Feli terbangun dari pingsan sejak dua jam yang lalu. Wanita tersebut menatap Angga dengan tatapan menyalang. “Jangan menatapku seperti itu! Aku benar-benar menginginkanmu. Aku tidak tau ini perasaan apa, tapi aku!” kalimat Angga terputus oleh Feli yang tiba-tiba berbicara.
“Apa kamu mencintaiku?” tanya Feli yang membuat Angga tersentak.
Angga terbata! “Aku tidak tahu...” Seketika Feli berdiri dan duduk di hadapan Angga dengan posisi dia berada di pangkuan Angga, lalu Feli mengecup tengkuk leher tegas Angga dan melumatnya kecil–kecil hingga pria merasakan adanya sensasi yang baru muncul. Feli terus melanjutkan aksinya, sedangkan angga yang masih setengah sadar membuat ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. “Argh!! apa yang kamu lakukan!” teriak Angga pada Feli yang sedang menolak gairah. Feli tidak bergeming dengan teriakan Angga sambil terus melanjutkan aksinya. Ia menjelajahi setiap inci tubuh pria itu. “Argh!! Angga tiba–tiba mendesah hingga menggeliatkan tubuhnya. Feli membuka celana Angga dengan tergesa–gesa dan memainkan keperkasaan milik Angga yang mulai memanas. Feli segera mencengkram keperkasaannya dan menggigit kecil keperkasaan Angga yang sudah kekar membuat pria itu berteriak dan mendesah secara bergantian. “Argh..” ini suara kenikmatan yang muncul dari mulut Angga. “Nikmatnya!” batin Angga berbisik.
Di saat Angga menikmati apa yang terjadi saat itu. Sebuah suara menghentakkan kenikmatan yang tak terkira adanya. Angga benar ternganga saat Feli berteriak “SEKARANG PERGILAH!”
"Apa? apa yang barusan kamu katakan, Apa kamu mengusirku setelah semua yang kamu lakukan ini?” teriak Angga. Walaupun berteriak, tidak ada yang di gubris oleh Feli.
“TOLONG PERGI SEKARANG ! APA YANG AKU LAKUKAN ADALAH BALASANKU UNTUKMU ! “ jawab Feli dengan kalimat mengintimidasi Angga dengan kalimat dan pandangan matanya yang menyalang.
“Apa?” Angga masih terkejut karena Feli membuatnya seperti laki-laki murahan.
“Ya, pergilah..” jawab Feli mengusir Angga.
Dia sesegera mungkin menaikan celananya yang sudah terlepas dan merapikan baju yang sudah acak–acakkan dengan benar setelah di acak-acak oleh Feli. Feli menatap Angga dengan senyuman sinisnya. “Ini belum selesai! “ teriak Angga dengan suara yang tak tembus tenggorokan karena bisa di bilang di masih mengalami syok.
"Apa yang kamu pikirkan Tuan Angga, aku tidak ada hubungannya denganmu, jangan banyak berpikir dan berharap aku akan tunduk!” jawab Feli dengan suara lembut tapi terdengar begitu keras di telinga Angga. Feli tidak ingin Angga bertanggung jawab atas semua perbuatannya yang telah terjadi pada Feli, karena dia tidak ingin menikah dengan laki-laki seperti diri Angga. Feli akui memang dia sangat tampan, tapi Feli sangat tidak suka dengan sifat buruknya. Saat Angga bertanya kepada Feli tentang kondisi hamilnya dengan tegas Feli mengatakan tidak! Ini bukan anaknya. Karena dia benar-benar tidak ingin orang itu hidup dengannya. Walaupun Angga memaksa Feli, Wanita itu tetap pada pendiriannya. Karena itu lah ia melakukannya pada Angga seperti lelaki murahan pada saat itu agar pria itu benci padanya. Feli segera menelfon Naya karena dirinya merasa resah. Naya, bisakah aku pindah dari tempat ini?” Tanya Feli
“Ada apa Feli, apa ada yang mengganggumu?” tanya Naya dengan suara cemas.
“Tidak ada Naya, aku rasa lebih baik aku di tempat lain saja! “ jawab Feli lirih.
“Kamu yakin tidak ada masalah lain?” tanya Naya meyakinkan dirinya.
“Ya... aku yakin!” jawab Feli dengan suara datar.
“Baiklah teman kesayanganku, beri aku waktu satu bulan ya!” suara Naya seperti angin dingin yang menenangkan hati Feli.
“Baiklah aku menunggu kabar Naya!” harapan Feli yang benar-benar ingin waktu satu bulan ini cepat berlalu.
Pagi yang dingin ini Angga memaksakan dirinya untuk segera bergegas ke kantor, tidak dapat di tunda lagi karena ada rapat yang sangat mendadak yang harus di hadiri oleh Angga. Penuh perjuangan Angga untuk segera menuju ke sana, ada hambatan yang harus di lalui mulai dari kemacetan di jalan raya hingga cuaca hujan yang deras mengganggu jarak pandang mata untuk menatap ke depan. Demi untuk menghadiri rapat itu, Angga harus mendahului kendaraan lain dengan kecepatan tinggi, hingga tidak menghiraukan keselamatannya dalam berkendara. Untung saja Angga lihai dalam mengendarai kendaraannya, apalagi urusan wanita, Angga jagoannya.
Setibanya di kantor semua mata tertuju kepada Angga, dengan setelan kemeja yang di kenakannya sedikit basah karena guyuran hujan yang menerpanya di parkiran mobil. Tapi ada satu karyawan wanita yang menyapanya, dengan kata sambutan pagi membuat Angga menjadi hangat dengan lontaran kata yang manis di pagi ini. Angga masuk ke dalam ruang rapat dan membahas suatu proyek dalam kemajuan perusahaan ini. Pemegang jabatan dan para pemilik saham semua telah duduk menunggu Angga untuk membuka rapat ini. “Pak!” Sapa sekretaris Angga yang ingin menyapu air yang mengalir di dahinya yang licin.
Angga menahan tangan Siska sekretarisnya itu sambil menggelengkan kepalanya. “NO” ucap Angga datar. Para peserta rapat melihat tampilan Angga yang acak-acakan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Angga masuk dan meminta izin untuk merapikan penampilannya. Dia menarik sekretarisnya untuk segera merapikan dirinya di ruangan utama.
Mereka berdua berjalan ke ruangan dengan langkah yang cepat. “Cepat…” pinta Angga dengan memaksa. Entah berapa jam akhirnya semua urusan Angga hampir selesai.
Dari suasana yang tenang itu terdengan suara ponsel yang menghilangkan suara menjadi senyap seketika. Ponsel itu membuat semua mata memandang ke arah posnsel milik Angga. Dia menunjuk sekretaris agar tidak mengeluarkan suara yang riuh. “Halo, malam kak!” ucap Angga menyambut panggilan dari kakak kesayangannya.
“Halo juga, kesayangan kakak sudah pulang? Kamu kenapa jarang kemari sayang?” Tanya Rena.
“Biasalah kakak kerjaan aku numpuk!” jawab singkat Angga.
“Makanya jangan di tumpuk dong!”
“Kakak bisa aja!” ucap Angga sambil tersenyum.
“Girang banget ni bocah. Oh iya, Apa sudah ketemu sama dia?” Tanya Rena
“Dia?”
“Perempuan yang kamu cari itu!”
“Iya kak” jawab Angga melemahkan suaranya.
“Terus gimana?”
“Enggak tahulah kak. sepertinya dia tidak menginginkan aku!”
“Jangan lembek kamu!” tegas Rena
“Aku enggak lembek kak! kakak tahukan kalau tidak ada cewek yang bisa menolak aku!” ucap Angga dengan sombongnya.