"Apa maksudnya, Aruna?" Wajah Tante Maika terlihat menegang. Bibirku bergetar dan kesulitan untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Gara kemudian mengelus pundakku dengan perlahan. Tangisku sudah nggak bisa dikendalikan lagi, aku sesenggukan dengan napas yang sulit untuk kuhela. "Aruna bertemu dengan adik Papa, Tante Mayang di Solo," kataku masih sambil menangis. Saat itulah wajah Tante Maika terlihat pias, dia menggenggam tangan Om Beni dan keduanya saling berpandangan. "Kenapa Tante membohongi Aruna selama ini?" Aku kembali menangis dan membuat Gara memelukku agar aku bisa tenang. Aku menarik napas dengan susah payah dan mataku terasa kabur karena air mata. Tubuh dan pikiranku terasa lelah dan aku nggak bisa melampiaskan kemarahanku dengan benar. Aku bersandar di pelukan Gara denga

