"Enggak lah, buat apa aku cemburu!" Jawab Reza cepat, rahang tegas itu mengatup rapat dengan pandangan lurus ke depan. Jenar tidak tahu kalau Reza sedang menutupi kegugupannya, usia dewasa nyatanya tidak bisa membuat seorang Reza mudah mengendalikan hatinya. Hati itu begitu tidak rela melihat Jenar dekat dengan orang lain tetapi tidak juga bisa dengan mudah mengakui perasaannya cemburunya itu, apalagi antara hati dan pikirannya tetap saja masih terjadi pergelutan hebat, Reza tidak mau menjilat ludahnya sendiri dia masih ingat betul kala bibirnya lantam mengatakan tidak mungkin jatuh cinta pada Jenar, dan dalam hidup ini dia tidak membutuhkan seorang pendamping. Rasanya hal terpahit di dunia ini adalah mengingkari apa yang dengan begitu sadar ia ucapkan sendiri, maka hati dan pikiran it

