Pagi ini Olive bangun lebih pagi dari pada biasanya. Ia melihat samping kanan dan kirinya dan melihat dua jagoan kecilnya yang masih tertidur pulas. Ia pun tersenyum melihat mereka, perlahan ia bangun dan menuju kamar mandi bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Ia akan sholat berjamaah bersama keluarganya.
Ketika Via keluar kamar mandi, ia ingin membangunkan anak-anak itu, namun ia urungkan. Via melihat mereka yang masih tertidur pulas pun tak tega untuk membangunkannya.
Via pun bergegas ke ruang sholat yang ada di lantai bawah, mereka akan melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Hari ini adalah hari minggu, artinya sudah 2 hari Farel dan Sean berada di rumah keluarga Abraham. Sampai saat ini belum ada berita tentang anak hilang.
Pagi ini, Via pun akan melakukan olahraga pagi di sekitar taman dekat tempat tinggalnya, yaitu perumahan Pelangi. Begitu nyaman tinggal di lingkungan perumahan Pelangi, di sana orangnya terkenal baik dan ramah.
Ia pun bersiap-siap menggunakan pakaian olahraga karena matahari akan terbit, ia sungguh malas dengan cuaca yang sangat panas. Jika pagi begini udara masih terasa segar, Ia pun turun ke bawah.
"Ma, Pa, Via pergi olahraga dulu ya, di deket taman sana. Assalamualaikum." Via pun berpamitan kepada orang tuanya.
"Waalaikumsalam," ucap Nadia dan Edgar dengan serempak. Via pun berjalan keluar.
Ketika Via berada di ruang tamu, ia melihat kedua kakaknya.
"Mau kemana Vi?" tanya Aland.
"Mau ke kantor kak."
"Kok pake baju olahraga?"
"Aduhh! Kak, gue pake baju olahraga ya mau olahragalah. Ini juga hari Minggu," ucap Via dengan gemasnya melihat kakaknya, masih pagi saja sudah lola.
"Mungkin lagi banyak pikiran." batin Via.
"Aku ikut," ucap Nathan sambil bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
"Gue juga ikut, lo tunggu sini jangan kemana-mana." Aland pun bergegas pergi sebelum Via menjawab. Via hanya berdecak kesal. Ia pun duduk di depan teras. Di sana ada Pak Rahmat yang sedang menyapu halaman dan pak Jarwo yang sedang mencuci mobil.
"Pagi Non, mau olahraga to Non?" tanya Jarwo.
"Nggih Pak," sahut Via.
"Loh mau olahraga kok duduk-duduk dulu? Nanti mataharinya keburu terbit Non, nanti kepanasan lagi."
"Nunggu kakak-kakak saya Pak, lama banget." Pak Jarwo mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian Nathan dan Aland sudah berdiri di samping Via.
"Ayo berangkat!" Seru Aland. Via dan Nathan mengangguk.
"Pak Jarwo, Pak Rahmat, kami pergi dulu," pamit Via.
"Okee Non, Den," ucap Pak Rahmat
"Hati-hati Non, Den." Mereka bertiga pun mengangguk dan mereka berlari kecil menuju taman.
***
Keluarga Franklin dibuat heboh. Bagaimana tidak? Anak-anak atau cucu dari keluarga Franklin menghilang. Sudah 2 hari anak-anaknya menghilang, mereka sudah mencoba mencarinya namun nihil belum ada hasilnya, mereka belum juga menemukan anak-anaknya. Lelaki itu terlihat begitu kacau saat mendengar anak-anaknya menghilang. Bahkan ia tidak tidur semalaman. Pagi ini ia akan mencoba mencari anak-anaknya lagi.
"Ma, Pa, Rafael berangkat dulu, mau cari Farel dan Sean." pamitnya.
"Hati-hati sayang, semoga kamu menemukan cucu-cucu Mama. Hiks ... hiks," ucap Siska, Mama dari Rafael.
Ya, mereka adalah keluarga Farel dan Sean, anak kecil yang imut itu. Mereka diberi kabar oleh Sesil sahabat dari Rafael bahwa anak-anaknya hilang saat ia tinggal pergi ke toilet. Terkejut? Panik? Khawatir? Tentu saja iya, orang tua mana yang akan tenang jika mendengar anaknya menghilang. Itulah yang di pakaian yang dirasakan oleh keluarga Franklin.
"Iya Ma, Rafa akan berusaha sebisa mungkin untuk nemuin anak-anak. Pa, jaga Mama ya." Dani sang kepala keluarga itu mengangguk. Ia sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari cucu-cucunya.
"Hati-hati nak."
"Iya Pa, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kali ini ia mencoba pergi ke taman Kids Fun, ntah mengapa ia ingin mencoba pergi ke taman di dekat perumahan Pelangi. Anak-anak sangat suka bermain di taman Kids Fun tersebut, di sana banyak beberapa permainan khusus anak-anak. Maka dari itu taman itu paling diminati oleh anak-anak. Tidak hanya itu di sana merupakan tempat yang nyaman dan bersih. Sehingga banyak orang yang betah jika berada di taman itu. Baik dari anak-anak sampai orang dewasa.
Rafael pun telah tiba di taman itu, ia sedang memarkirkan mobilnya. Ia keluar dari mobilnya dan berlari-lari kecil.
"Sekalian olahraga." batinnya.
Ia mencari keberadaan anak-anaknya dengan mengelilingi taman itu. Taman itu lumayan luas, berhubung hari ini hari minggu, pengunjung taman itu sangat ramai. Ini akan mempersulit Rafael untuk mencari anak-anaknya.
Ia pun terus menyusuri taman itu, melihat sekitar taman mencari keberadaan anak-anaknya. Rafael menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari ke taman dekat Cafe Holiday sedangkan ia di taman ini.
Mama Is Calling.....
"Hallo, Ma."
"Gimana? Farel dan Sean udah ketemu belum?"
"Belum Ma, Rafa lagi coba cari di taman Kids Fun, soalnya di sini juga banyak anak-anak siapa tau mereka di sini."
"Semoga saja Rafa, Mama harap hari ini kamu membawa mereka pulang."
"Doain aja Ma, semoga aja hari ini ada kabar baik."
"Iya sayang, Mama selalu mendoakan yang terbaik."
Bugh....
"Aaww, Oh My God! b****g montok dan seksi gue sakit!" Ringis gadis itu.
"Ma, nanti Rafa telpon lagi, Assalamualaikum." tanpa mendengar jawaban salam dari sebrang sana, Rafael mematikan telponnya.
"Cantik." batinnya.
"Aduhh maaf saya enggak sengaja," ucap Rafael. Yaah, Rafael menabrak seorang gadis, ia tidak melihatnya karena ia tadi berjalan dan ia pun sedang menelpon. Belum lagi pikirannya penuh dengan anak-anaknya hingga ia tak menyadari ada seseorang di depannya.
***
Via dan kedua kakaknya pun sudah sampai di taman Kids Fun dekat perumahan mereka. Mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu. Setelah itu, mereka memutuskan untuk berpencar.
"Oke nanti kalo udah siap joging nya ngumpul disini lagi ya," ucap Aland.
"Oke Om Aland," ucap Via.
"Sialan gue gak setua itu."
"Itu nama lo sendiri kak, Si-Aland," ledek Via dengan menekan kata Si-Aland.
"Lo belum pernah kan ngerasain sepatu olahraga? Mau gue suapin?" Tanya Aland sambil melebarkan matanya seolah sedang marah.
"Hehe maaf kak, sensi amat lo pagi ini."
"Udah-udah, ayo kita olahraga." lerai Nathan. Mereka pun menyudahi percakapan itu dan mereka berpencar.
Cukup lumayan Via mengelilingi taman itu, ia pun membeli air mineral. Setelah minum, ia melakukan beberapa pergerakan kecil.
Hingga pada akhirnya ada seseorang yang menabraknya.
"Aaww, Oh My God! b****g montok dan seksi gue sakit!" Ringis Via.
"Astagfirullah apes banget sih, aduh kaki gue kayaknya keseleo deh," batin Via.
"Aduh, maaf saya enggak sengaja," ucap pemuda itu. Via pun mendongakkan kepalanya.
"Oh God! MasyaAllah, ganteng banget nih orang," batin Via.
"Astagfirullah, hamba khilaf ya Allah. T-tapi emang beneran ganteng," ucap Via dalam hati.
"Hey... Hello... kamu gak papa?"
"Eh.. iya?" Via pun tersadar dari lamunannya.
"Kamu gak papa? Ada yang sakit? Maaf ya, tadi saya beneran gak sengaja nabrak kamu," ucap Rafael dengan rasa bersalahnya.
"Eh iya gak papa Mas. Saya juga gak kenapa-napa kok." Via pun mencoba untuk bangun namun ia jatuh lagi. Sungguh kakinya sangat sakit.
"Aahh...." Ringis Via.
"Mana yang sakit? Kita duduk sana dulu aja, ya." Rafael pun membantu Via berdiri dan memapahnya untuk duduk di kursi taman yang di dekatnya.
"Yang mana yang sakit?" Tanya Rafael lagi.
"Ini kaki saya, sepertinya keseleo," sahut Via.
"Coba saya lihat dulu, boleh?" Tanya Rafael meminta izin. Via pun menganggukkan kepalanya, tanda memberi izin.
Setelah mendapatkan izin dari Via. Rafael pun meletakkan kaki kiri Via ke pangkuannya, dan ia membuka sepatu Via. Ia melihat pergelangan kaki Via sedikit memerah.
"Maaf saya benar-benar gak sengaja, saya antar kamu ke rumah sakit aja gimana?" tanya Rafael.
"Ehh gak usah Mas, gak papa nanti juga sembuh."
"Gak bisa gitu dong, ini tanggung jawab saya yang udah bikin kamu jatuh."
"Iya, lo juga harus tanggung jawab kalau gue jatuh cinta sama lo," batin Via.
"Beneran deh Mas gak papa, nanti saya minta tukang pijet aja di rumah."
"Mau saya antar pulang sekarang?" Tanya Rafael.
"Oh, makasih atas tawarannya Mas—"
"Nama saya Rafael Gionino, panggil aja Rafael."
"Iya, Mas El."
"Hah?"
"Kenapa? Saya bolehkan panggil kamu dengan sebutan Mas El? Sepertinya umur kamu lebih tua sedikit dari saya. Supaya lebih sopan saya panggil Mas aja gak papa kan?"
"Hmm iya, gak papa." Baru kali ini ia di panggil dengan sebutan El. Ntah mengapa, ia merasa spesial dipanggil dengan sebutan El oleh gadis di depannya ini.
"Oh iyaa, nama saya Olivia Clarissa, panggil aja Via." Rafael pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Saya antar pulang aja gimana?" Tanya Rafael.
"Gak usah Mas, saya ke sini sama kakak saya tadi. Jadi, saya telpon mereka aja biar saya pulang bareng mereka."
"Sama aja dong saya gak tanggung jawab. Saya liat dulu kaki kamu sebentar." Rafael pun mencoba sedikit memijat kaki Via yang terkilir. Dengan penuh hati-hati agar Via tak merasakan sakit.
"Sshh, sakit Mas, pelan-pelan."
"Iya, ini udah pelan Vi."
Saat Rafael sedang memijat kaki Via, ada seorang ibu-ibu datang menghampiri mereka.
"Loh Mas, istrinya kenapa?" tanya ibu-ibu itu. Mereka pun tersentak kaget mendengar ucapan ibu itu.
"Ehh, ini bu, tadi jatuh terus kakinya sakit, kayaknya keseleo deh," ucap Rafael.
"Boleh ibu liat?" Rafael pun menatap Via, seolah bertanya "Gimana? Boleh gak?" Seolah mengerti, Via pun menganggukkan kepalanya.
"Boleh, Bu." Ibu itu pun langsung memeriksa kaki Via.
"Ini beneran keseleo, cuma tinggal dipijat dikit aja. Boleh Ibu bantu?" Tanya ibu itu pada Via.
"Iya Bu, Boleh." Ibu itu mulai memijat kaki Via. Sesekali Via meringis, karena menahan rasa sakitnya, dengan reflek ia memeluk Rafael.
"Aaww! Sakit Bu," ucap Via sambil memeluk Rafael dan meremas erat lengan Rafael. Rafael pun mencoba menenangkan Via dengan membalas pelukannya. Bagaimana pun ia juga merasa bersalah. Karena ia, Via menjadi keseleo.
"Bu, pelan-pelan kasian Via kesakitan," ucap Rafael.
"Aduh Masnya perhatian banget, sih."
Ibu itu pun terus memijat pergelangan kaki Via hingga otot-ototnya sedikit merenggang dan tak sekaku tadi, ibu itu pun bilang ke Via, jika ia akan menarik kakinya.
"Kamu boleh gigit lengan saya buat melampiaskan rasa sakit kamu," bisik Rafael di telinga Via.
"Yang ada kamu juga sakit Mas."
"Gak papa, kamu lakuin aja ucapan saya, itung-itung ucapan maaf saya ke kamu." Via pun menganggukkan kepalanya. Mana tega ia menggigit lengan orang yang yang baru di kenalnya. Jika dihadapannya sekarang ini adalah Aland, kakaknya, dengan senang hati ia akan gigit sekuat-kuatnya.
"Tahan ya, Nak, Ibu tarik kakinya."
"Aaagghh!" Via pun menggigit hoodie yang dikenakan oleh Rafael.
"Udah siap, coba di gerakkan kakinya, masih sakit gak?" Via pun melihat ke arah kakinya dan mencoba menggerakkannya.
"Eeh iyaa, udah gak sakit. Makasih banyak, Ibu."
"Makasih banyak Bu, udah nolongin kita."
"Iya sama-sama, ibu pergi dulu, ya."
"Ehh Bu tunggu, ini ada sedikit rezeki buat, Ibu," ucap Rafael.
"Gak usah Nak, ibu ikhlas. Semoga kalian bahagia selalu, ya. Kalian cocok tau, semoga aja kalian jadi pasangan yang langgeng sampai maut memisahkan ya."
"Ehh," ucap mereka dengan kikuk.
"Hmm... Bu, ini kartu nama saya, kalau ibu ada butuh sesuatu nanti, Ibu bisa hubungi saya," ucap Rafael sambil memberikan kartu namanya. Ibu itu pun menerima kartu nama itu.
"Kalau boleh tau nama Ibu siapa, ya?" Tanya Rafael.
"Nama saya Lina," ucap ibu itu sambil mengulurkan tangannya ke Rafael lalu bergantian ke Via.
"Rafael, Bu."
"Saya Via Bu, oh iya ini kartu nama saya, kalau ada sesuatu nanti Ibu bisa hubungi saya atau Mas Rafael."
"Baiklah, Ibu pergi dulunya." setelah ibu itu pamit, mereka berdua sama-sama diam.
Mereka bingung harus mengobrol apa lagi. Rafael adalah orang yang terkenal dingin di dunia bisnis. Namun, ia akan menjadi orang yang hangat jika bersama orang yang dekat dengannya, mau pun yang membuatnya nyaman. Seperti saat ini, padahal Rafael baru berjumpa dengan gadis di sampingnya, namun ia merasa nyaman di dekat gadis ini. Biasanya ia akan merasa risih jika banyak perempuan-perempuan yang mendekatinya. Via adalah orang yang humble, ramah, dan ia orang yang hangat pada orang terdekatnya.
"Hmm... Mas, saya duluan ya mau nunggu kakak-kakak saya di deket gerbang depan taman sana."
"Saya anterin, ya."
"Gak usah Mas, saya sendiri aja. Nanti malah ngerepotin lagi."
"Ya enggaklah Vi, saya juga harus tanggung jawab karena udah nabrak kamu tadi, sampai terkilir lagi."
"Ya udah deh, terserah Masnya aja." Via dan Rafael pun berjalan beriringan, sambil berbincang-bincang.
Banyak pasang mata yang menatap mereka kagum dan ada juga yang menatap mereka dengan iri. Berharap bisa bersanding dengan salah satu di antara mereka. Siapa yang tidak kenal dengan Rafael? Seorang pewaris di keluarga Franklin. Namun itu tak berlaku dengan Via, ia tak begitu mengenal para pembisnis. Hanya beberapa saja yang ia tau, karena ia baru-baru ini membangun sebuah Cafe.
Tak terasa mereka sudah berada di gerbang taman Kids Fun. Via pun merogoh sakunya, ia tak menemukan ponselnya, ah ia baru ingat Handphonenya ada di kakaknya, si-Aland. Tadi ia meminjam ponselnya karena kakaknya lupa membawa ponsel. Kakaknya yang satu itu pelupa akut.
"Hmm.... Mas, boleh pinjem Hp kamu, gak? Hp saya ada di kakak saya. Saya mau nelpon mereka, biar mereka ke sini."
"Oh iya boleh, Nih." Rafael pun menyerahkan ponselnya ke Via. Via langsung menerima ponsel milik Rafael dan mendial nomor miliknya.
"Hello Kak."
"Hello, Via lo dimana? Pakai nomor siapa lo?"
"Gue udah di gerbang, ini nomor temen gue, tadi gak sengaja jumpa. Lo di mana kak?"
"Gue udah mau deket gerbang, ini sama Nathan, bentar lagi nyampe kok."
"Oh, oke gue tunggu."
"Iyaa, ya udah Bye."
Setelah sambungan telpon pun terputus, Via segera mengembalikan ponsel milik Rafael.
"Ini Mas, makasih ya."
"Iya sama-sama."
Sambil menunggu kakak-kakaknya Via, mereka pun melanjutkan mengobrol, mereka duduk di kursi taman dekat gerbang.
"Ya ampun, semoga anak-anak Mas El cepat ketemu ya."
"Aamiin. Semoga saja hari ini segera mendapat kabar yang baik," ucap Rafael penuh harapan.
Ntah mengapa Rafael menceritakan semuanya kepada Via, hatinya mengatakan bahwa Via orang yang dapat dipercaya, dan ia melihat Via adalah orang yang baik.
"Yahh, udah punya bini rupanya," batin Via. Ntah mengapa ia merasa sedikit kecewa.
"Istri kamu gak ikut kamu Mas?" Tanya Via.
"Istri saya gak ada."
"Eh, maaf Mas, saya gak tau," ucap Via tak enak hati.
"Boleh saya liat foto mereka? Siapa tau saya bisa bantu buat nemuin mereka." Rafael pun mengambil foto itu di saku celananya, ketika ingin menyerahkan foto itu, suara seseorang mengurungkan Rafael untuk menunjukan foto itu dan ia kembali memasukkan foto itu ke saku hoodie miliknya.
"Olivia!" Via pun langsung menoleh ke sumber suara.
"Eh, Kak Nathan! Kak Aland!" Via pun langsung berdiri dari duduknya.
"Sorry lama," ucap Nathan.
"Enggak kok, gue ada temen ngobrol jadi gak bosen, hehehe...." Nathan dan Aland pun mengalihkan pandangannya ke seorang laki-laki di samping Via.
"Rafael."
"Aland." Mereka adalah teman saat kuliah dulu, sudah lama mereka tidak berjumpa.
Mereka pun berpelukan ala laki-laki.
"Apa kabar bro?" Tanya Aland
"Yaah gini deh, lo sendiri gimana?" Tanya Rafael.
"Seperti yang lo lihat."
"Kalian saling kenal?" Tanya Via.
"Ya kenal lah, dia sahabat gue waktu kuliah dulu, udah lama banget udah gak ketemu. Lost kontak juga, tapi akhirnya jumpa lagi. Ehh, lo kok gak bilang kalo temenan sama Rafael?" Via menggaruk pipinya yang tak gatal ketika mendengar ucapan Aland.
"Hmm, gue sebenernya baru jumpa sama Mas Rafael, Kak." Aland pun mengangguk mengerti.
"Bro besok kita kum—" ucapan Aland terputus karena handphone milik Via berdering.
"Siapa, Kak?" Aland mengambil ponsel milik Via dan menyerahkan ke pemiliknya.
"Mama nelpon, angkat nih" Via pun segera mengangkat telpon dari Mamanya.
"Assalamualaikum Ma."
"Waalaikumsalam, Vi cepetan deh kamu pulang."
"Iyaa ini Via mau pulang."
"Kamu dimana sih? Dari tadi kok gak pulang-pulang. Sean sama Farel nangis nyariin kamu. Sekarang juga kamu harus pulang ya."
"Iyaa iyaa ini mau pulang Mama, ini udah di deket rumah kok, lima menit lagi sampai."
"Ya udah kalo gitu cepetan. Assalamualaikum."
"Iyaa, Waalaikumsalam."
Setelah sambungan telpon terputus, Via menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku hoodie-nya.
"Kak, kita di suruh cepetan pulang sama Mama."
"Ya udah. Ayo pulang," ucap Nathan.
"Mas, kita pulang duluan ya, makasih udah nemenin ngobrol."
"Iya sama-sama."
"Bro gue pulang duluan, atau mau mampir?"
"Besok-besok deh gue mampir, gue masih ada perlu, Lan."
"Oke deh, kami pulang duluan ya."
"Iya hati-hati." Mereka bertiga pun pulang sambil berlari kecil agar cepat sampai. Karena memang tak terlalu jauh letak antara taman dan rumah mereka.