TEGA

1009 Words
Feli berpikir panjang semalaman suntuk. Dia tidak bisa seperti ini terus-terusan. Dalam kebingungan Feli menatap Naya dan Bram yang sedang berada di hadapannya. Feli bingung harus bagaimana sekarang. “Naya... Mas ...!” panggil Feli. “Dalam hal ini, aku telah memikirkannya dengan baik, dan sedari awal sudah aku sadari kalau aku rasa anak ini tidak akan sanggup aku rawat !” ucap Feli. Setelah Feli menyampaikan kata–kata itu, dalam diam dia melihat perubahan di raut wajah Naya dan Bram. Mereka saling bertatapan, entah apa yang di pikirkan mereka. “Jadi Feli?" Tanya Naya. Wajah mereka terlihat tegang, apa yang harus di katakan Feli lagi kepada Naya dan Bram. Bila tidak di sampaikan dengan segera, takutnya mereka berpikir kalau Feli berubah dengan pemikirannya sebelumnya. “Aku akan memberikannya padamu Naya, tapi...” ucapan Feli terhenti karena bingung akan menyampaikan apa kepada Naya. “Tapi apa Fel ?” Tanya Naya. “Ya, izinkan aku untuk tetap di dekatnya dan izinkan aku menyusuinya selama 6 bulan, bagaimana menurut kalian, bila kalian mengizinkan aku. Aku juga akan ikhlas dengan semua ini!” pinta Feli dengan penuh harap. Tanpa pikir panjang, pasangan suami istri itu langsung mengangguk setuju karena anak ini masih perlu asupan ASI untuk menambah kekebalan tubuhnya dan dekapan ibu memberikan kehangatan yang tiada tara. “Naya..” sebut Feli. “Ya Fel... “ Jawab Naya. Mereka hanya bersahutan memanggil karena bingung apa yang akan di sampaikan. “Terimakasih... aku hanya pinta itu Nay, setelah itu aku akan meninggalkan anak itu!” ucap Feli lirih yang berusaha untuk tegar dengan keputusannya itu. “Tidak Fel, aku yang seharusnya mengucapkan itu, nanti kita pikirkan kembali ya!” jawab Naya yang berusaha untuk berlaku adil pada anak ini. Feli tersenyum kepada Naya dan memeluknya, rasa yang tidak terbendung dalam hati Feli karena pertolongan Naya dan suaminya. “Fel, tinggallah di apartemenku, di sana lebih baik karena dirimu harus menjaga baik calon anak tersayangku !” ucap Naya dengan kekehan andalannya itu. “Ya jelas Nay, tidak mungkin aku merusak diriku sendiri !” Seru Feli. “Aku sudah siap Nay, karena tidak banyak barang yang aku miliki, ayo kita bergegas !” tambah Feli tanpa pikir panjang menerima pinta Naya dan mengajak Naya untuk segera beranjak ke apartemennya. Tidak lama perjalanan. Di sinilah Feli berada sekarang di salah satu apartemen mewah di kota ini. Apartemen milik Naya sejak dulu semasa Naya masih sendiri, dalam satu minggu sekali pasti kami bersama di sini. "Fel... jangan melamun terus, rapikan pakaianmu dan istirahatlah!” ucap Naya untuk melenyapkan lamunan Feli. “Oh iya Nay, maaf!” ucap Feli yang tersentak dalam lamunan. Entah apa yang dipikirkan Feli hingga harus terfokus pada lamunannya akhir-akhir ini, walaupun Naya telah membantunya. “Aku sudah memesan makanan, jangan lupa di makan ya, aku dan Mas Bram harus pulang karena ada sesuatu yang harus di selesaikan!” “Baiklah Naya sahabatku, tak bisa aku katakan atas kebaikanmu kepada ku saat ini!” jawab Feli. Mereka berduapun meninggalkan Feli. Dia melihat Apartemen itu dan menghela napas panjang. “Aku akan bersemangat bersama sisa waktuku bersamamu sayang.” Ucap Feli sambil mengelus perutnya. 15 menit masih dalam acara mandi. ‘Ting tong’ bunyi bel apartemennya. “Ya...” sahut Feli dari dalam kamar mandi. Dia keluar menuju pintu setelah menggunakan pakaiannya. “Ini mbak pesanannya, maaf ya mbak tadi jalanan macet sehingga telat sampai tujuan!” Ucap pengantar makanan itu dari luar pintu. “Tidak apa-apa pak jawab Feli, saya permisi tutup pintunya!” dia berakata dengan lembut. Di saat Feli melangkah kembali sambil menutup pintu, Feli merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Tiba-tiba seseorang menarik Feli masuk dalam dekapannya. Mendorong Feli masuk ke dalam Apartemen itu dengan tanpa jenjang waktu bibirnya dilumat dengan penuh sensasi hingga tak ada udara yang dapat di keluarkan lagi. Feli terengah-engah. Feli bersiap ingin berteriak, tapi seseorang itu masih melumat bibirnya dengan kuat. Feli mencoba menggigit bibirnya. Tapi tidak membuahkan hasil, Feli menjadi sangat kewalahan, untuk berontak melawan. Ada rasa ingin menangis dan menjerit tapi tidak ada ruang yang di berikan olehnya hingga Feli diam membiarkan bibirnya dilumat. “Apa-apaan ini!” ucap Feli dalam batinnya. “Ya Tuhan, ampuni aku, dia meronta tapi tenagaku jauh kalah darinya. Tangannya menelusuri dari bawah masuk ke dalam sela bajunya, meremat-remat bagian sintal di dadanya dengan penuh gejolak. Dia sedikit memainkan bagian itu dengan bibirnya, membasahinya dan melumatnya dengan penuh hasrat. Feli ingin menangis, tapi yang keluar malah suara desahan. "Akhh...” Mendengar desahan itu semakin menjadi, gerakan lidahnya bergerak di dalam rongga mulut, memainkan langit-langit tenggorokan mengabsennya satu per satu. Pria itu bergetar sambil mendesah.. "Arghhh... argh..." desahnya semakin menjadi. “Argh!!” Teriak Feli saat pria itu lagi-lagi menggigit bagian buah dadanya yang sangat sensitif miliknya. Feli perlahan membuka matanya karena dia ingin melihat pria yang tengah memperkosanya saat ini. “Kamu!” teriak Feli lagi. Feli meronta sejadi-jadinya. Pria itu yang tidak lain adalah Angga. "Apa yang kamu lakukan padaku, lepaskan aku." Feli memohon tapi tetap tidak di dengarkan oleh Angga. Angga benar-benar gila saat ini. Dia butuh seks, dia hanya menginginkan itu. Angga langsung menambah erat pelukannya. Feli begitu lemas, tubuhnya lunglai. Kini Angga sudah menyingkap baju sampai ke atas, Melumat dan meremat dengan semangat. Feli terus memukul-mukul tubuh Angga tapi itu malah membuat keinginan Angga bergejolak. “Apa yang kamu lakukan, dasar!! lepaskan aku!!! lepaskan, b******k!” teriak Feli sambil meronta. Angga mulai semakin bergejolak hingga harus melakukan penyatuan dengan Feli. Ya, Angga sudah gila. Dia sudah menahan keinginannya cukup lama. Angga tak henti mencari wanita yang berada dalam dekapannya ini. Takdirlah yang membawanya kembali pada dekapan Angga. Pria tersebut tidak akan melepaskan Feli begitu saja, wanita ini harus menerima hukuman darinya. “Jangan lakukan ini padaku!” teriak Feli saat Angga mulai mengeluarkan dan memasukkan keperkasaannya dengan cepat.” Feli menangis tersedu. Ini benar-benar melukai harga dirinya. Angga meremat bagian sensitif Feli. Angga sangat keterlaluan sudah seperti orang gila. Napas mereka tidak teratur karena Feli yang terus berontak. Perut Feli tepat di bawah pusat mulai sakit. Rasanya begitu nyeri hingga Feli tidak bisa bernapas dengan baik. Jantungnya berdebar hebat saat rasa nyeri itu semakin menyiksanya. Feli menangis, air matanya terus tumpah tidak bisa berhenti. “Jangan menangis…” suara tersebut terdengar berbisik di telinganya. Feli sudah tidak sanggup lagi, dia sangat lemas. pandangan matanya sudah memudar. “Ampuni aku... Ampuni aku... begitu tega perlakuanmu!” Teriakan Feli tidak di pedulikan Angga. Dia terus melakukannya tanpa henti hingga sampai di puncaknya. Seketika semua terasa begitu gelap bagi Feli. Dia terjatuh tepat dihadapan Angga. Pria tersebut terdiam tanpa harus menghiraukan Feli karena inilah intinya, suatu puncak Angga mencapai keinginannya terhadap Feli. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD