Arman tidak langsung pulang setelah meninggalkan restoran itu. Ia justru mengemudi tanpa arah jelas, membiarkan jalanan kota membawa mobilnya entah ke mana. Tangannya masih menggenggam setir terlalu kuat, sementara pikirannya terus memutar ulang semua yang baru saja terjadi. Kalimat Bima, tatapan Nindya, dan pengakuan yang tidak pernah ia minta. Semuanya bertabrakan di kepalanya tanpa henti. “Aku gak bisa terus seperti ini…” gumam Arman pelan. Ia menepikan mobil di pinggir jalan, menarik napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. “Kalau aku diam, aku yang kalah.” Ia membuka mata kembali, tatapannya lebih dingin dari sebelumnya. “Aku harus selesaikan ini dengan cara yang benar.” Di sisi lain, Nindya masih duduk di restoran yang sama, namun kini hanya bersama Bima. Suasana sudah jau

