Aku menahan napas saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gara. Amara? Apa Amara yang saat ini berada di sana dan menghalangi jalan mobil Gara? "Kenapa, Mas?" Tak urung aku bertanya karena rasa ingin tahu yang besar. "Amara kayaknya masih penasaran kenapa Nala nggak mau bersamanya," sahut Gara dengan suara pelan. "Tunggulah di sini," ucap Gara sambil membuka pintu mobil. Aku mengelus-elus punggung Nala perlahan agar konsentrasinya terpecah dan tidak melihat jika saat ini Gara sedang menemui Amara. Mungkin Amara merasa kesal karena putrinya telah diabaikan oleh putrinya. Padahal salahnya sendiri yang menelantarkan Nala dari kecil. Dari dalam mobil ini, tidak terdengar apa pun yang dibicarakan oleh Amara dan Gara. Hanya sesekali terlihat Amara menunjuk-nunjuk wajah Gara dengan r

