Gilang, Farel, Sean, dan Via akhirnya sampai di rumah. Mereka sampai di rumah ketika jam makan siang. Dengan semangat anak-anak itu membawa masuk kue-kue yang mereka beli tadi. Mereka melangkah menuju kedapur. Disana sudah ada Tasya dan Ara. Ternyata mereka sudah pulang dari taman. Di sana juga ada Nadia, mama Via.
"Oma!"
"Mama!"
"Mami!"
Mereka bertiga dengan kompak memanggil Tasya, Ara, dan Nadia yang berada di dapur sedang menyiapkan makan siang.
"Hello baby boys." sapa Ara.
"Ehh hayy sayang, baru pulang ya?" Tanya Tasya. Mereka mengangguk antusias.
"Kalian keliatan Happy banget, emang kalian dari mana?" tanya Nadia.
"Jalan-jalan ke taman Oma, kami tadi belmain baleng banyak temen," ucap Farel dengan antusias.
"Wahh asik dong."
"Iyaa Oma," ucap mereka serempak.
"Kalian bawa apa itu?" Tanya Tasya sambil menunjuk kantong plastik yang mereka bawa.
"Tadi ada nenek-nenek yang jualan di taman Mi, telus kami beli," ucap Gilang.
"Kok banyak banget?" Tanya Ara.
"Iya Ma, kasian neneknya gak ada yang beli kuenya, jadi kami beli aja semua kuenya," ucap Farel.
"Iyaa Ma, kami bantu neneknya, gak papa kan Ma?" Tanya Sean.
"Wahh gak papa dong, itu tandanya kalian anak yang baik, mau membantu orang lain," ucap Ara.
"Ya udah yuk sekarang kita hidangkan ya kuenya. Kita susun di piring, trus kita makan sama-sama. Tapi sebelum itu kalian cuci tangan dulu," ucap Tasya.
"Iya Mami," ucap mereka dengan antusias, dan mereka mengikuti Tasya mencuci tangan. Kemudian mengambil piring dan menyusun kue yang mereka beli.
"Kak Ara sama kak Tasya udah pulang dari tadi?" Tanya Via.
"Belum, baru aja sampai, trus ganti baju mau bantu Mama masak," ucap Ara.
"Ya udah gue cuci tangan dulu, baru ikut bantu masak." Nadia dan Ara pun mengangguk. Setelah mencuci tangan, Via pun ikut membantu Nadia dan Ara memasak.
"Arsen, Rara, sama Zia mana? Kok dari tadi gak keliatan Kak?"
"Kayaknya pada rebahan di kamar mereka deh, mungkin mereka capek habis main." Via menganggukkan kepalanya mengerti.
Kali ini mereka masak sayur asam, ikan nila goreng, semur ayam, dan sambal telur. Mereka adalah keluarga pecinta makanan nusantara. Setelah selesai menghidangkan kue-kue tadi, Tasya pun kembali membantu masak. Sedangkan anak-anak kembali bermain di ruang keluarga, di sana ada Aland, Nathan, dan Edgar.
"Papa!"
"Papi!"
"Opa!"
"Ehh kalian kapan pulang?" Tanya Nathan.
"Balu aja Pa, tapi gak balu-balu banget, gimana yaa? Kayak gitu lah pokoknya," ucap Gilang.
"Ribet banget lu bocah." celetuk Aland, yang sedang memakan keripik singkong sambil menonton tv.
"Itu anak kamu loh Land," ucap Edgar.
"Hehe, iyaa sih Pa, dia kayak Mamanya, ribet," ucap Aland dengan entengnya.
"Dimarahin sama bini lo juga bakal kicep," ucap Nathan.
"Enggak, enggak ya, enak aja lo kalo ngomong." elak Aland.
"Opa, main lego yuk!" ajak Sean. Ntah lah padahal mereka adalah orang baru yang dipertemukan, namun mereka terlihat sangat akrab, bahkan seperti cucu dan kakeknya.
"Iyaa Opa, ayo main lego!" ajak Farel.
"Papi sama Papa juga ikutan ayo, biar seru," ucap Gilang. Mereka pun akhirnya duduk di karpet ruang keluarga, dan menemani para anak-anak itu bermain. Tak lama kemudian, Arsen, Rara, dan Zia pun turun kebawah untuk bergabung.
Tak lama kemudian, salah satu pelayan di sana memberi taukan bahwa makan siang sudah selesai. Mereka pun segera menuju ke ruang makan untuk melaksanakan makan siang bersama.
Setelah selesai makan siang, mereka duduk-duduk di ruang keluarga. Anak-anak sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ada yang main robot, ada yang hanya rebahan, ada yang membaca, ada juga yang menonton tv.
Biasanya, sehabis makan bawaannya mengantuk. Seperti halnya Sean, ia mulai menguap, atau mungkin terlalu lelah bermain tadi.
"Sean, tidur siang yuk!" ajak Via.
"Ean mau main Mom." padahal dirinya sudah sangat mengantuk.
"Nanti lagi ya mainnya sekarang tidur siang dulu sama Kak Farel juga."
"Ndak mau." Sean masih tetap kekeuh ingin bermain.
Nathan akhirnya menyuruh anak-anak untuk tidur siang, supaya nanti malam ketika belajar tidak mengantuk. Sean pun sudah tertidur di sofa karna sudah sangat mengantuk.
"Kak Aland, tolong dong pindahin Sean ke kamar gue." Aland pun mengangguk.
"Farel, tidur siang dulu ya sayang. Nanti sore boleh main lagi." Farel pun menganggukkan kepalanya mendengar perintah Mommynya. Lagi pula ia juga sudah mengantuk.
"Gilang tidur yuk, sama Mami," ucap Tasya, Gilang menggelengkan kepalanya.
"Gilang tidul di kamal Bunda ya Mi sama Sean dan Kak Falel," ucap Gilang dengan wajah memelas. Tasya pun tak tega dan akhirnya pun menyetujuinya.
"Ya udah, Kak Rara tidur siang dulu yuk, Mami temenin."
"Iyaa Mi." Rara pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian menuju ke kamarnya dan Tasya pun mengikuti Rara.
"Arsen, Zia tidur siang dulu yuk."
"Temenin ya Ma, Pa," ucap Zia.
"Ya udah yuk, Mama sama Papa nemenin kamu," ucap Ara.
"Kita tidur di kamar Arsen aja ya Ma." pinta Zia.
"Gak, kamar kamu aja. Aku mau tidur sendiri."
"Aku mau tidur bareng-bareng tau. Pokoknya di kamar kamu aja." kekeuh Zia.
"Gak!"
"Iya!"
"Gak!"
"Iya!"
"Ga—"
"Udah dari pada kalian berantem, tidur di kamar Mama sama Papa aja yuk!" ajak Ara.
"Papa gendong."
"Uhh anak Papa udah besar masak minta gendong." Zia pun hanya menyengir, namun Nathan pun tetap menggendong putrinya itu.
"Kami tidur siang dulu Oma, Opa," ucap Zia dan Arsen.
"Iyaa sayang," ucap Nadia, sedangkan Edgar hanya mengangguk. Nathan, Ara, Zia, dan Arsen pun menuju ke kamar.
Ruang keluarga yang tadinya rame pun menjadi sepi. Mereka semua sedang beristirahat. Nadia dan Edgar pun memutuskan untuk beristirahat juga. Karna memang jika weekend tidak ada kegiatan, mereka pun akan beristirahat. Terkadang mereka akan pergi ketempat wisata yang ada di ibu kota itu.
Aland pun menidurkan Sean dengan hati-hati agar tidak terganggu.
"Makasih kakaknya aku." Aland pun menganggukkan kepala.
"Gilang beneran mau tidur sini? Gak mau sama Papi, Mami, dan kak Rara?" Tanya Nathan.
"Gak Pi, sesekali Gilang tidul baleng sama Sean dan Kak Falel."
"Ya udah Papi ke kamar, kamu tidurnya jangan lasak, kasian nanti kak Farel sama Seannya."
"Iyaa Pi, Gilang itu kalem kalo tidul." Gilang pun mencari posisi nyamannya.
"Kalem dari mananya." gumam Aland.
"Ya udah, gue keluar dulu Vi."
"Oke kak."
Aland pun keluar dari kamar Via. Sebelum tidur, Via menyuruh Farel dan Gilang untuk mencuci tangan dan kakinya.
"Gilang, Kak Farel cuci kaki sama tangan dulu yuk."
"Bunda Gilang udah nyaman ini." keluh Gilang.
"Iyaa Mommy, ini udah posisi lebahan telnyaman."
"Harus cuci dulu, kalian anak rajin dan baik kan."
"Iyaa Bunda iya."
"Iyaa Mommy."
Dengan malas mereka bangkit dari rebahannya, rasanya berat meninggalkan kasur itu. Mereka pun melangkah ke kamar mandi dengan malas. Tak lama kemudian mereka pun keluar dari kamar mandi.
"Udah Bunda."
"Nahh sekarang, kalian tidur siang dulu."
Mereka pun menurut, mereka segera merebahkan dirinya ke kasur milik Via. Jiwa rebahan mereka sudah meronta-ronta. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah terlelap.
"Selamat tidur My Boys." Via pun mencium kening mereka satu persatu. Via pun ikut merebahkan dirinya di samping Sean. Via, Sean, Gilang, dan Farel begitulah kira-kira susunan mereka tidur. Via dan Farel sama-sama tidur di pinggir. Tanpa membutuhkan waktu yang lama untuk Via terlelap. Karna ia juga merasa lelah, tubuhnya membutuhkan istirahat.