Sudah beberapa bulan sejak perpisahannya dengan Amara, yang sekarang ia tahu adalah Samiera. Entah kenapa kakak iparnya harus mengganti nama gadis itu, hanya saja terlalu aneh untuknya setiap kali bertemu dan memanggil nama itu. Samiera Permata Adhiguna, nama yang telah resmi digunakan oleh cinta terlarangnya. Yang entah sampai kapanpun cinta itu akan selalu jadi terlarang baginya.
Rishyad memacu mobilnya di tengah padatnya jalanan Ibu Kota, menuju tempat yang sudah lebih dari 3 bulan tidak ia kunjungi. Proses perceraiannya dengan Nania begitu menyita waktu, tenaga dan pikiran. Sampaisampai ia lupa jika ada satu tempat yang harus selalu ia kunjungi. Mobilnya berhenti tepat di depan area pemakaman umum. Di bawah teriknya matahari siang, ia berjalan memasuki area makam. Dilihatnya ada seorang pria tua yang biasa mengurus pemakaman juga merawatnya sesuai permintaan keluarga almarhum dan almarhumah. Rishyad melangkahkan kakinya ke arah pria itu.
“Selamat siang, Pak. Sudah lama tidak berkunjung?” tanya pria tua itu ketika Rishyad mendekatinya.
“Siang, Pak. Saya sedikit sibuk beberapa bulan ini, Bapak apa kabar?” Rishyad bicara ramah dengan pria tua yang nampak kelelahan.
“Alhamdulillah baik, Pak. Mau ke tempat Non Abi ya, Pak?”
“Iya, Pak. Ibu ada kemari?” tanya Rishyad mengedarkan pandangan ke penjuru makam.
“Ibu kemarin kemari, Pak. Kalau begitu saya tinggal dulu Pak Rishyad, mau solat dzuhur dulu,” pamit pria tua bernama Pak Amir itu, meninggalkan Rishyad yang hanya mengangguk.
Ia terus berjalan menyusuri jalan kecil di sisi-sisi makam yang lain, hingga langkahnya berhenti di depan makam kecil. Matanya menatap nanar batu nisan marmer bertuliskan sebuah nama dengan warna emas. Seketika itu juga bulir bening meluncur dari pelupuk matanya, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada dirinya. Walau sesedih apapun keadaannya, sebisa mungkin ia tidak akan menangis. Hanya saja setiap kali datang ketempat ini, ia seakan lupa siapa dirinya selama ini. Rishyad berjongkok tepat di samping nisan, membelainya lembut sampai matanya terkunci pada beberapa tangkai bunga lily yang terlihat masih segar. Jelas sekali makam ini baru dikunjungi seseorang, yang ia tahu siapa orangnya.
“Assalamu'allaikum, Abi...”
Tangisnnya sudah tidak dapat dibendung lagi ketika mengucapkan salam dan nama itu, nama yang sudah 3 bulan ini tidak diucapkannya. Jujur ia merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan kehidupan dewasanya, sampai ia harus melupakan tubuh mungil yang terbaring dengan tenang di tempat ini.
“Nanti Daddy ajak kakak-kakakmu ke mari, jadi Abi bisa merasa bahagia. Walaupun Mommy dan Daddy sudah tidak bersama lagi, tapi kami masih mencintai dan mendoakan Abi,” ucap Rishyad disela tangisnya yang tertahan.
Tangannya menepuk-nepuk tanah makam yang ditumbuhi rerumputan yang nampak terawat. Dia tidak pernah lupa untuk memberi uang tambahan pada Pak Amir karena mengurus makam putrinya. Karena walau bagaimanapun di tempat ini ada tubuh kecil yang tertidur tenang, Rishyad tahu apa yang harus dilakukannya.
“Daddy pulang, Abi sayang, nanti kakakkakakmu akan ikut berkunjung,” ucapnya setelah mengecup nisan marmer itu.
Mungkin bagi sebagian orang tindakannya ini adalah sesuatu yang bodoh dan sia-sia, karena tidak ada batu nisan yang dapat bicara. Hanya saja itu merupakan suatu keharusan dan kebiasaan baginya. Seperti bagaimana caranya memperlakukan kedua putra kembarnya, Aldebaran dan Alastair.
“Sudah mau pulang, Pak?” tanya Pak Amir ketika Rishyad berjalan ke arah mobilnya.
“Iya, Pak,” jawabnya singkat.
“Tumben tidak sama Ibu,”
“Kami sudah berpisah, Pak,” jawabnya dengan mengutas senyum yang masih terlihat sangat tulus dan ramah.
“Maaf, Pak. Saya tidak tahu,” ucap Pak Amir menyesal.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya pamit dulu, ini sekedarnya buat Bapak dan tolong rawat makam Abi dengan baik. Saya sedang sibuk, jadi akan sangat jarang kemari,” ucap Rishyad menyalami Pak Amir sembari memberikan dua lembar uang seratus ribuan..
“Iya, Pak. Terima kasih,” Pak Amir menyunggingkan senyum pada Rishyad yang sudah berada di dalam mobil.
“Sayang sekali mereka berpisah, padahal pasangan yang sangat serasi,” gumam Pak Amir berlalu meninggalkan tempatnya berdiri.
***
Huda menenggelamkan diri dengan kesibukan di kantor, karena pernikahannya dan Samiera akan dilangsungkan minggu depan. Jujur saja ia masih merasa kesal pada Ammar Adnan, ayahnya. Bagaimana bisa pria itu melanjutkan pernikahan konyol ini setelah mendengar sendiri kenyataan tentang masa lalu Samiera dan Rishyad. Seandainya pria itu orang lain, mungkin tidak akan sesulit ini bagi Huda untuk menerima Samiera. Tapi? Pria itu adalah Rishyad Kelly, adik bungsu ibunya.
Setiap kali melihat wajah Samiera, hatinya selalu merasa dihujami rubuan timah panas karena wajah itu membuatnya ingat akan Rishyad. Bagaimana omnya menyentuh wajah lembut Samiera, mengecup bibirnya, membelai rambutnya, menatap matanya dan lebih dari itu. Sungguh Huda tidak sanggup untuk membayangkan lebih lanjut dari apa yang pernah kedua manusia menjijikan itu lakukan. Dan ia harus menerima semua masa lalu calon istrinya dengan lapang d**a? Sepertinya semua itu hanya ada dalam mimpi. Karena ia tahu dengan pasti bahwa kedua manusia itu masih saling mencintai, pernah sekali ia melihat tatapan terluka keduanya saat makan malam keluarga. Huda sungguh benci harus melihat tontonan menjijikan itu.
Tok... Tok...
“Masuk!” ucap Huda yang masih sibuk menandatangani beberapa berkas di atas meja, dengan satu tangan memijat kening.
“Pak, di luar ada Nona Intan ingin bertemu,” ucap Hendra, sekretarisnya. Ia sengaja memilih lelaki sebagai sekretaris, karena tidak ingin sampai terlibat skandal apapun.
“Mau apa dia?” tanya Huda sembari mendongakkan kepala.
“Katanya ada yang perlu dibicarakan dengan Bapak.”
“Ya sudah. Suruh dia masuk,” ucap Huda yang kembali larut dalam peekerjaannya.
Hening.
Tidak ada suara apapun selain goresan pena Huda pada lembaran-lembaran berkas yang sedang ditandatanganinya. Hingga telinganya menangkap suara langkah kaki memasuki ruang kerjanya, suara khas sepatu perempuan yang menurutnya sangat berisik. Ia melirik sekilas dari ekor matanya, melihat stiletto merah sedang menghiasi kaki jenjang yang putih.
“Ada apa kau kemari, Intan?” tanya Huda tanpa mengangkat kepala.
“Tidak bisakah menatapku saat bicara? Bukankah dulu kamu selalu menatap mataku?” tanya Intan menyadari Huda telah banyak berubah, lelaki didepannya tidak sedingin ini dulu.
“Aku sibuk, jadi katakan apa tujuanmu kemari?” Huda masih dengan posisi sebelumnya.
“Apa tidak ada kesempatan lagi untuk kita bersama, Sayang?” lirihnya seperti sedang menahan tangis.
“Jangan memanggilku dengan sebutan itu, aku akan menikah minggu depan. Jadi berhenti membahas masa lalu,” ucapnya dengan mengangkat wajah menatap Intan yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
Gadis itu menggunakan mini skirt berwarna merah sama seperti stilettonya, dengan kemeja hitam tanpa lengan. Dulu Huda akan mengatakan bahwa penampilan Intan sangat elegan dan berkelas, tapi tidak sekarang. Entah mengapa pandangannya tentang gadis ini berubah sejak terakhir kali melihatnya ditampar oleh Samiera. Terlebih selama hampir sebulan ini ia selalu melihat penampilan Samiera yang tertutup, jadi rasanya sedikit risih melihat perempuan dengan pakaian terbuka. Huda menggelengkan kepalanya keras ketika menyadari sedang memikirkan Samiera beberapa saat lalu dan membandingkannya dengan Intan.
“Kamu sakit? Mau ku temani ke Dokter?” tanya Intan ketika melihat Huda meringis sembari menggeleng keras.
“Tidak. Kamu bisa pergi jika sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan,” ucapnya yang kembali memfokuskan diri pada berkas-berkas di atas mejanya.
“Sepertinya memang tidak ada kesempatan lagi, baiklah aku pergi. Semoga pernikahan kalian bahagia,” ucap Intan berlalu meninggalkan ruang kerja Huda.
Huda menghentikan gerakan tangannya menandatangani berkas-berkas itu, mengangkat wajah dan menatap pintu ruang kerjanya yang baru ditutup. Ia sangat kacau saat ini, selalu saja ada nama Samiera di dalam otaknya. Berapa kalipun ia berusaha untuk meengapusnya, tapi tidak bisa. Apalagi jika manik coklat itu telah menariknya untuk mendekat, sifat kasarnya pada Samiera bisa langsung berubah.
“Bahagia? Samiera? Kami bahagia?” tanya Huda sambil menertawakan dirinya sendiri. Merasa bahwa apa yang diucapkan Intan padanya adalah sebuah lelucon garing, yang sudah pasti itu tidak akan terjadi.
Pernikahannya dan Samiera tidak akan pernah bahagia, ia sangat yakin akan hal itu.
***
Seminggu kemudian pesta pernikaha Huda dan Samiera digelar di hotel berbintang. Pernikahan keduanya menjadi sorotan publik, karena ini menjadi salah satu pernikahan terbesar dan termegah sepanjang tahun. Putra pertama dari seorang pengusaha telekomunikasi terbesar di Indonesia dan putri tunggal seorang peengusaha media terbesar di Indonesia. Suatu kombinasi yang sangat baik dalam pernikahan mereka. Setidaknya bagi sebagian orang di luar sana, karena mereka tidak tahu saja apa yang terjadi pada pasangan pengantin ini.
“Hebat ya kau, jalang,” bisik Huda tepat di telinga Samiera yang membeku di tempatnya.
Bahkan saat pesta pernikahan mereka pun Huda masih bisa berkata kasar padanya, hatinya benar-benar sakit. Sebisa mungkin Samiera tersenyum di hadapan ribuan tamu yang diundang keluarga mereka. Tapi apa yang dilakukan Huda tadi sungguh keterlaluan, Samiera membuang tatapannya ke arah lain. Namun yang ia dapati adalah tatapan sendu dari seseorang, Rishyad Kelly.
Pria itu duduk di salah satu kursi VIP yang disediakan untuk keluarga pengantin. Di dekatnya ada anak kembar laki-laki yang nampak sibuk dengan tablet mereka masingmasing, mengabaikan suasana pesta yang semakin ramai saat malam. Bisa dilihat dengan jelas tatapan kecewa dan sedih seorang Rishyad Kelly, karena saat ini pun ia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan mantan kekasih terlarangnya. Jujur perasaan Samiera belum berubah sepenuhnya, hanya saja ia sedang belajar untuk menerima Huda dengan segala sikap buruknya.
“Kalian jangan mempertontonkan tatapan romantis penuh luka di pernikahanku,” bisik Huda yang sesekali menyunggingkan senyum ke arah para tamu undangan yang hadir.
“Maaf,” lirih Samiera yang kembali memasang senyum bahagianya di depan para tamu, walau semuanya hanya senyuman palsu.
Pesta telah usai, meninggalkan pasangan pengantin baru itu dalam suasana hening kamar hotel yang dihias dengan sangat cantik. Kelopak mawar merah yang dibentuk hati di atas tempat tidur, serta handuk yang dibentuk menyerupai sepasang angka begitu memanjakan mata. Hanya saja kedua orang itu sama sekali tidak menikmati pemandangan di depan mata mereka. Huda sangat kesal karena Christian Kelly memberikan president suit untuk malam pertamanya dengan Samiera, tapi hanya ada satu tempat tidur di sini. Sungguh ia tidak ingin untuk tidur seranjang dengan perempuan yang sudah masuk dalam daftar hitamnya.
“Mau sampai kapan kau berpakaian seperti itu?”
Huda yang baru keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk sebatas pinggang, melirik Samiera yang masih mengenakan gaun pengantinnya. Bahkan riasannya pun masih tertata rapi di wajah cantik perempuan itu. Membuat Huda semakin kesal saja, karena bagaimanapun juga mereka telah menjadi suami istri. Tapi Samiera bersikap bahwa mereka bukan siapa-siapa.
“Cih. Menyedihkan sekali hidupku harus menikah denganmu yang bahkan tanpa ragu memberikan dirimu pada Om Rishyad,” Huda berlalu menuju lemari untuk mengambil pakaian “Bisa kita tidak membahas masa laluku?” tanya Samiera sudah tidak tahan dalam diam.
“Kenapa? Kau masih mencintanya?” Huda mengenakan kaos tipisnya dan menghampiri Samiera yang sedang menatap terluka ke arahnya.
“Jawab aku, Samiera!” Huda sedikit membentak dan membuat tubuh Samiera beringsut mundur, namun dengan sigap Huda menarik dagunya.
“Jawab, Samiera!” pintanya dengan penuh emosi.
“Sakit, Huda... Lepaskan...” Samiera meringis karena Huda menekan keras pipinya.
“Bahkan kamu memanggilku, suamimu hanya dengan nama. Namun kamu selalu memanggilnya dengan sebutan “Mas”. Tidak bisakah kalian bersikap normal seperti Om dan keponakan?” Huda semakin mengencangkan tekanan jarinya pada pipi Samiera, membuat wajah gadis itu memerah.
“Mas... Sakit...” lirih Samiera dan Huda pun langsung melepaskan tangannya dari pipi sang istri.
“Bersikaplah biasa saja, aku tidak suka melihat tatapan terluka kalian berdua. Seakanakan di sini akulah penjahatnya,” ucap Huda berlalu meninggalkan Samiera menuju tempat tidur berukuran king size di kamar itu.
Samiera mencatut diri di depan cermin, membersihkan riasan tebal di wajah cantiknya. Namun gerakan tangannya berhenti ketika menyadari ada pergerakan di belakang tubuhnya, bisa ia lihat Huda tengah berdiri tepat di belakangnya. Tangan lelaki itu mendekati kepalanya, membuat Samiera bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Masih jelas diingatannya betapa kerasnya Huda menekan kedua pipinya tadi.
“Aku tidak akan membunuhmu, aku hanya ingin membantumu melepas penutup kepalamu yang sudah seperti sarang burung ini,” ucap Huda dengan nada ketusnya namun dengan hati-hati melepaskan satu persatu jarum yang menusuk di jilbab yang dikenakan Samiera.
Dalam hati Samiera tersenyum, membayangkan bahwa Huda akan terus bersikap manis seperti ini. Namun ia tahu semua itu mustahil baginya, mengingat betapa bencinya Huda pada diri dan masa lalunya. Mungkin memang benar ia salah karena memiliki masa lalu yang buruk, mengingat bahwa lelaki ini sebenarnya adalah orang yang baik. Hanya saja egonya begitu terluka ketika harus menikah dengan perempuan mantan selingkuhan paman kandungnya sendiri.
Setelah membantu Samiera melepaskan riasan kepalanya, Huda kembali berjalan menuju tempat tidur. Memainkan ponselnya, memeriksa beberapa akun social media miliknya yang isinya sudah bisa dipastikan apa saja. Foto-foto serta ucapan selamat atas pernikahannya dengan Samiera, seandainya saja istrinya tidak memiliki masa lalu seperti itu dengan Rishyad. Mungkin saat ini Huda sangat berbahagia akan pernikahannya dengan Samiera.
“Ambil!” ucap Huda pada Samiera yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe.
“Apa?” tanya Samiera tidak mengerti maksud lelaki yang telah menjadi suaminya.
“Kau ambil bantal ini dan tidur di sofa, aku tidak siap harus berbagi ranjang denganmu,” Huda melemparkan bantal yang ada di sisinya pada Samiera dan langsung disambut dengan baik oleh gadis itu.
Samiera tidak ingin berdebat dengan Huda, jadi ia lebih memilih mengikuti apa keinginan sang suami. Walau jujur ia tidak pernah sekalipun merasakan tidur di sofa, dan lagi ukurannya tidak cukup besar untuk membuatnya nyaman. Setelah berpakaian, Samiera segera berjalan ke arah sofa di kamar ini. Merebahkan tubuhnya di sana dan membenamkan dirinya di dalam handuk bersih yang cukup besar untuk menutup tubuhnya. Karena tidak mungkin Huda akan memberi selimut untuknya. Tinggalkan semua perandaian baik tentang lelaki tampan yang jadi suaminya kini.
Mungkin karena tubuhnya sangat lelah dan matanya juga sangat mengantuk, jadilah Samiera tertidur pulas di sofa. Meninggalkan Huda yang masih berkutat dengan ponselnya, berpura-pura sibuk dan mengabaikan Samiera. Padahal sedari tadi matanya tidak lepas dari melirik tubuh mungil dalam balutan gaun tidur berlengan warna baby pink itu. Membuat wajah khas Indonesianya semakin cantik dan enak dipandang.
“Pantas saja Om Rishyad tergila-gila padamu,” gumamnya sembari menyusupkan kepala ke dalam selimut.