Badanku terguncang dengan hebat, menimbulkan gejolak yang membuat perut hingga tenggorokanku seakan di gelitik, untuk segera mengeluarkan isi dari dalam perut. Saat ini, aku berada di atas delman yang membawaku dan Ayu pergi menuju desa di mana Arta berada.
Perjalanan panjang yang aku dan Ayu lewati ternyata tak habis duduk di dalam bus selama berjam-jam lalu menyebrangi laut dengan kapal feri bertiket murah. Namun masih ada jalanan tanah yang harus kita lalui dengan kekesalan.
Ayu tak henti merengek, namun rengekan Ayu karena ingin menunggangi langsung kudanya, tidak mau duduk di kursi penumpang. Jelas saja berkali-kali aku melarang, hingga kini wajah bocah lugu itu merengut kesal. Tingkat kekesalan yang berbeda, namun bermuara pada titik yang sama, kuda. Jelas tidak! Jika di telisik lebih dalam, kekesalan kami berasal dari Arta, lelaki yang kini mengendarai motor butut di belakang delman kami.
Sebelumnya kami sempat berdebat, Arta dengan mulut manis merayuku agar mau berboncengan semotor dengannya. Otak awasku mendadak aktif, iya kalau aku diantar kerumah Kakak Ipar dengan selamat. Kalau aku di buang ke hutan atau di lempar ke jurang hingga tewas, siapa yang tahu?
Arta tak segan memberiku dan Ayu jampi-jampi sinting hingga kami macam orang linglung dan bodoh. Bahkan aku sempat sekarat karena sebab yang tidak pasti. Bukankah tidak menutup kemungkinan jika dia sanggup melenyapkanku?
"Sebenarnya kalian ada masalah apa sih Ros? Kok Arta datang-datang bawa wanita yang di akui sebagai istrinya?"
Kalimat itu sudah tidak lagi mengejutkan untukku, aku sudah mendengar itu sebelumnya, saat Kakak iparku mengabariku. Karena alasan itu pula aku datang jauh-jauh dari tanah Jawa dan menyebrang ke tanah Sulawesi, untuk melabrak Arta si lelaki sinting.
Sidang perceraian bahkan belum terjadi, bahkan surat panggilan sidang pun sepertinya belum di cetak, tapi lelaki itu sudah bertingkah? Kurasa Kejantanannya bahkan belum lembek karena baru meniduriku dengan bantuan ilmu hitam, tapi dia sudah mau memasuki liang wanita dengan status istri? Pintar sekali otaknya, mengapa selama ini tak dia gunakan untuk memikirkan cara supaya cepat kaya? Setidaknya jika dia kaya, selingkuhnya akan lebih bermartabat, tidak murahan seperti ini.
Senyuman menjijikkan terukir di wajah Arta saat secara tidak sengaja aku menoleh kearahnya karena reflek kesal. Rambut lelaki itu di pangkas habis, menyisakan sisa tipis yang terlihat seperti tentara baru. Melihat penampilannya sekarang dengan rambut tipis dan kulit makin kecoklatan, terkesan sangat cocok jika saja Arta memang menjadi tentara. Ia memang menjadi tentara, namun bukan bela negara, tetapi bela istri orang!
"Aku juga ndak tahu Mas, kita saja belum resmi pisahan."
Sebenarnya malas kembali membahas masalah ini, namun raut penasaran dan rasa ingin tahu Mas Bagio membuatku merasa tak enak hati, setidaknya Kakak kandung Arta harus mengetahui kebejatan sang adik.
"Sontoloyo!" Bagio menoleh kearah Arta yang masih setia mengikuti delman kami dari belakang.
Tanah yang basah, serta tidak adanya sedikitpun batu maupun aspal yang menyelimuti jalanan, membuat motor yang di kendarainya beberapa kali tergelincir, namun raut wajahnya tidak pernah berubah. Arta terus tersenyum dengan menjengkelkan, bodohnya dulu aku selalu terpesona dengan senyuman manis Arta, yang jika di renungi lebih dalam, terlihat memuakkan.
"Terus yang di rumahku itu siapa? Setan?!"
"Nggak setan Mas," potongku, membuat kening Mas Bagio mengernyit, "tapi iblis yang menjelma jadi ular!"
Kali ini kening Mas Bagio tidak lagi mengernyit, namun mengkerut membentuk lipatan-lipatan dalam yang terlihat abstrak, sepertinya keningnya siap tergulung karena wajah terkejutnya itu.
"Spesies apa itu?"
Aku tergelak, melihat wajah serius Mas Bagio untuk guyonan murahanku, membuat tawaku benar-benar pecah, Mas Bagio masih saja polos. Namun, walau polos pun ia adalah lelaki yang tegas, dapat kupastikan jika saat delman ini berhenti, badan Arta akan terlempar ke tanah, akibat bogeman dari Mas Bagio.
Kamu kabur ke tempat yang salah Arta!
Deringan nyaring ponsel di dekapan membuat tawaku terhenti, nama Joe tertera di sana, seketika membuatku sadar akan kebodohanku. Aku dan Ayu menginjakkan kaki di Sulawesi bahkan dari beberapa jam lalu, bahkan hampir seharian untuk menuju kecamatan di mana desa yang akan aku tuju. Namun sama sekali tidak mengabari Joe yang jauh-jauh mengikuti kami?
"Hallo m-" bibirku segera mengatup rapat dan mengerem dengan tepat, sebelum kata 'mas' terlontar dan membuat suasana mencekam antara kakak beradik di sampingku semakin panas.
Jelas akan panas, dapat kujamin jika Arta akan mengompori dan memutar balikkan fakta, yang membuat akulah yang bersalah.
"Kalian belum sampai? Kalau belum, kalian di mana? Biar aku jemput ya?"
"Eum ... " aku menoleh kearah Mas Bagio yang kini menatapku penuh tanya. Bodohnya aku tidak memikirkan bagaimana caranya aku memperkenalkan Joe pada Iparku.
Teman? Arta tak mungkin diam saja, terakhir kali bahkan lelaki itu menuduhku yang selingkuh.
Saudara? Sangat lebih tidak mungkin! Gali liang lahat sendiri namanya.
"Aku sama Ayu sudah sampai."
"Baguslah, kirimkan alamatmu."
Kirim alamat, memikirkan jika Joe datang dan dengan polosnya Ayu akan memanggil lelaki tinggi serta tampan dengan panggilan Papa, membuat kepalaku seketika pening. Bukankah itu akan menjadi masalah juga nantinya? Berakhir dengan dugaan saling menyelingkuhi yang bahkan tidak pernah aku lakukan.
"Maaf, lebih baik ndak usah datang, untuk meminimalisir kemungkinan buruk." Jawabku ragu-ragu, seraya menatap Mas Bagio yang kini mengamatiku.
Segera kumatikan sambungan telepon kami, pikiranku terbayang kemana-mana. Rasa bersalah menghantuiku, Joe sudah bertindak sejauh ini, lelaki itu dengan anehnya mengikutiku dan Ayu ke pulau lain. Sebenarnya, apa tujuannya? Mengapa dia selalu menganggu kehidupanku?
Aku tidak memiliki harta, aku hanyalah calon janda dengan satu putri, bukankah seharusnya Joe tidak perlu mendekat? Tidak ada alasan untuk dia bermain-main, karena permainan itu jelas tak akan pernah menyenangkan. Karena jika menyenangkan, tak mungkin suamiku pergi dengan wanita lain.
"Ayo yang, Mas bantu bawa tasnya," Arta mengulurkan tangan begitu delman sudah berhenti.
Mataku terpejam sejenak, tanganku mendekap tas jinjing besarku dengan erat. Tidak akan pernah mungkin kubiarkan Arta menyentuh tasku. Kehadiranku kemari saja harusnya tidak ia ketahui, namun lelaki itu tahu jika aku akan datang.
Mas Bagio jelas memintaku datang dengan diam-diam, berakhir menggrebek Arta dan melempar surat nikah kami di depan wajahnya. Mengakui Sumi adalah istri sahnya di depan warga desa, namun pernikahan sah mana yang bisa di lakukan tanpa persetujuan istri sahnya?
"Aku punya tangan!" Sinisku lalu turun, beruntung pak kusir membantu Ayu untuk turun, sehingga aku tak perlu melepas tasku barang sesaat.
"Ayo masuk Ros," mas Bagio mempersilakan, dengan tajam dan penuh rasa jijik, kulirik Arta yang tersenyum kearahku.
Jika di pikir-pikir, mengapa aku mau menikah dengan lelaki hidung belang sepertinya?
Aku melangkah dengan penuh keyakinan menuju rumah kontrakan milik Mas Bagio, dia memang juragan kontrakan, bukan berarti dia mengontrak rumah. Melihat kerlingan mata yang berarti kode dari Mas Bagio, aku mendadak bersemangat. Pasti di dalam sana ada Sumi yang di sembunyikan Arta.
Namun, saat aku masuk dan mengitari segala penjuru rumah petak itu, tak ada sama sekali batang hidung Sumi di sana. Aku sengaja datang dengan pakaian rapi, ingin membandingan seunggul apa Sumi hingga membuat suamiku terlena. Tapi hasilnya zonk, zonk besar.
Pasti Sumi sudah di bawa pergi setelah mengetahui jika aku akan datang kemari.