Di rumah megah milik keluarga Abraham. Sean bangun lebih dulu di bandingkan Farel, karna ia merasa kedinginan. Selimutnya berada di bawahnya, karna memang Sean dan Farel jika tidur lumayan lasak. Namun ketika ia bangun, ia tak menemukan Mommynya. Ia tau ini bukan kamarnya, dan ini adalah kamar milik Mommynya. Tapi sekarang ia tak menemukan keberadaan Mommynya. Pikiran negatif pun muncul di pikiran Sean, ia takut Mommynya meninggalkannya lagi. Ia tau Mommy Via bukan Mommynya, namun ia begitu nyaman berada di dekat Via. Ia pun memutuskan untuk membangunkan kakaknya.
"Kak... Kakak... Mom mana? Kok gak ada?" Tanya Sean sambil membangunkan kakaknya.
"Kak... bangun... Mom ndak ada. Hikss... Kak Falel." Farel yang mendengar suara adiknya menangis pun menjadi bangun.
"Eh kenapa Sean? Kok nangis?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Farel menyenderkan badannya di kepala ranjang, ia masih dalam keadaan setengah sadar.
"Hiks... hikkss... Mom... hikkss... ndak ada." Tangis Sean pun pecah.
"Benelan? Coba kita cali disekital kamal ini dulu." Mereka berdua pun turun dari atas ranjang dan mengitari kamar milik Via, dari kamar mandi, walk in closet, bahkan sampai ke balkon namun tidak menemukan Via.
"Hikkss... Kak... Mom mana?" Farel pun menggelengkan kepalanya. Akhirnya Farel ikut menangis karna tidak menemukan Via.
"Hikkss... Kakak gak tau Sean."
"Mom ndak... hikkss... ndak akan pelgi lagi kan kak?" tanya nya dengan tatapan sendunya.
"Pasti Mommy... hiikkss... gak akan ninggalin kita," ucap Farel. Mereka pun memutuskan keluar kamar itu, sambil menangis dengan menyebut nama Mommy.
Jadilah pagi ini, kediaman Abraham di buat heboh oleh dua bocah laki-laki itu. Banyak pelayan yang lewat menatap mereka heran, karna mereka masih merasa asing dengan kehadiran Sean dan Farel. Tasya, Ara, dan Nadia yang sedang memasak pun mendengar suara gaduh itu.
"Kok pagi-pagi udah pada berisik ya," ucap Tasya.
"Iyaa, anak-anak kalau gak di bangunin gak akan bangun. Tau sendiri mereka kebo banget. Apalagi hari libur gini," ucap Ara.
"Iyaa nih Ra, tapi kok kayak bocah nangis yaa? Gilang gak kayak gitu kalau nangis."
"Ma, Mama denger suara nangis gak? Kok dari tadi diem aja?"
"Iyaa Mama denger, Mama lagi mikir siapa itu yang nangis. Anak tetangga kalo nangis gak akan sampai sini," sahut Nadia.
"Masa pagi-pagi udah horor aja Ma," celetuk Tasya sambil memegang belakang lehernya.
"Ma, kok tambah nangis kejer gitu sih, manggil siapa sih, anak-anak gak ada yang manggil kita dengan sebutan 'Mommy'," ucap Ara.
Mendengar ucapan Ara, Nadia langsung tersadar, ia lupa ia telah membawa dua bocah kecil kerumahnya bersama dengan Via.
"ASTAGFUIRULLAH..... MAMA LUPA ITU SEAN SAMA FAREL!" Nadia berteriak membuat Ara dan Tasya terkejut. Ara dan Tasya tidak tau jika ada Sean dan Farel di rumah ini. Karena dari semalam mereka menginap di rumah orang tuanya. Karena orang tua mereka merindukan cucu-cucunya. Waktu malamnya ketika Via dan Nadia membawa kedua anak kecil itu, mereka sudah tertidur. Dan pagi harinya, Ara dan Tasya berangkat begitu pagi ke rumah orang tuanya, dan di antar oleh suami mereka. Kemudian Ara dan Tasya pulang ketika sudah cukup larut, sehingga mereka tidak bertemu dengan Farel dan Sean.
"Mama pergi dulu nemuin Sean sama Farel, kalian lanjut dulu masaknya. Astaga kok bisa Mama lupa gini." Tanpa menunggu jawaban dari Tasya dan Ara, Nadia pun melangkahkan kakinya menuju ke suara tangisan Farel dan Sean. Mereka membiarkan Nadia yang menemui Sean dan Farel, sedangkan mereka melanjutkan kegiatan memasak.
"Anjirr, teriakan Mama, sungguh cetar membahana. Jantung gue rasanya mau copot," ucap Tasya sambil mengusap d**a.
"Gillaaaa!!! Petcaahhh banget teriakan Mama, untung tabung gasnya gak meledak denger suara merdu Mama," ucap Ara.
"Gitu-gitu mertua kita Ra, walaupun gitu dia sayang sama mantunya. Beruntung banget kita tau."
"Nah iyaa bener, temen-temen gue pada curhat soal mertua mereka, katanya pada gak betah tinggal sama mertua mereka. Mereka bilang cerewet lah, malah kayak babu lah, banyak lagi deh."
"Ho'oh temen-temen gue juga gitu." Mereka pun mengobrol sambil memasak.
"BTW, Sean sama Farel itu siapa?" Tanya Tasya.
***
Saat ini, Farel dan Sean duduk di ruang keluarga sambil berpelukan, mereka masih menangis. Nadia pun datang dengan tergopoh-gopoh. Ketika sudah di depan Farel dan Sean, ia mendudukkan dirinya di dekat mereka sambil mengatur napasnya.
"Astaga Farel, Sean... maaf Oma lupa kalau ada kalian." Nadia mendekati mereka dan memeluknya. Mereka membalas pelukan Nadia dengan erat. Nadia merasa sangat bersalah pada kedua anak laki-laki itu.
"Maaf Oma lupa sayang. Sstt... jangan nangis lagi yaa ada Oma disini." Nadia masih terus mengelus punggung Sean dan Farel. Tak lama kemudian, Edgar pun datang ke ruang keluarga, ia duduk tak jauh dari mereka. Ia melihat interaksi istrinya dan cucu-cucu barunya. Ntah lah ia merasa terpesona dengan dua bocah itu.
"Oma, Mom mana? Hikkss... Ean takut Mom pelgi lagi," ucap Sean dengan sesenggukan.
"Iyaa Oma, Mommy mana? Kenapa Mommy pelgi lagi?" Tanya Farel dengan suara seraknya karena habis menangis. mereka sudah sedikit lebih tenang.
"Mommy lagi pergi olahraga sayang, bentar lagi Mommy pulang kok. Jangan nangis lagi ya, nanti pas Mommy pulang terus liat Sean dan Farel habis nangis, nanti Mommy ikut sedih. Kalian emang mau liat Mommy Via sedih?" Mereka kompak menggeleng di dekapan Nadia.
"Nahh sekarang jangan nangis lagi ya, bentar lagi Mommy pulang kok."
"Mau sama Mommy, Oma, hikkss... hikkss."
"Iya sayang, sabar ya, Mommy lagi di jalan mau pulang."
"Mommy Oma, Ean mau sama Mommy hikkss... hikkss."
"Hello Sean! Farel!" Sapa Edgar. Mereka berdua pun menoleh ke arah Edgar. Mereka hanya memperhatikan Edgar karena mereka belum terlalu dekat dengan keluarga Abraham kecuali Via dan Nadia. Suasana menjadi hening, namun tidak dengan Sean, ia masih nangis sesenggukan.
"Sama Opa Edgar yuk!" Ajak Edgar. Mereka masih diam, seolah takut dengan Edgar.
"Jangan takut, sini main sama Opa." Mereka menggeleng dengan kompak.
"Ean mau Mom, hikkss... hikkss." Edgar pun mendekati Sean yang kini dalam pangkuan istrinya itu.
"Ehh anak tampan gak boleh cengeng dong, nanti jelek."
"Ean mau Mom, Opa. Sekalang Opa hikkss... hikkss." Sean masih nangis sesenggukan dan melingkarkan tangannya ke leher Nadia, kepalanya pun ia sandarkan di d**a Omanya itu.
"Opa gendong yuk, biar Oma yang telpon Mommy kalian yaa. Tapi janji Sean dan Farel jangan nangis lagi." Sean pun mengangguk kemudian merentangkan tangannya kearah Edgar, dengan senang hati Edgar menggendong Sean.
Farel memeluk Omanya dari samping dan menyenderkan kepalanya di d**a Nadia. Nadia pun mengangkat Farel dan memangkunya. Jadilah Farel menyandarkan kepalanya di bahu Nadia.
"Kamu telpon Via deh Ma, kasian mereka nyariin terus sampai nangis gini."
"Iya Pa." Nadia pun mengambil ponselnya yang ada di atas meja ruang keluarga itu. Nadia segera menghubungi Via.
"Mereka ada dimana Ma? Kok gak sampai-sampai dari tadi?"
"Katanya Via, mereka udah di deket rumah Pa. Bentar lagi sampai kok." Edgar menganggukkan kepalanya.
"Mau nunggu Mommy kamu di depan?"
"Iyaa Opa," ucap Sean dengan suara seraknya karna habis menangis.
"Kak Farel mau ke depan juga?" Tanya Edgar. Farel menjawab dengan anggukan. Nadia pun menggendong Farel. Mereka berjalan keluar menuju teras depan. Untung saja cucu-cucunya yang lain tidak terbangun. Jika terbangun, Edgar dan Nadia akan pusing menanganinya. Apalagi jika Gilang sudah terjaga, mereka membutuhkan tenaga ekstra, karena anak itu sangat aktif dan tak bisa diam.
Mereka pun duduk di kursi yang ada di teras depan rumah mereka. Edgar meminta pelayan untuk membawakan beberapa mainan milik Gilang dan juga membawakan kue cookies dan s**u.
Farel dan Sean kini pun memainkan mainan itu. Sambil menunggu kedatangan Via. Sesekali mereka memakan cookies dan meminum s**u itu.
"Punten tuan, itu anaknya siapa ya?" Tanya pak Jarwo yang kebetulan lewat di depan teras itu. Karena kemarin Pak Jarwo tidak masuk bekerja. Jadilah ia baru mengetahui ada orang lain di rumah Tuannya.
"Ohh ini anak rekan kerja saya, mereka menginap disini dari kemarin."
"Oo, mereka lucu-lucu, pengen saya karungin trus bawa pulang deh hehe...."
"Jangan dong Wo, cucu-cucu saya juga ini," ucap Nadia.
"Hehe bercanda Nonya." Tak lama kemudian, Via, Aland, dan Nathan pun sudah sampai di rumah. Peluh membasahi wajah cantik dan tampan mereka.
"Assalamualaikum Ma, Pa, Pak Jarwo," ucap mereka serempak sambil menyalami mereka satu persatu. Mereka juga menyalami pak Jarwo, itulah ajaran orang tua mereka, tidak membeda-bedakan kasta seseorang dan kita sebagai yang muda harus menghormati orang tua.
"Waalaikumsalam," jawab mereka.
"Mommy," pekik Farel dan Sean, mereka segera turun dari kursi dan langsung memeluk kaki milik Via.
"Ehh, kok manggil non Via 'Mommy'?" Tanya Jarwo dengan bingung.
"Iyaa pak, kasian mereka kangen sama Mamanya jadi aku biarin mereka panggil aku Mommy." Pak Jarwo hanya menganggukkan kepalanya, walaupun masih banyak pertanyaan di benaknya, tapi ia tak ingin ikut campur urusan orang lain. Tapi, jika ada mereka yang bercerita dengannya, ya Pak Jarwo akan mempersilahkan.
Via pun menyamakan tingginya dengan Farel dan Sean.
"Mom bersih-bersih dulu ya. Badan Mom bau nih habis olahraga. Kalian udah mandi?" mereka kompak menggeleng.
"Ya udah mandi sama Mom yuk!" Ajak Via dan mereka mengangguk semangat.
"Ayo Mom," sahut mereka penuh semangat.
Via pun berdiri, ia berpamitan kepada Mama, Papa, dan Pak Jarwo untuk membersihkan diri. Begitu pula dengan Nathan dan Aland mereka juga pamit untuk membersihkan diri.
Via pun memandikan Sean dan Farel terlebih dahulu, memang sedikit susah karena mereka asik bermain air. Bahkan mereka ingin terus berendam.
"Udah yuk, nanti kalian masuk angin."
"Bental lagi Mom."
"Udah dong, kita kan mau sarapan bareng. Kasian dong mereka nunggu kita." Dengan sabar Via merayu mereka hingga mereka mau menyudahi acara mandi itu, dengan telaten Via memberi minyak telon dan bedak bayi ke badan mereka. Kemudian Via memakaikan baju milik Gilang untuk mereka.
Ada beberapa pasang baju milik Gilang yang sedikit kebesaran, jadi baju itu pas dengan Farel. Jangan heran di kamar Via lengkap dengan bedak bayi, karena selain menyukai aroma bayi, Gilang juga sering mandi dan tidur dikamar Via. Keponakannya yang satu itu sangat lengket dan manja padanya.
Setelah selesai, Via pun membersihkan dirinya. Ia membiarkan Farel dan Sean di atas ranjangnya dengan beberapa mainan milik keponakannya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Via membersihkan diri. Kini, ia sudah rapi dengan pakaian kasualnya.
"Hello my baby boys."
"Hai Mom," ucap mereka serempak.
"Tadi kenapa kalian kok nangis hmm?" Tanya Via dengan suara lembutnya.
"Habisnya Mommy gak ada pas kami bangun tidul," ucap Farel.
"Iyaa, Ean cali-cali Mom, tapi ndak ada. Telus Ean nangis, bangunin Kak Falel," ucap Sean masih fokus dengan mainannya.
"Kami takut Mommy pelgi ninggalin kita lagi," ucap Farel dengan menatap mata Via. Di sana Via melihat kerinduan seorang anak pada ibunya. Farel menatap Via dengan sendu, seolah benar-benar takut kehilangan seorang ibu. Mendengar ucapan Oma dan Opanya beberapa bulan lalu yang memberi taunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal akibat kecelakaan. Walaupun belum sepenuhnya mengerti, tapi yang Farel tangkap Mama dan Papanya tak akan kembali lagi. Kata Omanya, orang tuanya sudah ada di surga. Mereka tergolong anak yang cerdas di usianya yang masih kecil. Farel dan Sean juga membutuhkan sosok seorang ibu dimana mereka masih dalam masa tumbuh dan berkembang.
"Sayang, Mommy gak akan ninggalin kalian. Kalau kalian sudah berjumpa dengan keluarga kalian dan kembali kepada mereka, rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian." Via pun mengelus kepala Farel dengan sayang. Farel pun langsung memeluk Via dengan erat. Tangannya ia kalungkan di leher Via, dan kepalanya ia tenggelamkan di ceruk leher Via.
"Falel sayang Mommy, please don't leave me Mom," ucap Farel dengan lirih.
"Iyaa sayang, Mom disini sama kamu dan Sean. Mom gak akan ninggalin kalian." Farel semakin mempererat pelukannya pada Via, Via pun membalas pelukannya dan mengusap punggung Farel. Sean yang melihat Mommy dan kakaknya berpelukan pun mendekatkan dirinya dan ikut bergabung. Via pun mendekap Sean dan mengusap punggungnya.
"Mom, jangan pelgi-pelgi lagi yaa. Ean nanti sedih kalau Mommy gak ada."
"Iyaa sayang, Mommy gak pergi ninggalin kalian. Ya udah kita sekarang sarapan yuk." mereka mengurai pelukannya.
"Ayo Mom!" Ajak mereka dengan kompak. Mereka pun keluar dari kamar dan turun kebawah untuk melaksanakan sarapan bersama.