Pagi itu, tubuh Nindya bergerak seperti biasa, berusaha menyapa suaminya dengan senyum sopan. Tapi di kepala Nadia, semua strategi sudah disusun. Setiap gerak harus terlihat wajar, setiap kata harus sederhana. Tubuh ini rapuh, tapi pikirannya tajam. Setiap langkah harus hati-hati, agar tidak menimbulkan kecurigaan di mata Arman atau keluarga. “Tenang saja, tubuh ini hanyalah wadah. Tapi aku yang memegang kendali,” bisik Nadia dalam hati, menenangkan tubuh Nindya yang terasa gemetar. Hari itu, sebuah pertemuan tidak terduga menuntunnya ke sebuah kafe kecil di sudut kota. Nadia sudah mengendus peluang ini sejak beberapa hari lalu, mencari seseorang yang pernah mengenal Ratna, seseorang yang bisa memberi informasi yang tidak mungkin diperoleh dari dokumen lama. Dan di meja dekat jendela, se

