Part 10 - Kembali Pulang

1805 Words
Di perjalanan pulang, Farel dan Sean terus berceloteh, padahal ini sudah malam, namun mereka terlihat belum mengantuk dan masih terlihat segar. Padahal sudah jam 9 malam dan biasanya mereka sudah mengantuk. "Farel, Sean, kalian belum ngantuk? Ini udah malam loh. Biasanya jam segini kalian udah tidur," ucap Rafael. "Kami belum ngantuk Dad, tadi kami tidul siang," ucap Farel. "Iyaa Dad, tadi Ean, Kak Falel, Gilang, sama Mommy tidul baleng," ucap Sean "Pantesan aja dari tadi mereka ngoceh mulu" gumam Rafael. "Daddy ada ngomong?" tanya Farel. "Enggak, Daddy gak ada ngomong." Farel hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Farel kembali berbicara dengan Sean dan bermain mainan yang di belikan oleh Mommy mereka. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Rafael, Sean, dan Farel pun masuk kedalam rumah. Sebelum masuk, Rafael meminta supirnya yang ada di pos depan untuk memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Di ruang tamu, sudah ada Sesil, Dani, dan Siska. Mereka sedang menunggu Farel dan Sean. "Assalamualaikum," ucap Rafael, Farel, dan Sean. "Waalaikumsalam." jawab mereka dengan serempak. "Sean! Farel!" pekik Siska. Ia terlalu senang cucunya sudah kembali. Segera Farel dan Sean pun berlari menuju Oma dan Opanya berada. "Oma! Opa!" Farel dan Sean berlari menuju Omanya dan memeluknya, Siska memeluk cucunya dengan erat namun tak sampai menyakiti mereka. Kemudian, Farel dan Sean bergantian memeluk Opanya. Dani sangat senang cucunya kembali pulang. Farel dan Sean belum memeluk Sesil, karna mereka kesal dengan tante Sesil itu. Mereka pura-pura tak melihat keberadaan Sesil. "Miss you Oma! Miss you Opa!" ucap mereka dengan riangnya. "Miss you too sayangnya Oma," ucap Siska dengan senyum mengembang menghiasi wajahnya. "Miss you too boys," ucap Dani. Farel dan Sean kini duduk di samping Omanya, Farel di sebelah kanan Omanya dan Sean di sebelah kirinya. Mereka bersandar di d**a Siska, Siska pun mengusap kepala mereka dengan sayang. "Kalian baik-baik aja kan nak?" tanya Siska. "Kami baik-baik saja Oma, Oma gak usah khawatil," ucap Farel. "Gimana Oma gak khawatir, kalian tiba-tiba menghilang. Oma kan jadi kepikiran, kalian ada dimana, tidur dimana, udah makan atau belum." "Kami beltemu olang baik banget Oma. Kami senang ada di sana Oma. Lumahnya juga besal banget," ucap Sean dengan antusias. "Ekkhmm." Sesil berdehem. Semuanya mengalihkan pandangannya ke arah Sesil. "Ehh ada tante." celetuk Sean. "Sejak kapan tante disitu? Kok Falel balu liat?" Tanya Farel yang pura-pura tak tau keberadaan Sesil. "Ck! Dasar bocah ingusan. Gue secantik ini gak keliatan. Awas aja tu bocah." geram Sesil dalam hati. "Tante udah dari tadi sayang, tante khawatir banget sama kalian. Maafin tante yaa. Tante kangen banget sama kalian. Kalian gak kangen sama tante?" Tanya Sesil dengan ekspresi merasa bersalah dan khawatirnya. Sesil berlutut di lantai, ia merentangkan tangannya, ia mengharapkan Farel dan Sean memeluknya. Farel dan Sean saling pandang. Mereka berbicara lewat mata, hanya mereka yang tau mereka merencanakan apa. Farel dan Sean pun turun dari sofa dan mengarah ke Sesil. Mereka pun memeluk Sesil. "Oohh sayang, tante kangen banget sama kalian, kalian kemana aja sih." Siska dan Dani hanya tersenyum melihat itu. Mereka sama kesalnya dengan Rafael. Menurut mereka Sesil terlalu ceroboh. Mereka memendam rasa kesalnya, lagi pula sekarang cucu-cucunya sudah kembali pulang. "Kami belsama olang baik tante." celetuk Sean. "Syukurlah kalian gak papa." "Benel tante, kami belsyukul, kalna tante ninggalin kita, kita bisa jumpa sama Mommy. Olang yang melawat kami dengan kasih sayang yang tulus." bisik Farel di telinga Sesil. Ntah bagaimana bocah seusianya bisa berbicara seperti itu. Sedangkan Sesil bingung. "Mommy? Mommy siapa yang mereka maksud? Bahkan Mama mereka pun sudah meninggal" batin Sesil. "Iyaa tante, Mommy itu olang yang cantik dan baik. Mommy lebih cantik dari pada tante." bisik Sean. "Falel mau bilang makasih sama tante, gala-gala tante ninggalin kami, kami beltemu dengan Mommy. Daddy udah ketemu loh sama Mommy. Falel belhalap Mommy mau menjadi ibu kami. Kami akan belusaha agar Daddy dan Mommy belsama-sama." tubuh Sesil menegang mendengar bisikan Farel. Tangannya yang tadi mengusap punggung kedua bocah itu pun terhenti. "Sialan! Gue gak akan biarin perempuan mana pun mendekati Rafa. Cuma gue yang boleh bersanding dengan Rafa. Gue akan cari tau perempuan mana yang dimaksud oleh dua bocah ingusan ini." batin Sesil. "Tante hati-hati aja, saingan tante belat. Mommy itu cantik banget." bisik Sean dengan senyumannya. Ntah bagaimana mereka bisa berbicara seperti itu. Mungkinkah kebanyakan nonton sinetron? Hanya mereka dan Tuhan yang tau. Mereka mengurai pelukannya. Sesil menampilkan senyumnya, seolah-olah ia bahagia karna melihat Farel dan Sean kembali. "Ya udah, sekarang Farel sama Sean cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, trus gosok gigi ya. Udah malam saatnya kalian tidur." Sebenarnya Siska ingin bertanya pada cucunya dan juga anaknya mengenai orang yang menolong cucu-cucunya itu, namun ia urungkan karna ia tau mereka pasti lelah dan butuh istirahat. "Iyaa Oma." "Tante gak pulang? Ini kan udah malam," ucap Farel. "Ehh, iya ini tante mau pulang kok," ucap Sesil sambil tersenyum. "Om, Tante... Sesil pulang dulu yaa udah malem soalnya." pamit Sesil. "Ehh iyaa sayang, kamu hati-hati di jalan. Rafa mending kamu anter Sesil nya deh." walaupun masih kesal, tapi Siska masih punya hati dan tidak tega jika seorang perempuan pulang sendirian di malam hari. Apalagi Sesil adalah anak dari sahabatnya. "Iy—" ucapan Rafael terhenti karna ucapan Sean. "Daddy, Ean mau tidul sama Daddy. Ya...ya...ya..... Sama Kak Falel juga," ucap Sean dengan ekspresi memelasnya. Membuat siapa saja yang melihatnya tak tega dan menuruti keinginannya. "Lo gak usah anterin gue Raf, gue bisa pulang sendiri kok. Daerah arah ke rumah gue juga rame. Mending lo temenin mereka aja. Pasti mereka kangen tidur bareng Daddynya," ucap Sesil dengan lembut. "Beneran gak papa kan?" tanya Rafael. "Iyaa gak papa kok." "Ya udah Daddy tidur bareng sama kalian." "Yeyy, hole! Thank you Daddy! Kami sayang Daddy," ucap mereka dengan riangnya mereka pun memeluk kaki Rafael karna tinggi mereka yang sebatas paha Rafael. Rafael pun mengusap rambut mereka dengan sayang. "Ya udah gue ke atas duluan. Ma, Pa, Rafa ke atas duluan sama anak-anak." pamit Rafa. "Sialan ni bocah, beraninya gagalin gue berduaan sama Rafa. Awas aja lo bocah ingusan." batin Sesil. "Gimana kalau kamu di anter aja sama supir kami Sil?" "Gak usah Om, ngerepotin nanti. Sesil langsung pulang aja. Assalamualaikum Om, Tante." pamit Sesil. "Waalaikumsalam, hati-hati ya Sil." "Pasti Tante." Sesil pun pergi dengan perasaan dongkol. Namun ia penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh Farel dan Sean tentang perempuan yang mereka panggil dengan sebutan Mommy. Sesil melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tak memperdulikan sumpah serapah orang-orang dijalan yang ia lalui. "Siapa sih perempuan yang di maksud dua bocah ingusan itu? Gue harus cari tau, gue gak akan biarin dia deket sama Rafa. Karna Rafa hanya milik gue. Gue akan nyingkirin kuman-kuman itu. Karna ada beribu cara di otak cantikku ini untuk nyingkirin kuman-kuman itu," ucap Sesil dengan senyum devilnya. "Kalian sikat gigi, cuci tangan sama cuci kaki dulu. Daddy mau ambil air putih dulu," ucap Rafael pada anak-anaknya. "Okee siiaapp Daddy!" mereka pun segera menuruti perintah Daddynya. Ketika sudah di dalam kamar mandi, mereka pun tertawa. Mereka merasa puas sudah membuat Sesil kesal. "Hihi.... Ada untungnya kita nonton sinetlon ikan telbang." celetuk Farel dan di angguki oleh Sean. Farel dan Sean diam-diam ikut menonton sinetron yang biasa Omanya lihat. Siska sering kali tertidur ketika menonton TV. Maka dari itu, sesekali Farel dan Sean juga menonton sinetron. *** Setelah melaksanakan ibadah, Via pun kembali tidur kembali. Ntah mengapa hari ini ia hanya ingin rebahan. Rumahnya terasa sepi karna para keponakannya ada di rumah Oma dan Opanya dari pihak kakak iparnya. Hal ini lah yang membuat ia malas melakukan apapun, biasanya pagi hari setelah sholat subuh Gilang datang ke kamarnya, kadang meminta untuk ditemani bermain, dan terkadang hanya menumpang tidur kembali. Via pun memutuskan untuk tidur kembali. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Via kembali terlelap. Sedangkan Rafael, Farel, dan Sean sudah rapi dengan pakaian kasualnya. Ntah ada angin apa, Farel dan Sean bangun pagi dan langsung mandi. Rafael pun awalnya bingung, namum setelah selesai mandi mereka berbicara padanya bahwa mereka ingin ke rumah Mommy Via. "Daddy ayo kita pelgi ke lumah Mommy!" Farel menarik tangan Daddynya yang masih duduk di kasur miliknya. Rafael memandang mereka dengan ekspresi tak percaya. "Hahh.... Begitu besarkah pengaruh Via bagi mereka?" batinnya. "Ehh iyaa, nanti dulu, ini masih terlalu pagi untuk bertamu kerumah orang nak. Lagi pula Daddy belum mandi." "Cepat Daddy mandi, kita tunggu sini," ucap Farel dengan nada tak mau dibantah. Ia sudah sangat merindukan Mommynya. Rafael pasrah ia pun segera mandi, dari pada mereka rewel akan menyusahkan-nya dirinya sendiri. Ia akan menuruti apapun permintaan mereka, tapi masih dalam tahap yang wajar. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Rafael bersiap-siap. Setelah selesai, mereka bertiga pun turun kebawah untuk melaksanakan sarapan pagi. "Ehh tumben sayang kalian udah bangun? Oma baru mau bangunin kalian." "Kami mau ke lumah Mommy Oma," ucap Farel, sedangkan Sean hanya mengangguk. Sean adalah tipikal anak yang sedikit pendiam di bandingkan kakaknya. "Hah, Mommy? Mommy siapa nak?" tanya Siska. "Mommy Via Oma, olang yang nolongin kita. Falel kangen sama Mommy, makannya Falel minta Daddy antelin kita kesana lagi." "Sayang ini masih pagi, pasti mereka sibuk. Nanti aja yaa, ini masih terlalu pagi untuk bertamu kerumah orang." sahut Dani. "Gak mau Opa, Falel mau ketemu Mommy sekalang, habis salapan." kekeuh Farel. Mereka hanya menghela nafasnya, Farel dan Sean itu sangat keras kepala. "Iyaa nanti kita ke sana, tapi jangan sekarang yaa, ini masih pagi banget, oke?" Farel pun akhirnya menganggukkan kepalanya. "Kalian mau makan yang mana?" Tanya Siska. "Falel mau makan yang mana aja, telselah Oma. Tapi, sedikit dulu ya Oma, nanti kalau mau lagi bial nambah lagi. Kata Mommy gak boleh buang-buang makanan." "Iyaa Oma, kata Mommy nanti nasinya nangis kalna gak di makan," ucap Sean. "Mommy juga bilang kita halus belsyukul Oma, kalna dilual sana masih banyak olang yang gak bisa makan enak sepelti kita," Ucap Farel. Dengan serempak tiga orang dewasa itu menatap Farel dan Sean yang sudah duduk manis di kursinya. Mereka merasa speechless mendengar ucapan Farel dan Sean. Bagaimana tidak, dua bocah itu suka seenaknya sendiri. Terkadang mereka suka membuang-buang makanan. "Kamu bertemu siapa sebenarnya nak? Oma akan berterimakasih kepada orang itu, ini adalah perubahan yang sangat drastis. Oma sangat bersyukur kamu bertemu orang sebaik itu, yang mampu merubah kalian menjadi lebih baik." batin Siska. "Terimakasih Ya Allah, telah mempertemukan cucu-cucuku dengan orang yang baik. Balas lah kebaikan mereka, semoga mereka selalu bahagia, sehat, dan panjang umur. Aamiin." batin Dani. "MasyaAllah, sungguh mulia hati keluarga Abraham, terutama Via. Gak salah gue tertarik sama perempuan sebaik dia atau mungkin gue udah jatuh cinta sama dia. Semoga dia jodoh gue Ya Allah. Gue harap dia belum punya kekasih, dan gue akan berusaha untuk meluluhkan hatinya. Gue sangat berterimakasih sama keluarga lo Vi, berkat didikan kalian anak-anak gue menjadi anak yang lebih baik lagi." batin Rafael. "Ohh ya udah sekarang kita makan yaa," ucap Siska setelah tersadar dari merenung. Siska pun mengambilkan nasi dan lauknya untuk mereka. Mereka pun sarapan dengan tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD