Keceplosan

1528 Words

Adam berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang kemarin dikunjunginya bersama seluruh keluarganya. Pagi ini, ia kembali datang. Kali ini untuk menjemput Ajeng, sang calon istrinya yang sudah resmi di mata keluarga mereka, untuk bersama menuju Jakarta. “Permisi!” sapa Adam sambil berdiri dengan tegap. Ia tidak naik ke teras depan dan menunggu di bawah. Pintu rumah Ajeng yang terbuka akhirnya memperlihatkan sang tuan rumah. Ibu Ajeng berjalan mendekat, tersenyum ke arah Adam. Laki-laki yang nanti akan menjadi menantunya. “Nak Adam sudah datang? Kenapa hanya berdiri di sana? Ayo silakan masuk!” ujar Ibu Ajeng ramah. Adam mendesah pelan. Terpaksa ia akan membuka sepatunya. “Udah nggak usah dibuka sepatunya, naik saja. Ayo silakan duduk!” kata Ibu Ajeng mempersilakan Adam duduk di kur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD