Amarah yang Tertahan

1174 Words

Siang itu seharusnya berjalan seperti biasa bagi Arman. Ia duduk di restoran bersama kliennya, membahas proyek yang telah direncanakan, sementara suasana di sekeliling tetap tenang dengan percakapan ringan dan dentingan alat makan. Namun di balik sikap profesionalnya, pikirannya tidak benar-benar hadir. Ia beberapa kali melirik kosong ke arah gelas di depannya, sementara kliennya terus berbicara panjang lebar. “Apa ada yang ingin ditambahkan, Pak Arman?” tanya kliennya. Arman tersadar, lalu mengangguk singkat. “Ya, saya rasa kita bisa lanjut ke tahap berikutnya minggu depan,” jawabnya, mencoba tetap fokus. Ia memaksakan diri kembali fokus pada pembahasan, meski pikirannya masih dipenuhi percakapan pagi tadi dengan Bima. Kalimat itu terus berulang di kepalanya, tak memberi ruang untuk t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD