Arya mengusap wajahnya dengan kasar setelah mobilnya berhenti tepat di depan rumahnya. Ia memijit pelipisnya pelan, mencoba meredakan rasa pening yang menderanya sejak semalam. Satu embusan nafas panjang, akhirnya ia mantapkan langkahnya untuk memasuki rumah yang sudah lama ia tinggalkan karena terpaksa. Pria itu sampai di ruang tengah, di sana sudah ada Papa, Mama, Eyang Kakung, Eyang Putri dan Dian. Kedua eyangnya menyambut Arya dengan penuh senyum, berbeda dengan kedua orangtuanya dan juga Dian yang berpura-pura. "Nah, ini dia cucu Eyang yang paling ganteng." Eyang Uti tersenyum sangat cerah saat cucu lelaki satu-satunya itu sudah pulang. "Eyang udah lama?" tanya Arya basa-basi sembari mencium punggung telapak tangan Eyang Putri dan Eyang Kakung secara bergantian. "Jam dua tadi baru

