Hari ini usia kandungan Feli sudah masuk minggu tengah, tapi perut Feli tidak terlalu besar dan tidak ada perubahan yang berarti semasa kehamilannya ini. Jadi tinggal sisa 21 hari lagi Feli di apartemen ini. Feli harus segera menghindari anak ini ke dunia yang keras. Sebelum dia tahu dan memaksakan kehendaknya tentang kehidupan ini. Sungguh tidak pernah membayangkan, bila harus menghabiskan sisa hidup bersama dia yang menghamili Feli. Sudah 4 hari dengan hari ini, Angga tidak mengganggu Feli, Feli benar-benar bersyukur atas ketenangan ini. Semoga kedepannya akan menjadi damai selalu bersamanya.
‘drrrt...drtttt..’
Ternyata Naya menelpon bertanya tentang keadaan Feli dan menyatakan kalau dia tidak dapat berkunjung melihatnya di apartemen ini. Feli tidak begitu peduli dengan ucapan Naya karena ini sudah cukup membantunya. Dia tidak pernah lupa mendoakan Feli dan anaknya yang masih dalam perut ini agar tetap sehat. Perhatiannya yang besar kepada Feli sangat membuat wanita itu tidak dapat membalas semua ini dengan semudah ucapan terimakasih. Hingga masalah Feli di kampus pun telah di urusnya. Pihak kampus untuk menyiapkan penyusunan skripsinya, bertambah lagi kebaikannya kepada Feli.
‘Ting tong’
“Tunggu ya, sebentar. Siapa?” Tanya Feli dari dalam apartemen itu.
“Feli ini aku Angga!” teriak Angga.
“Ya ampun laki-laki ini baru aja di omongin sudah muncul lagi!” rutuk Feli yang tidak ingin untuk membukakan pintu.
‘Ting tong’ sekali lagi berbunyi.
“Sabar Tuan Angga yang terhormat!” jawab Feli.
“Cepat Feli!” paksa Angga.
‘Kreyt!!’
“Apa? yang sopan dong!!” kesal Feli pada pria yang saat ini berdiri di hadapannya.
“Panggil aku Angga sayang!” seru pria tersebut.
“Jangan ganggu aku!” pinta Feli.
“Kamu enggak ada rindu- rindunya ya sama aku?” jawab genit Angga. Di saat situasi yang terus bergejolak Angga yang tidak ingin terpisah oleh kekasihnya ini harus bisa menembus benteng hati yang telah beku karena perlakuan Angga. Dengan kata-kata halusnya untuk menyentuh hati Feli agar segera cair dalam kebekuan cinta. Masih di balik pintu, “Aku sangat merindukanmu Feli, hanya kamu yang ada di pikiranku. Bisakah kita bersama?” Tanya Angga dengan suara lirihnya sambil mengeluarkan rayuannya.
Akhirnya Feli membuka pintu dan keduanya berhadapan di ambang pintu. “Mohon maaf Tuan Angga yang terhormat, apa kamu berbicara tulus tentang cinta padaku? Atau ini hanya nafsu? Coba anda pikirkan kembali!” jawab Feli di depan wajah Angga.
“Feli, please panggil aku Angga!” pinta Angga manja. Angga terlihat bergelayut manja pada Feli tapi gadis itu harus teguh pada pendiriannya.
“Aku tidak boleh mencintai pria seperti Angga, ini harus menjadi sesuatu yang baik dalam keputusanku ini!“ gumamnya dalam hati.
“Fel!!" panggil Angga.
“Hm.. Ada apa?” tanya Feli yang sedang membalikkan tubuhnya.
“Kamu mikirin apa?“ tanya Angga sambil membalik tubuh Feli menghadapnya. Dan getaran sangat terasa kalau yang berada di dalam hati Feli sebenarnya sudah mengetahui apa yang ada di dalam benak Angga, tidak lain hanyalah keinginannya untuk memiliki tubuhnya saja.
Tersentak sangat terkejutnya Feli sewaktu Angga meraih bibir merona Feli dengan mengecup kecil bibirnya yang sudah basah. Kelakuan Angga ini membuat Feli terlihat tersipu malu dan tidak dapat menolak sentuhan bibir dari Angga. “Sungguh terlalu kamu Angga yang selalu saja berakhir begini!” jawab Feli yang tidak sanggup untuk berlari dari kelakuan Angga. Tangannya yang kuat menarik tubuh Feli masuk ke dalam pelukannya pelan-pelan, Angga menjamah Feli. "Fel, kamu enggak suka ya aku giniin?” Tanya Angga dengan manja. “Kenapa?” tanya Feli.
Suasana sangat tidak nyaman bagi Feli hingga banyak yang tidak kata yang terucap ataupun keseriusan Feli dalam menanggapi rayuan Angga. Terlihat Angga yang sedang berusaha memasuki setiap rayuannya kepada Feli agar dapat di terimanya “Ya kamu tidak suka ya karena dari tadi kamu hanya diam saja seperti kayu, makanya aku mikir kalau kamu enggak suka” ucap Angga pada Feli yang semakin dekat.
“Biasa saja deh Angga, hal-hal kecil jangan di jadikan pikiran!” jawab Feli dengan suara datar.
Angga semakin bingung untuk menghadapi Feli yang sangat cuek hari ini, “Waaw, Sangat menantang nih cewek!” pikir pria itu di dalam hatinya yang semakin geram menyaksikan sikap Feli. Angga sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu kepada Feli tapi sikap Feli ini sangat membuatnya tidak nyaman. “Feli, sebenarnya bagiku ini adalah masalah yang besar untuk di hadapi, aku enggak mau hanya nikmati sendiri tapi bersama kita lalui!” terang Angga sambil menatap Feli penuh harap dan ingin terus bersamanya.
“Terserah apa yang ingin kamu katakan padaku, aku lelah kalau harus berdebat dengan kamu dan menjawab setiap pertanyaan yang tidak dapat aku lakukan!” jawab Feli.
“Jadi kau meremehkan ketulusan ku ini, yang sebenarnya aku mampu melakukannya bila bersamamu!” jelas Angga.
“Tidak mungkin!“ remeh Feli yang merasa Angga tidak akan mampu bertanggung jawab atas semua yang terjadi.
“Hah!!” kesal Angga melihat wajah Feli yang menunjukkan ketidaksukaan dengan kehadiran Angga.
“Apa?” tantang Feli sambil membesarkan bola matanya dan menaikkan alis matanya.
**