POV ANGGA-Apa aku pantas jadi ayah?

957 Words
Wanita yang kunantikan itu adalah Feli. Ya, benar dia di panggil Feli, Aku tidak menemukannya di manapun setelah aku mencari tahu tentang keberadaannya di tempat dia bekerja ataupun kampus. Feli di mataku adalah sosok wanita dengan wajah yang sendu, manis dan bersih tanpa polesan make up yang menempel di pipinya. Tampak terlihat begitu cantik natural di balut kulit putih saljunya. Aku tersenyum mengingat matanya yang bulat dengan bola mata yang besar. Tapi aku merasa kecewa tidak dapat menemui dan melihat Feli. Sungguh dia sangat mempesona di mataku, dan kurasa mata ini tidak salah dalam menilai Feli tapi sayang aku bertemu dengannya di waktu yang salah, aku merasakan kalau dia bukan wanita yang pantas untukku. Kesalahan ini yang telah kuperbuat hingga tak ada lagi keindahan yang dapat kupandangi. Teriris rasa hati ini ketika aku kehilangan dirinya hingga bayangannya pun tak dapat kulihat di pelupuk mataku ini, rasa yang baru tumbuh ini mulai harus di sembunyikan karena dia berada entah dimana. Hidungku tidak mencium wangi tubuhnya, kulitku tidak merasakan sentuhan tubuhnya tapi perasaan ini selalu bergetar setelah tahu dirinya telah jauh meninggalkanku tanpa jejak. “Angga, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu aneh akhir-akhir ini, Ceritakan semuanya.” Suara yang menembus selaput telingaku seakan dia berada di dekatku. “Tidak ada masalah apa-apa. Tenang saja, aku masih pusing dengan urusan perusahaan.” Jawabku singkatku setelah mengetahui kalau Itu suara Rena jadi aku tidak ingin di ganggu olehnya. Aku melihat Rena hanya menghela napas dan pergi meninggalkan aku. Aku kembali dalam pikiranku. Aku menghitung ini sudah hampir dua bulan atau lebih setelah kejadian malam itu. Aku tidak bisa diam dan terus begitu merutuki diriku yang salah dalam memperlakukannya. Bodoh, aku terus menyalahkan diriku karena pertemuan singkat antara diriku dan dia merupakan pertemuan yang salah, terus dan terus tetap menjadi salah. Hingga saat ini aku terus di hantui rasa tak termaafkan. Pertanyaan yang terlontar dari mulutku ini antara percaya dan tidak, apa dia benar-benar hamil setelah kejadian saat itu. Bagaimana ini bila itu benar – benar terjadi, apa aku harus mengakui dia dan anak di dalam perutnya itu. Sejujurnya aku sungguh tidak mengenalnya dan tidak mengetahui detil wanita itu, di tambah dengan latar belakangnya yang belum terbaca olehku. Tapi berdasarkan penglihatanku, dengan pekerjaanya saat itu aku yakin dia tergolong orang yang tidak memiliki kemampuan materi yang cukup yang dapat menunjang derajat hidupnya di mata orang yang memandangnya. ‘FRUSTASI’ Itu kata yang terlintas di benakku. Bukan menjadi alasan tapi benar–benar ini terjadi padaku. Entah mengapa begitu kalutnya aku, dan entah mengapa rasa ketakutanku meningkat. ‘STRES’ Kata ini juga menyelimuti pikiranku. Mengapa tidak, stres ini datang karena adanya reaksi tubuh yang terjadi karena adanya tekanan yang mendalam dari orang lain sehingga. Gugup, takut dan emosi yang tak terkendali sering terjadi pada diriku akhir–akhir ini. Aku sangat merasa stres hingga menjadi frustasi. Kadang aku merasa putus asa hingga tidak dapat mengontrol diri dalam bertindak. Aku mengambil ponsel, lalu mencari nama–nama dan menekan angka-angka yang ada di ponsel. Aku terus menghubungi dia yang kucari saat ini, tak peduli halangan dan rintangan di depanku karena aku ingin bersamanya saat ini. Ku singkirkan semua yang menghalangi. Ya, aku mendapat nomor ponsel Feli dari kampusnya. “Gila, kacau!!” teriakku saat panggilanku tidak di respon oleh Feli. Semua ini menambah emosiku dan mengendap di hatiku. Aku kembali menekan angka-angka di ponselku dan menghubungi seseorang, Ya... aku ingin melepaskan diriku dari kepanikan ini. Aku rasa melakukan hubungan badan karena ini sangat di butuhkan untuk merefleksi diri. “Hallo!!” jawabnyapadaku. “Kamu sedang apa?” Tanyaku pada wanita yang sedang berbicara padaku. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu. Aku sudah rapi dan melihat wajahku di cermin. “Kamu tampan Angga!!” pujiku pada diri sendiri. Itu adalah salah satu caraku mempertahankan kepercayaan diri. Siapa lagi yang akan memuji diri kita kalau bukan diri kita sendiri. Aku mengambil ponselku dan entah kenapa ingin sekali lagi mencoba menghubungi nomor ponsel Feli. Aku memejamkan mataku dan mencobanya lagi. “Bila Kamu tidak mengangkat ini aku akan pergi menghabiskan malam dengan w*************a. Tapi jika Kamu mengangkatnya aku akan batalkan tidur dengan wanita sialan itu.” Aku menarik napas dan mencoba kembali. Alangkah bahagianya aku saat panggilan itu tersambung. “Hallo” Jawab wanita itu lembut dari ponsel ini. Dengan gugup akupun menjawab dengan segera. “Ya Hallo, Ini..“ Belum selesai kau bicara panggilan itu telah dimatikan. Aku seolah terbungkam dengan kalimatku sendiri. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apa dia benar-benar tidak ingin bicara denganku? Apa dia sudah bersama orang lain? Apa bayi itu benar-benar bukan anakku? Semua pertanyaan itu membuat aku hampir gila. Aku meletakkan ponsel di atas nakas dan masuk ke kamar mandi. Aku membasahi tubuhku dengan air sebanyak-banyaknya. Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa lagi berpikir jernih. “Angga, ayo makan.” Panggil Kakakku pada adiknya ini. “Sebentar lagi, aku sedang mandi!!” Teriakku pada Rena dari dalam kamar mandi. “Ya.. cepatlah aku tidak ingin makan sendiri.” Teriak Rena lagi. “Apa ini? Kemana lagi perginya Edo? Apa dia lebih sibuk dariku?” Aku sangat kesal karena dua hari tidak melihat Kakak Iparku. Pria itu mengatakan sedang di luar kota. Tapi jujur saja Aku tidak percaya. Selesai mandi Aku langsung turun ke meja makan. Ya, beginilah ketika dia menginap di Rumah Rena. Angga akan di layani bak raja. Semua makanan kesukaan Angga ada di meja. Rena paling tahu membuat Angga bahagia dengan makanan. “Waw, semua ini pasti enak sekali. Aku tidak bisa berhenti makan kalau seperti ini.” Ucap Angga yang membuat Rena Tersenyum puas. “Makan saja sampai kamu puas Angga. Asalkan tidak sakit perut setelah ini. Jangan lupa besok aku akan mengenalkanmu dengan salah satu Dokter di rumah sakit.” Ucap Rena. Angga hanya diam tidak menjawab iya atau tidak. "Menurutmu, Apa aku pantas menjadi seorang Ayah??" Tanya Angga yang membuat Rena mengalihkan pandangannya pada Angga. "Tidak ada pria yang tidak pantas sebagai seorang Ayah. Semua orang punya masa kelam, tapi tidak sedikit orang yang melakukan perubahan. sekarang tergantung apa kita bisa memantaskan diri. Tidak sedikit Pria di luar sana yang bertahan menjadi Orangtua tunggal karena cintanya terhadap sang istri. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD