Jenar tersenyum manis menatap Reza yang duduk di sebelahnya, dan senyum itu menghilang seketika saat beradu pandang dengan pemuda itu. Ternyata senyum itu hanya sisa dari senyuman yang di berikan pada Abraar tadi setelah mobil Reza yang ia tumpangi berpisah dengan mobil orang tua Abraar gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sedangkan Reza berkonsentrasi mengendarai mobilnya meski tidak begitu lama kemudian konsentrasi itu sedikit terganggu dengan rasa aneh yang menyusupi tubuhnya. Reza mengusap tengkuk yang tiba tiba terasa berat dan memanas. "Nar, kamu ke rumah aku dulu ya," kata Reza membuat Jenar langsung menoleh menatapnya. "Hah, ngapain?" tanya Jenar, kedua alis tebal gadis itu hampir menyatu karena dahinya mengerut. "Takut Mbak Rumi manis di rumah, biar dia tau

