Bab 4

3387 Words
Sudah 2 bulan Amara bekerja di kantor Hermawan Adhiguna, ayahnya. Dan selama itu juga ia tidak bertemu dengan Huda atau Rishyad. Lebih tepatnya Amara menghindar, mengingat setiap kata yang keluar dari mulut Huda itu adalah jarum tajam. Selalu mengenai tepat pada jantung hatinya. Amara bekerja sebagai Wakil Direktur di perusahaan Media milik ayahnya, walau di awal kinerjanya sempat diragukan. Hingga beberapa terobosan dilakukan Amara, membuktikan bahwa ia mampu untuk melakukan semuanya dan pantas untuk posisinya saat ini. Sejak 2 bulan ini Amara rutin mengikuti kajian agama dengan Ummi Khadijah dan Kalila, ya sejak hari itu Amara memanggil Ustadzah Khadijah dengan sebutan Ummi. Banyak hal yang dipelajarinya, membuatnya lebih dekat dengan Illahi. Hermawan dan istri pun merasa senang akan perubahan putri tunggal mereka. Walau selama ini juga Amara tidak berlaku buruk seperti orang lain di luaran sana. “Bu Amara...” panggil Dania, sekretarisnya dari balik pintu. “Masuk!”  Amara yang masih sibuk memeriksa beberapa berkas mempersilahkan Dania untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Karena sudah pasti ada hal penting yang harus dikatakan gadis berambut panjang itu. Ia mendongakkan kepala ke arah Dania yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. “Ada apa, Dan?” tanya Amara halus. “Di luar ada yang mau bertemu dengan Ibu,” ucapnya sopan. “Siapa?” “Nona Intan Putri Wiroharjo.” “Siapa dia? Apa saya ada janji dengannya?” tanya Amara yang merasa tidak mengenal dan memiliki janji dengan perempuan bernama Intan. “Katanya teman Ibu dan sudah memiliki janji temu sebelumnya secara pribadi,” Dania memberitahu Amara tentang apa yang dikatakan Intan padanya. “Ya sudah. Biarkan dia masuk dan saya ingin tahu apa yang diinginkannya,” Amara kembali sibuk dengan tumpukkan kertas di atas mejanya setelah Dania beranjak dari ruang kerjanya. Suara pintu ruang kerja Amara yang dibuka namun tidak sedikitpun ia bergeming dari posisinya. Tumpukan berkas di atas meja menjadi fokusnya saat ini, bahkan suara dehaman pun tidak dihiraukannya. Amara benar-benar sibuk karena akhir bulan, akan ada evaluasi bulanan dari beberapa divisi di perusahannya. “Amara Permata Adhiguna,” suara sinis seorang perempuan menginterupsi Amara. Amara mendongak menatap seorang perempuan yang terlihat anggun dengan gaun berwarna lemon. Rambut yang dicat coklat digerai namun membandokan kacamata hitam di atas kepalanya. Sungguh Amara tidak mengenal siapa perempuan yang berada di depannya saat ini, terlebih lagi ia dengan lantang menyebutkan nama lengkap Amara. “Maaf, anda siapa?” tanya Amara yang masih bingung dengan sosok perempuan ini. “Perempuan yang kau rebut kebahagiaannya,” ucap Intan sinis dan menatap Amara merendahkan. “Maksudnya?” Amara mengangkat sebelah alisnya tidak paham apa yang dimaksud Intan dengan merebut kebahagiaannya. Sedangkan ia ingat sekali bahwa Rishyad hanya memiliki 2 orang putra dan lagi perempuan ini sudah pasti bukan istri dari pria itu. Lalu kebahagian yang mana yang dia rebut? Sungguh Amara tidak mengerti, karena selama ini dia tidak menjalin hubungan dengan pria manapun. Selain Rishyad Kelly yang telah resmi bercerai 3 minggu lalu dengan istri yang telah dinikahinya selama 11 tahun. “Kau p*****r!!!” bentaknya pada Amara yang saat ini sungguh terkejut dengan apa yang didengarnya. “Jaga bicara anda, Nona!!!” teriak Amara tak terima disebut p*****r oleh orang yang tidak dikenalnya. Amara berjalan ke arah gadis itu karena merasa emosinya sudah memuncak. “Itu kebanarannya! Kau p*****r berkedok jilbab dan mengambil kebahagiaanku!” Intan menarik jilbab yang dikenakan Amara. “Hey!!! Apa yang kau lakukan?” teriak Amara saat Intan berhasil membuat jilbab baby blue itu tanggal dari kepalanya. “Biar semua orang tahu siapa kau sebenarnya! Jalang!!!” Intan menjambak Amara membabi buta. Keributan di dalam ruang kerja Amara terdengar sampai keluar, bahkan Dania yang baru kembali ke meja kerjanya pun panik. Segera ia menerobos masuk ruang kerja Amara dan betapa terkejutnya ia mendapati Wakil Direktur perusahaan dijambak oleh perempuan bernama Intan. “Apa yang anda lakukan pada Bu Amara?” Dania menarik tangan Intan, berusaha melepaskannya dari rambut Amara yang sudah sangat berantakkan. Namun gagal karena Dania mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur. "Diam kau jalang! Kau pasti sama saja dengan boss mu ini!" teriak Intan menunjuk wajah Dania yang sudah memerah karena emosi. Kesempatan ini dimanfaatkan Amara untuk melepaskan diri dari cengkraman Intan, namun usahanya gagal ketika perempuan itu mencekal tangannya. Dengan cepat Intan membalik tubuh Amara untuk menghadapnya. Amara segera melayangkan tamparan kerasnya pada wajah Intan. “Ara!!!” Amara tersentak mendengar suara bariton di belakangnya, suara yang sangat ia kenal dan hindari sejak 2 bulan ini. Tubuhnya membeku di tempat, mengabaikan jilbabnya yang dibiarkannya asal-asalan karena tadi menggunakannya dengan cepat saat berhasil lolos dari cengkraman Intan. Dania sudah berdiri dan membantunya merapikan penampilan. “Huda... Kau lihatkan apa yang dia lakukan padaku?” Intan berlari ke arah Huda sembari merengek karena tamparan Amara. “Apa yang kau lakukan, Ara?” tanya Huda penuh penekanan dalam setiap katanya, membuat Amara sedikit panik namun tidak sedikitpun ada keinginan untuk berbalik. “Dia menamparku, Sayang...” rengek Intan yang sudah memeluk Huda namun segera ditepis oleh lelaki itu. “Kau menolakku karena seorang p*****r begitu?” tanya Intan dengan nada sinisnya pada Huda yang masih menatap punggung Amara. “Diam, Intan. Kita sudah tidak lagi menjadi kekasih, jadi tolong berhentilah memanggilku seperti itu,” Huda melihat ke arah Intan dan berusaha menjelaskan keadaannya. “Ma-maaf, Pak Huda,” ucap Dania tergagap karena mata Intan sudah seperti akan melahapnya saat ini. “Kau siapa?” tanya Huda pada Dania yang nampak membantu Amara merapikan penampilannya. “Saya Dania, sekretaris Bu Amara,” jawabnya. “Bisa kau jelaskan apa yang terjadi,” pinta Huda masih terdengar dingin, mengabaikan Intan yang masih berusaha merangkul lengannya. “Huda... Kau tadi lihat sendiri apa yang dilakukan jalang itu,” rengek Intan berusaha mengalihkan pandangan Huda dari punggung Amara. “Jangan mengatai calon istriku ‘jalang’ kalau kau juga bersikap sama seperti seorang JALANG,” ucap Huda penuh penekanan di akhir kalimat yang membuat Intan kesal. Tidak hanya Intan yang merasa tersinggung dengan kata-kata Huda. Di ruangan ini juga ada seorang perempuan yang sudah beberapa kali mendengar kata itu dari mulut seorang Huda Adnan. Sekali lagi 1 jarum berhasil menembus jantungnya.  Sebenci itukah kau padaku? Tidak bisakah kau melihatku sekali saja, Huda? Gumam Amara dalam hatinya sesaat setelah mendengar perkataan Huda. “Tadi Nona ini menjambak rambut Bu Amara dan saya datang untuk menghentikannya. Tapi tubuh saya didorong hingga terjatuh lalu Bu Amara melepaskan diri tapi tangannya dicekal,” Dania menceritakan kejadian tadi pada Huda yang mengetatkan rahang. Gerahamnya saling menekan kuat dan kedua tangannya mengepal kuat di dalam saku celana. “Intan. Pergi sekarang!” perintah Huda penuh penekanan. “Sayang, aku bisa jelasin...” Intan meraih lengan Huda sembari memohon agar diberi kesempatan untuk menjelaskan. “Cukup. Jangan mengatakan ‘jalang’ jika kau masih mendekati calon suami orang lain. Dan Dania, tolong tinggalkan saya dan Amara,” ucap Huda dengan nada dinginnya. Dania segera keluar diikuti oleh Intan yang masih bersungut kesal. Bagaimana bisa ia diusir di depan perempuan yang sudah menghancurkan hubungannya, merebut Huda darinya. Seandainya tadi Huda tidak datang, mungkin saja ia sudah berhasil membuat Amara masuk rumah sakit. Mengingat perempuan itu tidak banyak melakukan perlawanan. Sekarang hanya ada Huda dan Amara berdua di ruangan ini, begitu sunyi. Karena tidak ada satupun yang membuka suara dan larut dalam pikiran masing-masing. Amara masih membenarkan posisi jilbabnya, akibat perbuatan perempuan yang ternyata kekasih Huda. Tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini, selalu berdiri di antara hubungan orang lain. “Ada perlu apa Bapak kemari?” tanya Amara tanpa membalikkan tubuhnya. “Hmmm... Kau tidak mengzinkanku datang? Tapi mengizinkan Om Rishyad kemari?” Huda bergumam sesaat. “Apa maksud anda?” Amara berbalik saat merasa penampilannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Huda tercekat saat melihat penampilan Amara yang jauh dari kata baik. Jilbabnya masih berantakan dengan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Dan yang paling membuat Huda kaget adalah darah pada bekas goresan sesuatu di wajah mulus Amara. “Kau berdarah?” tanyanya sedikit panik karena sebisa mungkin ia meredamnya. “Darah apa?” Amara bingung dan tidak mengerti dengan kata-kata Huda. Huda berjalan mendekati Amara, mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya. Membersihkan sisa darah yang sudah mulai mengering di pipi kiri Amara. Bagaimana bisa dia mendapatkan luka itu namun tidak menyadarinya? Huda benar-benar kesal saat ini. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai di sini?” Huda mencecar Amara dengan pertanyaan yang menggambarkan betapa khawatirnya ia. “Aku merebutmu darinya,” lirih Amara membuat Huda menghentikan gerakan tangannya pada pipi lembut itu. “Apa?” “Biar aku saja,” Amara meraih sapu tangan dari tangan Huda yang menampakkan wajah menyeramkannya. “Cih... Kau melarangku menyentuhmu tapi memberikan dirimu untuk Om Rishyad. Ternyata aku tidak lebih baik dari kekasihmu itu Ara. Lakukanlah sesukamu jalang, ku tarik semua niatku untuk berbaikan denganmu,” Huda mencibir dirinya sendiri yang ditolak Amara. “Aku tahu bahwa semuanya salah, tapi tidak bisakah kau melihatku sekali saja, Huda?” perkataan Amara barusan berhasil membuat langkah Huda yang akan beranjak dari ruang kerjanya terhenti. Huda sangat kesal karena harus menikahi perempuan yang merupakan kekasih omnya, lebih tepatnya adalah selingkuhan omnya. Sekarang Rishyad telah resmi bercerai, bukan tidak mungkin jika Amara akan kembali lagi padanya. Memikirkan apa yang dilakukan om dan calon istrinya selama ini membuatnya mual. Tidak mungkin kan dua orang dewasa menjalin hubungan terlarang tanpa ada hal yang iya iya. Huda yakin sekali itu, maka dari itu dia frustasi tiap kali melihat mata coklat Amara. Mata yang selalu menariknya untuk mendekat, tapi disaat yang sama mata itu pula yang mendorongnya pergi. Jujur ia tidak tahu jawaban apa yang tepat dari pertanyaan Amara. Karena ia tidak tahu apakah benarbenar bisa melihat ke arah Amara. Karena setiap kali melihatnya membuat hatinya sakit. Entah karena apa, tapi Huda tidak mengerti dengan semua itu. “Tidak bisakah, Huda? Aku sudah meninggalkan masa lalu itu,” ucap Amara bergetar tapi tak sedikitpun membuat Huda bergeming. “Tidak pantaskah orang yang punya kesalahan masa lalu melangkah maju? Menata lagi kehidupannya yang berantakan, memperbaiki dirinya. Tidak pantaskah aku untuk sekali saja kau lihat?” Amara mulai terisak karena Huda masih tak bergeming dari tempatnya. Huda mengepalkan tangannya di dalam saku celana, betapa tersiksanya ia saat ini. Mendengar isakan Amara dan semua pertanyaan yang ia sendiri tidak ketahui jawabannya. Apakah Amara pernah menangis seperti ini saat bersama Om Rishyad? Setiap kali memikirkan Amara maka nama Rishyad juga akan hadir dalam otaknya. “Tidak pantas!” Huda kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Amara tanpa menoleh ke belakang. Mengabaikan Amara yang masih terisak memegangi sapu tangannya. Awalnya Huda datang untuk meminta maaf dan mencoba menerima Amara sebagai calon istrinya. Tapi tiap kali melihat wajah Amara, seketika itu juga rasa benci dan marah menyeruak dalam dirinya. Di dalam lift Huda terus merutuki dirinya yang sempat lemah untuk mengalah pada Amara dan masa lalunya. Namun kali ini egonya kembali menang melawan hati yang lemah ini. Ponselnya tidak henti bergetar, dan Huda tahu siapa yang sedari tadi menghubunginya. Perempuan masa lalunya yang juga sudah ia anggap jalang, hal yang paling dia tidak sukai adalah perempuan yang tidak memiliki harga diri. Pintu lift terbuka tepat di lobby gedung, menampilkan beberapa staff perusahaan yang sedang menunggunya keluar. Huda menampilkan wajah datar yang menguarkan aura dingin. Sebagian mereka tahu siapa Huda dan apa hubungannya dengan Amara, Wakil Direktur Guna Media. Berita pernikahan mereka tersebar dengan sangat cepat, terlebih keduanya berasal dari kalangan atas. Jadi tidak sulit untuk membuat berita itu muncul ke permukaan. Deg... Jantung Huda rasanya ingin mencelos keluar ketika melihat siapa yang berada tidak jauh di depannya. Sosok yang dihindarinya hampir 2 bulan belakangan sedang berbincang dengan Hermawan Adhiguna, calon ayah mertuanya. Emosi yang susah payah ia redam sedari tadi, kini hadir kembali memporak porandakan pertahannya. “Huda...” panggil Hermawan ketika melihat Huda yang membeku ditempatnya berdiri. Tidak lihat saja betapa pucatnya wajah Rishyad saat ini, rahangnya mengeras karena terkejut dengan apa yang didengarnya. Huda menemui Amara? Artinya mereka akan tetap melanjutkan pernikahan itu? Jujur sampai saat ini pun ia belum bisa merelakan Amara untuk keponakannya. Mengingat betapa ia mencintai Amara dan lagi semua hal yang pernah mereka lalui bersama. Hingga ia berani mengambil keputusan besar untuk bercerai dari Nania yang sudah menemaninya selama 11 tahun. Walaupun ia juga tahu apa yang dilakukan dibelakangnya selama ini, namun ia tidak ambil pusing hingga bertemu dengan Amara. Dunianya. “Sudah, Yah. Nanti malam Huda ke rumah. Om, Huda duluan ya,” ucap Huda meninggal kedua pria dewasa di belakangnya. Kalau saja tidak lihat tempat di mana dia berada, mungkin sudah sejak tadi ia melayangkan tinjunya ke wajah Rishyad. Tidak perduli bahwa pria itu adalah pamannya, yang ia inginkan hanya memukul pria yang sudah menjadikan Amara seorang jalang. Mengingat fakta bahwa Amara adalah gundik Rishyad semakin membuat Huda emosi. *** Malam ini Amara sedang sibuk belajar mengaji dan mengkaji Al Quran dengan Ummi Khadijah dan Kalila seperti biasa. Sudah 2 bulan ini Ummi Khadijah dan Kalila selalu datang ke kediaman Adhiguna untuk mengajari Amara. Hermawan dan istrinya tak jarang ikut mengkaji Al Quran bersama dengan putri mereka. Perubahan Amara membawa dampak positif dalam kehidupan keluarga mereka. “Maka dari itu kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan pada kita,” ucap Ummi Khadijah diakhir kajiannya malam ini. “Tuan... Tuan...” “Nyonya...” Teriakan Ningsih pembantu rumah tangga di kediaman Adhiguna menggema di lantai 2 rumah ini. Semua orang yang berada di Mushola rumah serentak menoleh ke arah Ningsih yang datang dengan terengah-engah. Seperti ada sesuatu yang mengejarnya jika melihat bagaimana penampilan wanita usia pertengahan itu. “Ada apa, Ning?” tanya Hermawan bingung. “Iya, Ning. Kenapa kamu sampai ngosngosan begitu?” tanya Ibu Amara heran melihat Ningsih yang masih mengatur nafasnya. “Di bawah ada perempuan cantik sedang mengamuk, katanya mencari Non Ara,” ucapnya masih dengan nafas yang belum teratur. Tubuh Amara menegang, tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana. Tapi firasatnya mengatakan bahwa itu pastilah bukan sesuatu yang baik untuknya dan juga keluarganya. Ummi Khadijah dan Kalila yang melihat raut wajah Amara berusaha untuk menenangkannya. Saat ini pun mereka memiliki pemikiran yang tidak jauh berbeda dari Amara. Keluarga Hermawan menuruni tangga dan segera berjalan keluar dari kediaman mereka. Melihat ada seorang wanita dengan penampilan berkelas sedang menyumpah serapah pada semua pekerja di rumah itu. Karena tidak diizinkan untuk masuk dan menemui Amara. Seketika itu senyuman terbit dari bibir merah wanita dengan balutan mini dress berwarna hijau. Matanya menatap tajam pada Amara yang masih mengenakan mukenanya. Melihat wajah yang sudah memucat sempurna dengan tangan yang sedikit bergetar. “Kenapa kau, Amara? Takut?"”tanya wanita itu berjalan ke arah Amara yang berdiri disisi kedua orang tuanya. “Sebenarnya ada apa ini?” tanya Hermawan tidak mengerti dengan apa yang dilakukan wanita itu. “Kau tanya saja pada putrimu yang jalang itu,” cibirnya ke arah Amara yang semakin beringsut mundur mendekati Ummi Khadijah. “Jalang? Jaga bicara anda, Nyonya Nania!” bentak Hermawan saat mendengar panggilan tidak pantas itu untuk putrinya. “Kenapa, Tuan Hermawan Adhiguna yang terhormat? Anda tidak tahu betapa jalangnya putri kecil anda ini?” Nania semakin berjalan mendekati Amara yang semakin ketakutan. Belum hilang bekas cakaran Intan pada wajahnya tadi siang, dan sekarang ia harus kembali berhadapan dengan Nania. Mantan istri Rishyad Kelly. Sudah dipastikan apa yang akan terjadi setelah ini, Hermawan ingin mecekal tangan Nania namun terlambat. Nania sudah berhasil menarik mukena yang dikenakan Amara dan menjambak rambut gadis itu. Amara sama sekali tidak melawan dan hanya menangis merasakan sakit pada kepala dan hatinya. Dia hanya tidak menyangka jika akan seperti ini akirnya, mencintai seseorang di waktu yang salah. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan putriku!!!” teriak Ibu Amara berusaha melepaskan cengkraman tangan Nania dari rambut Amara. “Putri kalian memang pantas mendapat ini, karena dia telah berhasil membuat Rishyad menceraikanku,” teriaknya pada Hermawan dan istrinya. Membuat suami istri itu terkejut bukan main dengan apa yang didengar oleh telinga mereka. Amara hanya menangis merasakan cengkraman tangan Nania semakin keras pada rambutnya. Ummi Hamidah dan Kalila berusaha menahan tubuh Nania agar tidak semakin membabi buta menyerang Amara. “Maaf,” satu kata lolos dari mulut Amara dengan terisak. “Kamu bilang maaf? Rumah tanggaku hancur Amara!!!” teriaknya tepat di depan wajah Amara yang basah oleh air mata. “Cukup, Nania!!!” suara Hermawan menggelegar menghentikan cengkraman Nania pada rambut Amara. Hermawan jujur saja terkejut dengan apa yang didengarnya dan lagi Amara mengatakan maaf pada Nania. Artinya memang benar apa yang didengarnya tadi, putrinya menjadi penyebab perceraian Rishyad dan Nania. Sungguh Hermawan tidak habis pikir, bagaimana Amara bisa melakukan hal sekotor itu? Namun Amara tetap putrinya, ia harus menghentikan kegilaan Nania. “Jaga putri anda, Tuan Hermawan. Kalau tidak ingin dia menjadi p*****r yang menjajakan tubuhnya di luar sana,” ucap Nania melirik Hermawan sekilas. “Dan kau, Amara! Aku tidak tahu di mana kau meletakkan otak cerdasmu itu, hingga kau dengan suka rela memberikan tubuhmu untuk Rishyad. Terlebih lagi keluargamu cukup kaya untuk menuruti apapun keinginanmu,” Nania menunjuk wajah Amara yang sudah sangat kacau sembari mencercanya dengan kata-kata pedas. Memang apa yang dilakukan Amara adalah sesuatu yang sangat salah, menjalin kasih dengan pria beristri. Benar-benar menciptakan nerakanya sendiri, lihat saja bagaimana wajah kecewa kedua orang tuanya. Ibu Amara sedari tadi tidak hentinya menangis mendapati fakta tentang putrinya. Nania telah meninggalkan kediaman Adhiguna, menyisakan keluarga itu dalam keadaan hening di depan rumah. Bahkan Ummi Khadijah dan Kalila juga sudah pulang, memberikan waktu untuk keluarga itu menyelesaikan masalahnya. “Amara Permata Adhiguna. Masuk!” perintah Hermawan yang merangkul tubuh istrinya masuk ke dalam rumah. Seluruh pelayan yang tadi menonton kejadian itu telah bubar dan kembali ke kediaman mereka yang masih berada dalam satu wilayah yang sama dengan rumah utama. Amara memasuki rumah masih dengan terisak dan langkah gontai. Sudah dipastikan apa yang dilakukan Hermawan padanya. “Jelaskan, Amara!!!” teriak Hermawan pada Amara saat baru memasuki ruang keluarga. Dengan tubuh bergetar dan masih terisak, Amara mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa pada dirinya. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Setidaknya ia sudah berani untuk jujur, apapun hasilnya akan ia terima. Karena ia sepenuhnya sadar dengan kesalahannya dan segala konsekuensi dari perbuatannya itu. Bahkan kejadian tadi pun sudah ada dalam perhitungannya. Amara menceritakan semuanya pada kedua orangtuanya, tentang hubungan terlarangnya dengan Rishyad Kelly. Tak ada satupun yang ditutupinya dari kedua orang tuanya. Bisa dilihatnya dengan jelas raut wajah kecewa pada wajah-wajah itu. “Maafkan Ara, Ayah... Ibu, maafkan Ara...” tangisnya pecah saat bersimpuh di bawah kaki Hermawan dan Amira, orang tuanya. “Kau mengecewakan Ayah dan Ibu,” Hermawan terisak mengetahui kelakuan putri tunggalnya selama ini. “Maaf...” lirihnya masih bersimpuh di kaki kedua orang tuanya. “Rasanya ingin sekali mengusirmu, tapi jika kami melakukan itu maka kehidupanmu belum tentu akan jadi lebih baik lagi setelahnya,” ucap Hermawan merunduk, memeluk tubuh Amara yang semakin terisak. “Ibu kecewa, jujur. Marah, sudah pasti. Tapi apa kecewa dan kemarahan kami bisa mengembalikan semuanya, Amara?” Amira ikut menangis memeluk suami dan putrinya. “Kita harus batalkan pernikahan Amara dan Huda,” ucap Hermawan lirih. Dua orang yang sedari tadi melihat dan mendengar sebagian pembicaraan sudah tidak tahan lagi. Memutuskan untuk keluar dari persembunyian mereka dan menginterupsi keluarga kecil yang sedang menangis dan saling memeluk itu. “Tidak akan ada pembatalan pernikahan, putri kalian akan tetap menjadi menantuku. Istri Huda.” Rupanya Ammar dan Huda yang tadi datang  niatnya untuk membahas pernikahan, dibuat terkejut dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Amara mengatakan hubungannya dan Rishyad berakhir sejak 2 bulan lalu. Artinya semua yang dipikirkan Huda selama ini benar. Semakin kuat rasa bencinya pada Amara. Tapi keputusan Ammar sudah bulat, membuat Huda tidak bisa melakukan apapun. Selain menerima pernikahan bodoh ini dengan Amara, mantan kekasih Rishyad.  “Putriku tidak pantas untuk Huda. Jadi kita akhiri saja perjodohan ini, Ammar,” pinta Hermawan pada Ammar yang masih nampak tenang, berbeda dengan Huda yang sedari tadi menatap Amara tajam. “Pernikahan mereka akan dipercepat Hermawan dan mulai saat ini namanya bukan lagi Amara,” ucap Ammar tenang. “Maksudmu apa? Putriku adalah Amara,” Hermawan tidak mengerti dengan maksud Ammar. “Biarkan putrimu memulai kehidupan barunya, meninggalkan semua cerita gelap kehidupannya. Dia adalah Samiera, yang artinya kebahagiaan. Semoga hidupmu selalu dilimpahi kebahagiaan, Nak,” ucap Ammar mendekati Amara dengan sayang. Cih. Samiera. Kebahagiaan? Tidak untukmu dan untukku, Samiera. Yang ada hanya neraka dan penderitaan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD