa, Zia dan Rara juga seperti itu. Bikin sakit telinga." "Tidak semuanya seperti itu Arsen, seperti Mami mu tadi, karna jarak kita berjauhan, jadi ia berteriak agar suaranya terdengar." "Kenapa tidak menghampiri kita kesini aja?" Edgar hanya menggelengkan kepalanya, ia bingung mau menjawab apa. Bukannya begitu, Wanita itu sulit dipahami. "Ya udah kalian mandi dulu sana, nanti Opa nyusul." Mereka mematuhi perintah opa mereka. Mereka mencuci tangan dan kaki di kran dekat kolam ikan itu sebelum masuk kerumah. Sedangkan Rara dan Zia ikut Oma dan Via menyiram tanaman di halaman depan. Kebun bunga di belakang sudah mereka siram. "Rara, Zia!" Ara menghampiri mereka yang sedang asik menyiram bunga. "Iya Ma," ucap mereka serempak. "Mandi yuk, udah sore. Nanti kita kerumah Grandma sama Grandpa lagi," ucap Ara ke Zia. "Iyaa Ma. Bunda, Oma, aku mandi dulu yaa." Zia pun segera menuruti ucapan Mamanya. "Iyaa sayang," ucap Via. "Iya Nak," ucap Nadia. "Kamu juga Ra mandi dulu sana udah sore, kata Papi dan Mami kamu, kamu juga menginap di rumah Grandma dan Grandpa mu." "Iya Ma, Rara mau mandi ini. Bunda, Oma, Rara ke dalem duluan ya mau mandi." "Iyaa sayang," ucap Via dan Nadia. Rara pun segera masuk ke dalam rumah setelah berpamitan. "Kamu juga mau nginep Ra?" Tanya Nadia. "Iya Ma, tadi Bunda telpon katanya kangen sama anak-anak." "Padahal belum lama ini kalian nginep di sana. Trus tadi Bunda kamu juga telpon ke Mama, dia juga bilang gitu." "Ya udah Ma, Ara ke dalem dulu mau siap-siap. Makan malam bentar lagi mungkin siap, soalnya tadi Ara tinggal, trus Ara suruh bibi yang lanjutin. Maaf Ma, Ara gak bisa bantu buat masak, cuma bisa bantu sedikit," ucap Ara dengan rasa tak enak kepada mertuanya. "Gak papa sayang, kamu juga mau pergi kan, pasti kamu sibuk nyiapin barang-barang kamu dan keluarga kamu. Salam buat Bunda kamu ya nak. Besok kalau ada waktu senggang Mama main ke sana," ucap Nadia dan Ara pun menganggukkan kepalanya. Ara sangat bersyukur memiliki mertua yang penyayang dan pengertian seperti ini. "Ya udah Ara ke dalem duluan yaa Ma, Gue duluan Vi." "Oke kak." Setelah itu, Nadia dan Via melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD