Handphone Baru

1711 Words
Bab 14 Handphone Baru Adam menatap Ajeng yang kelihatan makan dengan lahap sekali. Meskipun menurutnya norak –karena mereka makan di restoran mewah- tapi Adam sama sekali tidak protes. Dia bahkan menyodorkan piring makannya ke depan. "Buat kamu!" ujar Adam, tanpa ekspresi sama sekali. Ajeng yang baru saja selesai memakan steik mahal dipiringnya itu pun menatap Adam malu-malu. "Saya udah kenyang, Pak." "Makan!" perintah itu seolah tidak membiarkan Ajeng lebih berbasa-basi. Tidak mau membuat bosnya marah dan juga karena ia masih lapar, Ajeng pun menarik piring itu ke hadapannya. Ia memakan dengan pelan dan Adam senang dibuatnya. "Mana HP kamu?" tanya Adam setelah Ajeng selesai makan. Ajeng yang hendak minum pun terdiam. Ekspresi bingung tercetak jelas di wajahnya. "HP saya, Pak?" Adam menengadahkan tangannya tanpa mengatakan apapun. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut, Ajeng pun segera mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Ia menyerahkannya pada Adam dengan hati-hati lalu memperhatikan pria dewasa di depannya. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukannya pada ponsel kepunyaannya itu? Adam menerima ponsel Ajeng dan langsung merasa iba. "Emang lagi ngetren ya kaca HP pecah kayak gini?" Mendengar hinaan untuk kesekian kalinya dari mulut Monster Adam, Ajeng pun tidak mau menjawab. Ia hanya diam sambil meminum air putih. Adam menggenggam ponsel Ajeng lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya. Tidak banyak bicara, pria itu berlalu dan diikuti Ajeng tanpa banyak komentar. Setelah membayar makanan mereka, Adam dan Ajeng kembali menaiki mobil. "Sekarang kita mau ke mana lagi, Pak?" tanya Ajeng, terdengar santai. Adam tidak membalas sama sekali. Pria itu seperti batu karang, kokoh dan dingin. Mereka sampai di pusat perbelanjaan ibukota lalu pergi ke toko yang menjual ponsel-ponsel layar sentuh dengan merek ternama. "Saya mau yang ini!" Adam menunjuk salah satu smartphone berlayar 5,7 inchi berwarna putih. "Pak, itu HP buat siapa?" tanya Ajeng, memberanikan diri untuk bertanya pada bos. Ia tidak mau berhutang pada bosnya yang super galak dan kejam. "Menurut kamu?" Adam balik bertanya membuat perasaan Ajeng serba salah. Tidak bisa berkomentar apa-apa, Ajeng pun lebih memilih diam. Ia hanya memperhatikan Adam dan pelayan yang sedang mengkampanyekan kecanggihan smartphone yang sedang dipegangnya itu. Setelah selesai, Adam memegang ponsel baru itu dan menekan beberapa digit angka. Ia menekan dial dan ponsel miliknya yang tepat berada di saku jas dalamnya berbunyi. Merejectnya, Adam lalu menyimpan nomer itu dengan nama kontak "Mr. A". Mereka pun kembali berjalan setelah selesai melakukan transaksi jual beli handphone. "Ini HP kamu," Adam memberikan ponsel lama Ajeng. Ajeng menerimanya sambil terus berjalan. Tidak lama setelah itu Adam berhenti di depan outlet pakaian pria lalu memasukinya. Ia berbelanja dasi dan kemeja dengan Ajeng yang terus mengekor di belakangnya. Setelah selesai berbelanja, Adam pun mengantarkan Ajeng hanya sampai halte bus. Ia melakukan itu karena keinginan Ajeng sendiri. Sebelum ke luar dari mobil, Adam memberikan ponsel yang baru dibelinya tadi pada Ajeng. "Saya paling enggak suka penolakan. Jadi terima saja dan pulang." Ajeng menggeleng, tidak mau. "Saya enggak mau, Pak. Itu barang mahal." "Ini bukan barang mahal. Ini berkualitas." Ajeng tetap menggeleng. "Bapak juga aneh, kenapa ngasih saya HP tiba-tiba begini? Apa jangan-jangan...." "Jangan berspekulasi yang enggak-enggak," Adam memperingatkan Ajeng. "Anggap ini bayaran kamu karena sebentar lagi kerja lebih keras dari biasanya. Sabtu dan minggu ini kamu harus bantu saya benah-benah apartemen." "Kenapa Bapak enggak sewa tukang profesional aja? Kenapa harus saya?" "Saya bukan kayak kamu yang mudah percaya sama orang lain." Ajeng berpikir, apakah Adam sekarang sudah mempercayainya? "Maksudnya?" "Nothing!" Adam mendengus lalu menarik tangan Ajeng. Ia memberikan ponsel baru itu pada tangan kanan Ajeng lalu meletakkan paperbag berisi aksesoris ponsel itu pada pangkuannya. "Udah gih ke luar! Saya capek dan harus pulang. Ingat! Besok masih harus kerja seperti biasa. Datangnya jangan telat kalau mau gaji kamu utuh bulan ini." Ajeng tidak bergerak. Ia benar-benar diberi ponsel terkini dari bosnya yang ia juluki Monster? Bagaimana bisa hal ini terjadi? Apa ia sedang mimpi? Adam mendengus sebal. "APA SAYA HARUS BERTERIAK?" Lamunan Ajeng langsung buyar. Ternyata ia tidak mimpi. Monster Adam kembali nyata. Sebelum mendengar amukan yang lebih parah, Ajeng pun ke luar dari mobil Adam. Lewat beberapa detik selanjutnya, mobil yang tadi ditumpanginya sudah melaju begitu saja. Ajeng mencubit lengannya dengan keras lalu mengaduh kesakitan. "Ini bukan mimpi," gumam Ajeng lalu melihat ponsel barunya lagi dengan wajah bodoh. Ini di luar dugaan! Ini tidak seperti kenyataan. *** Ajeng sampai di tempat kost ketika jam dinding menunjukan pukul 21.20. Lumayan malam dan ia baru sadar sudah melakukan banyak hal bersama Adam. Bedanya, hari ini mereka pergi ke banyak tempat di luar kantor. Baru saja masuk ke dalam kamar kost setelah mandi, Ajeng melihat Inggrid duduk di ranjangnya sambil memainkan ponsel baru. "Jeng, HP baru nih?" Inggrid terdengar takjub. Ajeng menutup pintu kamar mereka lalu berjalan ke depan cermin untuk mematut diri. "Iya," jawabnya lemas. Inggrid melepaskan pandangannya dari layar smartphone baru Ajeng lalu melihat ke arah lawan bicaranya. Ia mulai bertanya-tanya bagaimana bisa Ajeng yang bekerja sebagai office girl mampu membeli smartphone yang berharga sekitar 8-9 jutaan. Bukan bermaksud menghina, tapi ini tidak masuk akal. "Maaf ya, Jeng, sebelumnya. Tapi kamu beli HP ini dapat uang dari mana?" Tidak berapa lama kemudian, Ajeng menoleh untuk menatap Inggrid. Ia juga menggebu-gebu saat menghampiri teman sekamarnya itu. "Mbak pasti enggak akan percaya sama cerita aku!" Inggrid menatap Ajeng bingung. "Kamu nemu?" Ajeng menggeleng dengan cepat. "Terus?" "Dikasih sama Pak Adam," ujar Ajeng yang langsung dihadiahi tawa terbahak-bahak dari mulut Inggrid. "Kamu jangan bercanda, Jeng! Model monster kayak dia mana mungkin kasih barang mahal kayak gini. Kamu mecahin cangkir kopi aja marahnya kayak orang kesetanan." "Serius, Mbak. Aku serius. Aku juga enggak tahu kenapa Pak Adam kasih aku HP. Atau apa dia kasihan ya karena sempat lihat layar HP-ku yang retak? Tapi model Pak Adam itu enggak punya rasa belas kasihan sama bawahannya." "Tuh kamu tahu. Jadi HP ini dari mana, Jeng?" tanya Inggrid lagi. "Dari Pak Adam," ungkapnya lalu kembali berpikir. "Tapi tuh Mbak hari ini Pak Adam aneh banget. Dia bahkan ngajak aku ke luar dari kantor dan bawa aku ke apartemen barunya." "Wah, wah, ini pasti enggak bener. Jangan-jangan kamu diapa-apain di sana?" Ajeng menggeleng samar. "Aku juga awalnya mikir kalau dia mau ngapa-ngapain aku. Tapi waktu udah nyampe di sana, dia enggak ngelakuin apapun yang aneh. Pak Adam cuma memperlihatkan kondisi apartemennya yang baru. Dia bilang bla bla bla. Terus kita pergi ke toko perabotan buat beli tempat tidur, sofa, terus banyak lagi deh." "Terus gimana dia ngasih kamu HP?" Inggrid perlahan mulai percaya kisah Ajeng. Meskipun di luar nalar, tapi melihat keyakinan dari nada bicara Ajeng, Inggrid yakin ia sedang mendengarkan kisah nyata. Lagipula Ajeng bukan orang yang suka berbohong. Ia selalu jujur mengenai sesuatu yang dibicarakannya. Inggrid pikir, mungkin karena Ajeng orang dari kampung, jadi bisa sejujur dan seapaadanya itu. Dan karena itulah ia sangat nyaman bersahabat dengan Ajeng. "Waktu lagi makan daging, Mbak, tiba-tiba Pak Adam bilang, 'Mana HP kamu?' terus aku kasih dan dia langsung hina HP-ku yang udah retak. Terus waktu selesai makan kita langsung ke mal, cari HP baru. Awalnya sih dia enggak ngasih ke aku, tapi waktu aku mau turun dari mobilnya, dia langsung ngasih HP baru itu. Aku udah nolak, Mbak, tapi malah diteriakin. Dasar emang monster Pak Adam itu." Inggrid tidak langsung berkomentar. Ia berpikir sejenak. "Mbak, apa jangan-jangan...." Inggrid mulai berpikir kalau bos Ajeng itu menyukainya diam-diam. Bukankan ada beberapa laki-laki yang mengungkap perasaan cintanya seolah membenci? Meskipun kenyataannya, perasaan laki-laki tersebut adalah sebaliknya. Ia sangat mencintainya. Inggrid balas menatap Ajeng lalu menyeringai. "... Pak Adam punya peliharan dedemit. Dia ngasih aku HP supaya dedemit itu datang ke aku. Ya Allah, Mbak, gimana nih?" Wajah Inggrid berubah geli. Bisa-bisanya Ajeng berpikir sejauh itu? "Mbak, siniin HPnya. Mending aku simpan biar besok bisa langsung aku kembaliin ke pemiliknya. Kalau telat, nyawaku dalam bahaya. Pak Adam kayaknya benar-benar punya dendam kesumat ke aku. Aku dari kemarin emang udah curiga." "Ajeng, kamu harus tenang!" Inggrid menahan tangan Ajeng dan menyuruhnya tenang. "Kita harus berpikiran logis. Pertama-tama, aku yakin Monster itu enggak punya peliharaan bangsa dedemit. Lagian dari semua cerita kamu selama ini, Pak Adam itu pasti cowok metroseksual yang punya standar hidup yang enggak bisa disamain sama orang-orang biasa. Kedua, dia enggak mungkin bunuh kamu." "Mbak, Pak Adam itu kemungkinan juga psikopat. Aku sering nonton film pembunahan, di mana mereka kelihatan berduit, pake jas, punya mobil, tapi sebenarnya mereka 'sakit'. Nyawaku sekarang dalam bahaya, Mbak." Inggrid tetap menggeleng. "Percaya deh sama aku, kamu akan baik-baik aja meskipun nerima HP ini dari bos kamu. Anggap aja ini salah satu kompensasi karena udah ngerjain kamu selama ini." Ajeng langsung ingat sesuatu. "Atau bisa jadi HP ini akan jadi awal penderitaanku yang baru sabtu minggu ini. Ya Allah, tolonglah hambaMu yang dalam kesulitan ini! Mungkin aku harus segera mengundurkan diri dari kerjaanku, Mbak." Inggrid pun penasaran. "Ada apa dengan sabtu minggu ini?" "Pak Adam bilang, sabtu minggu ini aku harus bantu dia benah-benah apartemen." Sama seperti Ajeng, Inggrid juga berpikir apa yang Adam lakukan sangat tidak masuk akal. Kenapa Adam tidak menyuruh tenaga profesional yang lebih kuat jika mau berbenah di apartemen barunya? Kenapa harus Ajeng? Sebenarnya apa yang direncanakan Adam saat ini? Setelah bersikap seperti monster setiap hari, kenapa Adam tiba-tiba terdengar akan berubah? "Menurut kamu, Pak Adam jadi berubah enggak hari ini?" Ajeng mengedikan bahu. "Monster itu nambah aneh." "Aneh gimana?" "Ya tadi, Mbak. Pak Adam ngajak aku ke luar, makan, sampai beliin HP. Itu aneh banget kan?" Inggrid mengangguk setuju. "Tapi maksudku sikap dia ke kamu hari ini bagaimana? Apa dia jadi suka senyum atau bahkan bicara dengan lembut?" "Yang ada Pak Adam teriakin aku, ngejek aku, dan injak-injak harga diriku." Inggrid meringis. Ia kasihan dengan penderitaan yang dialami Ajeng. Jika ia yang berada diposisi Ajeng saat ini, tentu saja ia tidak akan kuat. Bahkan akan resign sejak hari pertama masuk kembali ke ruangan monster itu. "Gini aja, Jeng. Aku coba cariin kamu kerjaan di tempat lain ya. Sementara itu, kamu yang sabar lagi menghadapi Pak Adam." "Mbak beneran mau nyariin aku kerjaan?" tanya Ajeng dengan mata berbinar. Inggris mengangguk. Ia pasti akan membantu Ajeng. Lama kelamaan ia tidak tega mendengarkan setiap cerita Ajeng tentang bosnya yang semana-mena. *** bersambung>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD