Part 4 - Belajar Bersyukur

1976 Words
Setelah Aland, Nathan, dan Via pulang, Rafael kembali menyusuri taman Kids Fun itu. Setelah kurang lebih 3 jam Rafael mencari anak-anaknya di taman itu, namun hasilnya nihil. Rafael belum menemukan anak-anaknya. Rafael memutuskan pergi dari taman itu, dan memilih pergi ke rumah sahabatnya. Sahabatnya itu bekerja sebagai sekretaris Rafael. Ia juga pandai dalam mencari informasi. Kali ini Rafael butuh bantuannya untuk nyari Sean dan Farel. Tak membutuhkan waktu yang lama, kini Rafael sudah sampai di rumah sahabatnya, Daniel. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu rumah itu, dan Rafael langsung masuk saja menuju ruang kerjanya. Rafael jamin Daniel ada di sana mengurus tumpukan kertas-kertas yang ia berikan ke Daniel semalam. "Gak sop—" ucapan Daniel terpotong karna melihat Rafael yang membuka pintu ruang kerjanya. "Apaan lagi dah Raf, ganggu banget sih," gerutu Daniel dengan kesal. "Gue punya tugas lagi buat lo," ucap Rafael. "Ancene jancok! Heh, lo udah ngasih gue kerjaan segunung masih juga mau lo tambah." protes Daniel. "Lo kalo mau ngomel tunda dulu, ini lebih penting dari pada kertas-kertas itu." Daniel memutar bola matanya malas mendengar ucapan Rafael. "Apaan?"tanyanya dengan malas. "Please bantu gue cari Farel sama Sean. Mereka hilang Dan, gue gak tau lagi mau nyari kemana. Anak buah gue juga lagi nyari tapi mereka belum kasih info sampai sekarang." mendengar ucapan Rafael itu pun membuat Daniel melebarkan kedua matanya. Sungguh ia terkejut mendengarnya, keponakan-keponakan tersayangnya menghilang. "Gimana bisa? Kasih tau gue," ucap Daniel dengan serius. "Nanti gue bakal kasih tau ke lo. Untuk sekarang, gue mohon cari dulu keberadaan mereka. Gue istirahat dulu sebentar. Kalau lo udah nemuin keberadaan anak-anak gue, langsung kasih tau gue." Rafael pun merebahkan dirinya di sofa yang ada di ruang kerja milik Daniel. Tak membutuhkan waktu lama Rafael sudah terlelap menuju ke alam mimpinya. Ia benar-benar lelah, sudah di hari ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Sedangkan Daniel melihat Rafael dengan perasaan jengkel. Bagaimana tidak dengan seenak jidatnya sahabatnya itu memberikannya kerjaan yang menumpuk. Sedangkan ia enak-enak tidur. Namun ia juga kasihan melihat Rafael yang kacau seperti ini. Sean dan Farel juga usah ia anggap seperti keponakannya sendiri. Ia begitu menyayangi Sean dan Farel. "Asw! Kampret! Jancok!" semua umpatan Daniel ucapkan untuk melampiaskan kekesalannya pada sahabatnya itu. Namun ia tetap mencoba melacak keberadaan ponakannya itu. Daniel pun terfokus pada komputernya, mencoba mencari info dan melacak keberadaan Sean dan Farel saat ini. Pantas saja dari semalam ia tidak melihat keberadaan dua bocah itu. Bahkan Rafael dengan seenak jidatnya melimpahkan semua pekerjaannya padanya. Walaupun begitu, gaji yang diberikan Rafael padanya sangatlah imbang dengan tugas yang di berikan. *** Pagi ini kediaman Abraham terlihat semakin ramai. Ada dua orang baru yang ikut sarapan dengan mereka. Semua anggota keluarga Abraham pun menerima kehadiran mereka dengan senang hati. "Meleka siapa Bunda?" tanya Gilang. "Ini Sean dan Kak Farel, mereka temen kamu. Sean, Farel kenalan sana sama Gilang, kak Arsen, kak Rara, dan kak Zia." Farel dan Sean menuruti ucapan Via. Mereka pun saling berkenalan. Mereka tidak mengenal Farel dan Sean karna baru tadi malam mereka pulang dari rumah nenek dan kakek mereka dari pihak ibu. Tasya dan Ara sudah ingin tau siapa anak-anak itu dan mengapa juga mereka memanggil Via dengan sebutan 'Mommy'. Namun mereka urungkan dan akan bertanya nanti kepada Via setelah sarapan. "Sean, Farel, mau makan apa sayang?" tanya Via. "Ean mau ayam kecap." "Falel mau nasi goreng seafood." "Sayang, tapi hari ini gak masak itu. Yang ada aja yaa, makan sayur sup, capcay seafood, ayam bumbu, roti dengan selai, atau sereal?"ucap Via. "Ndak mau, Ean mau ayam kecap," ucap Sean kekeuh dengan keinginannya. "Falel juga maunya nasi goreng seafood." Via menghela nafasnya, sepertinya mereka anak yang dimanja dan semua keinginannya di turuti. Ini tidak bisa dibiarkan, mereka harus hidup dengan selalu bersyukur. "Hmm, kalian makan yang ada dulu ya, nanti Mom ajak kalian pergi ke suatu tempat, gimana?" tawar Via. Mereka mengangguk, dan memakan makanan yang telah disiapkan. Mereka menikmati menu sarapan pagi ini. Selama sarapan hanya terjadi keheningan, karna memang adatnya seperti itu. Setelah selesai sarapan, Via mengajak Sean dan Farel pergi ke suatu tempat. Gilang pun ingin ikut, dan Via pun mengiyakannya. Arsen, Zia, dan Rara mereka ingin pergi ke taman, mereka mengajak Papa dan Mama mereka. "Pak Jarwo." panggil Via. "Iya non ada apa?" "Anterin saya dan anak-anak pergi yaa." "Siiiaappp Non!" pak Jarwo langsung menyiapkan mobilnya, mereka pun segera masuk ke dalam mobil itu. "Ini mau kemana ya Non?" tanya pak Jarwo. "Pergi ketempat biasanya pak. Oh iya, sebelum itu pergi ke supermarket dulu yaa." Pak Jarwo pun paham Via akan kemana. Via, Gilang, Farel, dan Sean pun memasuki supermarket itu. Via membeli beberapa bahan sembako, selebihnya anak-anak membeli cemilan dan minuman. Setelah selesai berbelanja mereka pun melanjutkan perjalanannya lagi. Barang yang di beli Via tadi, ia serahkan kepada orang kepercayaannya untuk dibawa ke tempat yang akan mereka kunjungi. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di dekat pinggir kota, dimana di sana terlihat sebuah kampung yang lumayan kumuh. Rata-rata penduduk di sana bekerja sebagai pemulung. Ada di antara mereka yang mencari makanan di tempat sampah, ada pula yang tidak makan. Seperti itu adalah warga baru. Setiap dua minggu sekali atau seminggu sekali Via akan datang kemari. Jika tak sempat ia akan menyuruh orang kepercayaannya untuk membagikan beberapa sembako dan keperluan untuk mereka yang kurang mampu. Ketika Via datang, mereka menyapanya, Via meminta mereka untuk tidak berlebihan ketika menyambutnya. Mereka yang di kampung pemulung itu sangat mengenal Via, kurang lebih satu tahun ini, Via membantu mereka. "Mom, kenapa kita kesini?" tanya Farel dengan memandang sekitarnya sedikit jijik. Karna dimana-mana ada sampah dan lingkungan terlihat kumuh. Begitu pula dengan Sean, ia terlihat sedikit jijik. Berbeda dengan Gilang, ia terlihat biasa saja karna ia sering ikut dengan Via kesini. "Mommy akan tunjukkan sesuatu sama kalian. Ikut Mommy yuk!" Via pun mengajak anak-anak mengikutinya. Pak Jarwo pun juga mengikuti di belakangnya. Keluarga Via tak pernah tau jika ia sering kesini maupun ke panti asuhan. Hanya Pak Jarwo, orang kepercayaannya, dan Para keponakannya. Keponakannya pun tak memberi taukan hal ini kepada Oma, Opa, dan orang tua mereka. Sepanjang perjalanan menyusuri kampung itu, Sean dan Farel hanya diam. Mereka berhenti berjalan, mereka berdiri tak jauh dari orang yang sedang memungut makanan bekas dari tong sampah. Via mensejajarkan tingginya dengan Farel dan Sean. "Farel, Sean liat kearah sana." Via menunjuk kearah orang itu. "Kalian lihat mereka sedang apa?" tanya Via. "Meleka sedang makan Mom," ucap Farel. "Iya, meleka makan dengan lahap," ucap Sean. "Kalian tau kenapa Mom ajak kalian kesini?" mereka kompak menggeleng. "Mom mau menunjukkan sesuatu pada kalian, bahwa kita harus hidup bersyukur sayang. Lihat mereka, mereka tak seberuntung kita yang bisa makan enak, tidur di tempat yang nyaman, bahkan kita bisa membeli apapun yang kita mau. Mommy mau kalian selalu bersyukur dengan keadaan sayang, kita jauh beruntung di bandingkan mereka. Kalian ingat kita sarapan enak kan tadi pagi?" mereka mengangguk kembali, mereka melihat keadaan kampung itu, jauh lebih buruk dari tempat tinggalnya. "Salapan dengan sayul sup Mom," ucap Farel "Salapan dengan ayam bumbu Mom," ucap Sean. "Kalian tau mereka makan apa?" "Meleka ambil dari tong sampah Mom." "Iya, tapi itu kan ndak baik Mom." "Lebih enak waktu kita makan tadi kan? Yang sudah jelas makanan yang higienis." "Iya Mom," ucap mereka. "Maka dari itu kalian harus mensyukuri apa yang ada, kalian harus menikmati makanan yang ada, jangan suka menghambur-hamburkan sesuatu. Jangan pula membuang-buang makanan. Nanti makanannya sedih dong kalo gak di habisin. Jangan begitu lagi ya sayang. Mom percaya kalian anak-anak yang baik. Coba lah mulai hari ini, kita belajar bersyukur," ucap Via dengan lembut. "Oh iya, jangan lupa selalu menerapkan kata 'tolong' untuk meminta bantuan, kepada siapapun itu. Kemudian ucapkan 'maaf' jika kamu salah. Dan kata 'terimakasih' ketika kamu di bantu orang lain atau di berikan sesuatu." Via tau mereka akan paham, Via bisa melihat jika mereka adalah anak-anak yang cerdas. "Iya Mom, kami janji mulai sekalang kami akan selalu belsyukul dan selalu ingat apa kata Mommy," ucap Farel dan di angguki oleh Sean. Mereka berdua memeluk Via. "Telimakasih Mom." ucap Farel. "Untuk apa sayang?" "Sudah mengajali kami tentang belsyukul. Falel sayang Mommy, Falel juga belsyukul bisa beltemu dengan Mommy yang baik sepelti Mom. Falel sayang sama Mommy." Via pun terharu mendengar ucapan Farel, hatinya menghangat. "Sama-sama sayang. Mommy juga sayang Farel." Via mempererat pelukannya. Pak Jarwo selalu kagum dengan anak majikannya itu, gadis muda yang memiliki kebaikan hati, ramah, dan selalu bersyukur, bahkan ia tak pernah melihat nona mudanya mengeluh. Via sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. "Ean sayang sekali dengan Mom, telimakasih Mom. Mom adalah Mommy telbaik yang Ean punya." "Mom juga sayang sama Sean. Jadilah anak-anak baik, sholeh, jangan pernah sombong, dan selalu bersyukur nak." mereka mengangguk di dekapan Via. Mereka mengurai pun pelukannya. "Mau keliling lagi?" tanya Via, mereka pun mengangguk. "Gilang sini sayang, sama kak Farel dan Sean juga." "Iya Bunda." mereka bertiga berjalan terlebih dahulu Via di belakang mereka. Pak Jarwo pun juga mengikuti mereka. Tiga bocah kecil itu sesekali bercanda. Mereka terlihat sangat akrab seolah sudah kenal lama. Mereka berhenti tak jauh dari bangunan sekolah, bangunan yang sudah tak layak pakai, namun banyak anak-anak yang bersemangat untuk menimba ilmu di sana. "Farel udah sekolah?" tanya Via. "Sebenelnya udah Mom, tapi kemarin di Bandung. Baru bebelapa hali yang lalu pindah. Telus, kemalin Daddy udah mau daftal tapi Falel gak mau, tapi Felel belajal di lumah kok. Nanti kalo Falel sekolah kasian Sean gak ada temen main di lumah. Kata Oma waktu itu umul Sean belum cukup." "Farel mau sekolah disini gak?" "Mau Mom." "Besok kita cari sekolah buat kamu yuk." "Benelan Mom?" "Iya sayang." "Tapi nanti Sean gimana?" Farel adalah anak yang sangat peduli. Dia akan selalu memikirkan adiknya, ia juga orang yang mengalah jika bersama adiknya, ia sangat menyayangi adiknya, Sean. "Hmm Sean mau sekolah?" "Mau Mom." "Besok kita cari sekolah untuk kalian, sama Gilang juga. Gilang mau kan?" "Iyaa Bunda, Gilang mau!" jawabnya dengan antusias. Ini lah yang di tunggu Gilang, mencari teman dekat dan di ajak ke sekolah bersama, setidaknya ia sudah mengenal temannya walaupun masih Sean yang ia kenal. "Oke besok kita cari sekolah yaa. Kalian janji dulu, kalau udah sekolah harus rajin belajar oke?" "Iyaa Bunda, Gilang janji." "Iya Mom, Ean janji." "Falel janji Mom." Ucap mereka dengan serempak, mereka terlihat begitu semangat. Setelah berkeliling, mereka memutuskan untuk pulang kerumah. Mereka mampir untuk pergi ke taman, di sana Farel melihat ibu-ibu paruh baya seperti seumuran Omanya dengan dagangan kue-kuenya yang terlihat belum laku. "Mom, boleh bantu nenek itu?" tanya Farel. "Boleh sayang." "Felel boleh pinjam uang Mom? Besok Falel ganti kalau Falel udah punya uang." Via dibuat gemas dengan tingkah Farel. Namun iya tak akan meminta ganti kepada Farel nantinya. "Iyaa sayang, ya udah kita ke sana yaa." Farel, Sean, Gilang dan Via berjalan kearah ibu itu. Pak Jarwo tidak ikut bersama mereka dan memilih menunggu di mobil. "Nek, ini belapa kuenya?" tanya Farel. Farel melihat ada berbagai macam makanan tradisional seperti pastel, risoles, onde-onde, dan lain-lain. "Oh, semuanya cuma 1000an nak." "Mom." Farel memberi kode untuk mensejajarkan tingginya, Via pun paham. "Mom, kita beli semua kuenya ya kayaknya enak-enak. Kita bawa pulang ke lumah kita makan baleng-baleng nanti. Boleh kan Mom?" bisik Farel. Via pun tersenyum dan mengangguk. "Iyaa sayang, boleh kok." "Nek, Falel mau beli semuanya." "Beneran nak?" Farel mengangguk antusias. "Berapa bu semuanya?" "150 ribu neng." "Ini bu, uangnya." Via memberi uang lebih kepada Ibu itu. "Ini kelebihan neng uangnya." ibu itu berniat memberikan kembali uang itu namun Via tolak. "Gak usah bu, buat ibu aja, itu rezeki buat ibu." "Alhamdulillah ya Allah. Makasih banyak neng. Semoga eneng diberi kelancaran rezeki, panjang umur dan sehat selalu." ibu itu pun bersujud syukur. "Sama-sama bu, Aamiin. Semoga dagangan ibu selalu laris." ibu itu meng-aamiinkan ucapan Via. Kemudian ibu itu memasukkan berbagai makanannya ke kantong plastik dan memberikannya kepada Via. "Kalau begitu kami permisi dulu bu." "Iya neng, hati-hati." mereka memutuskan untuk pulang kerumah dan memakan makanan itu bersama-sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD