Hari menjelang petang, sejak pagi tadi tepatnya setelah Ridwan datang, Arya menjadi sosok yang berubah seratus delapan puluh derajat. Dia bukan lagi sosok hangat yang akan bicara dengan senyum yang merekah. Dia kini hanya bicara seperlunya saja apalagi jika bicara dengan Kinan. "Mbin... mbin..." Ara menghampiri ayahnya sembari mengulurkan mobil-mobilan yang ia genggam. Maksud hati bayi itu ingin mengajak Sang ayah bermain, akan tetapi Arya malah menyuruh Ara bermain sendirian sementara dirinya duduk diam dengan pikiran entah kemana. "Emmm mmmemem...." gumam Ara lalu duduk di lantai dan bermain sendiri. Tidak ada Adit yang menemaninya kali ini karena Omnya itu sudah berangkat bekerja ataupun Neneknya yang juga tengah menghadiri acara selamatan di rumah tetangga. "Makan dulu Mas. Mau dib

