9. Mengumbar Masalah Hidup

1423 Words
Awalnya cukup alot membawa Ayu pergi, serta uang 800 ribu transferan yang berada ditangan Joe. Lelaki itu menahanku agar tidak pergi, namun dia siapa? Joe sama sekali tak memiliki hak untuk melarangku. Hanya karena baik dan menolongku, tidak seharusnya ia ikut campur kan? Begitulah kata-kata yang sempat kulontarkan. Hingga akhirnya ia meminta maaf, dan menyerahkan uang transferan itu padaku. Ada rasa bersalah saat Joe menyerahkan uang itu dengan ekspresi lemah. Mungkin ucapan telakku sedikit menyakitinya? Tapi bagaimana lagi? Aku harus pergi, dan aku tak butuh larangan dari Joe yang bukan siapa-siapa. Ayu merengut dengan memeluk boneka kelinci pemberian Joe, jelas ia kesal karena harus dipisahkan secara paksa dari 'papanya'. Namun mau tak mau ini harus dilakukan, aku tak mungkin meninggalkan Ayu. Aku hanya memiliki Ayu saja, dan kemanapun aku pergi, putriku harus ikut serta. "Buk, Ayu lapar," lirih Ayu dengan wajah merengut siap kembali menangis. Kedua pipinya memerah, matanya bahkan masih sembab. Uang 800 ribu yang kudapat, sudah aku gunakan untuk membeli tiket bus yang saat ini kami kendarai. Hanya sisa uang celenganku yang tak seberapa. Rasanya aku ingin mengutuk diriku sendiri, bagaimana bisa nekat pergi tanpa memiliki uang? Uang gajiku bahkan ludes untukku berobat, makan dan keperluan sehari-hari. Dengan sombongnya aku menolak dengan tegas bantuan dana dari Joe. Jelas aku menolak, aku tak mau menyimpan budi pada lelaki itu. Joe terasa seperti rubah licik yang mengenakan topeng domba, dan aku tak mau mengambil resiko dengan berpegang pada rubah menggemaskan itu. "Nanti ya, kalau ada pedagang asongan masuk." Apes sungguh apes. Baru saja aku menutup mulut, bus berhenti untuk mengisi bahan bakar. Jelas para pedagang asongan mulai masuk, dan Ayu memekik girang karenanya. "Ayu mau itu, itu, itu sama itu Buk!" Banyak makanan dan mainan yang Ayu tunjuk, membuat para pedagang itu berkerumun ditempat duduk kami. Aku tak bisa menolak, terlebih Ayu sedang berada di mode ngambek. Jika saat ini aku mengatakan tidak, bisa saja lengkingan tangis maut Ayu akan membuat seisi bus mengeluh kesal. Tak apa, untuk sekarang biarkan Ayu kenyang, aku bisa puasa jika tak memiliki uang tersisa lagi. Setelah memastikan Ayu memakan makanan pilihannya, aku memutuskan untuk tidur saja. Tidak hanya Ayu, aku pun lapar, siang tadi kami belum sempat makan karena ada Nyai Sumarsih, serta Joe. Awalnya Joe berencana akan mengajak kami makan soto di pertigaan kecamatan. Tapi kalau sudah adu mulut, mana bisa aku menagihnya? Malu dong! Cukup lama aku terlelap, dalam tidurku, aku memimpikan sosok Joe. Ada rasa syukur karena bukan mimpi jelek yang datang, namun mengapa Joe? Aku mengerjap, dan barang partama yang kuperiksa begitu sadar adalah ponsel. Terdapat pesan baru, yang ternyata dari Joe. Lelaki itu menanyakan alamat yang akan kudatangi di Sulawesi. Ia menanyakan karena khawatir pada Ayu, dan memastikan kami benar-benar pergi ke Sulawesi. Yeah, tentu saja kukirimkan alamatnya tanpa pikir panjang. Menyadari aku kekurangan uang, siapa tahu Joe bisa menjadi orang pertama jika nanti aku butuh pertolongan bukan? "Ayu, nak ... Ibuk mau pip— Ayu!" Aku memekik histeris begitu menyadari Ayu tak ada disisiku. Saat ini bus memang sedang berhenti di rumah makan, mungkin para penumpang dan crew Bus kelaparan. "Bu, lihat anak saya ndak buk" Tanyaku pada penumpang yang duduk di sebrang tempat dudukku. "Oh Ayu?" Aku mengernyit heran, bagaimana ibu itu tahu nama Ayu? Bahkan kami tidak sempat bertegur sapa sebelumnya. Aku yang panik hanya mengangguk saja, dan ibu itu menunjuk kearah luar, lebih tepatnya arah warung makan. "Tadi dia duduk dan ngobrol sama sopirnya mbak, terus diajak turun ke warung." Ya Tuhan, Ayu! "Terima kasih bu, permisi." Aku segera berlari keluar dengan tergesa. Sopir adalah seorang pria, dan Ayu adalah bocah kecil di bawah umur. Jika memikirkan tentang dunia persopiran yang gelap, aku merasa khawatir jika sopir dan kernetnya akan menyakiti Ayu. Begitu menginjakkan kaki turun, aku bisa mendengar suara pekikan Ayu. Jantungku makin berdebar-debar, apa arti pekikan itu? Jika terjadi sesuatu pada Ayu, aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Akan kuhukum diriku yang mengajak Ayu pergi kedunia luar yang asing. Akan kuhukum diriku yang tertidur lelap tanpa mengawasi putriku. Saat langkahku semakin mendekat ketujuan, perlahan kakiku melambat. Dihadapanku Ayu memekik bukan karena disakiti, namun karena ia bahagia berada di atas pundak seorang pria. Pria itu berjalan kesana-kemari, berucap layaknya dirinya adalah pesawat, dan Ayu memekuk bahagia karenanya. "Ibuk! Lihat Ayu naik pesawat!! Wuuuuu ...." Kuusap wajahku penuh syukur sekaligus melepas kelegaan. Syukurlah Ayu baik-baik saja, rasanya aku ingin memukul Ayu yang pergi tanpa izin. Setiap saat aku selalu mengingatkan padanya untuk selalu izin jika mau pergi kemana-mana. Namun Ayu adalah anakku, tak mungkin aku memukulnya. Tanganku terulur, dan dengan sigap pria itu mengangkat Ayu dan menurunkannya. "Ayu masuk bus dulu sana, om mau ngobrol sama Ibuk Ayu ya?" "Siap kapten!" Teriak Ayu semangat, lalu berlarian masuk menuju bus. Mataku mengikuti kepergian Ayu hingga benar-benar masuk ke dalam bus. Lalu suara lelaki itu berhasil mengambil alih perhatianku. "Maaf ya mbak, saya ajak Ayu makan tanpa izin mbak dulu," Mataku melotot, jadi Ayu makan bersama lelaki itu? Yang tak lain adalah sopir? "Ya Allah ... maaf ya Mas, maaf anak saya mereporkan. Biasanya dia ndak pergi kalau ndak dapat izin dari saya." Lelaki itu menggeleng dengan sungkan, menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Beberapa kali juga ia menunduk, terlihat kalau ia malu-malu. Apa ini? Kenapa responnya seperti ABG yang hendak menyatakan cinta? "Saya sengaja larang Ayu ganggu tidur mbak. Eum ... silakan kalau mbak lapar, makan saja di dalam, biar saya yang bayarkan." Apa-apaan ini? Mengapa orang asing mendadak baik seperti ini? Kalau dari penampilannya, lelaki dihadapanku masih tergolong muda. Bukan sopir gempal berkulit tan, namun sopir berperawakan sedang dan memiliki otot yang pas. Sepertinya usia kami juga tidak beda jauh, lalu apa tujuannya sebaik ini padaku dan Ayu? Mungkin karena menangkap ekspresiku yang terasa heran dan menjaga jarak, sopir itu segera melambaikan tangan seperti membantah tuduhan. "Tidak mbak, saya ndak ada niat jahat." Ucapnya seraya terus melambaikan tangan, "Maaf sebelumnya, tadi Nduk Ayu cerita, katanya Mbak sama Ayu mau pergi ke Sulawesi buat nyari bapaknya Ayu yang selingkuh ya?" Mataku melotot begitu mendengar penjelasan sang sopir bus. Jadi Ayu menceritakan tujuan kami? Oke tak apa kalau hanya menceritakan tujuan saja, tapi mengapa harus menceritakan tentang perselingkuhan? Ya Tuhan, bocah yang belum genap 5 tahun sudah fasih menceritakan perselingkuhan yang merupakan topik dewasa? Tamat sudah! "Yang sabar ya mbak, semoga suaminya cepat ketemu, dan mau pulang lagi sama mbak dan Ayu." Gubrak! Apa sih yang Ayu katakan pada sopir ini? Tujuanku mengejar Arta kan bukan untuk meminta dia kembali, ora sudi! Tujuanku adalah balas dendam, kenapa jadinya seakan aku sedang mengejar cinta? Amit-amit. Aku hanya menyengir saja, mengucap terima kasih banyak-banyak dan izin masuk ke dalam bus. Walau perutku lapar, namun rasa malu lebih mendominasi, jadi lebih baik masuk bus saja dan menutup diri. Percuma aku jelaskan pada semua orang, melelahkan saja, lebih baik aku.... Mataku membelalak kaget begitu masuk ke dalam bus, seorang Ibu-ibu mengenggam tanganku dan memberikan sebungkus roti. Jelas aku kaget dibuatnya, aku tidak meminta roti, tidak juga sedang ulang tahun, kenapa tiba-tiba diberi hadiah? "Monggo mbak dimakan, mbak pasti lapar kan? Yang sabar ya mbak, semoga suaminya cepat pulang," Hah?! Kutatap Ayu yang kini duduk diatas jok dengan mengunyah roti ditangannya. Saat pandangan kami bertemu, Ayu berkedip tanpa dosa, seakan tak melakukan apapun. Padahal sudah jelas, siapa penyebar berita hingga ibu ini tahu tentang masalahku. Mataku kembali membola saat seorang ibu lain mendekat, menyodorkan kudapan dan air mineral, tidak hanya satu, muncul lagi ibu-ibu lain yang memberiku kudapan lain. Tidak lupa memberikan semangat dan dukungan supaya suamiku cepat kembali. "Yey!!! Ayu dapat banyak jajan!!" Demi kerang ajaib! Situasi apa sih ini sebenarnya?! Aku kembali ketempat duduk dengan kudapan yang kudekap erat, terlalu banyak dan tak sanggup dianggap enteng. Aku hanya bisa menghela nafas begitu melihat Ayu semringah meraih makanan yang ia sukai. Niatku mau mengomel luntur, Ayu sangat bahagia mendapat makanan, dan tidak mungkin aku melenyapkan kebahagiaannya. "Buk, om sama tante di sini baik-baik ya, Ayu betah, ndak mau pulang!" Terserah lah, terserah! Kamu bahagia nak, tapi Ibuk malu. Berasa menjadi pemeran sinetron perselingkuhan yang pantas dikasihani. "Oh iya Buk, om Badrun ngasih Ayu uang," "Siapa pula om Badrun?" "Ya Om sopir lah Buk! Masa Ibu ndak tahu?" Sabar Ros, sabar ... dia anakmu, buah hati, darah daging yang harusnya kau sayangi. Walau mengungkapkan kesedihanmu seakan tak berdosa, tetap saja dia adalah anakmu. Ponselku berdering, kurogoh dari kantung celana, dan sebuah pesan baru masuk. Nama Joe tertera di sana, lelaki itu mengabarkan kalau dia .... Hah?! 'Aku on the way Sulawesi pakai pesawat, kabari aku kalau kalian sudah sampai. Aku kangen Ayu, kamu juga.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD