Malam turun perlahan, menyelimuti rumah itu dalam keheningan yang terasa tidak wajar. Lampu ruang tamu menyala hangat, kontras dengan dinginnya suasana di antara Arman dan Nindya yang duduk berseberangan tanpa benar-benar saling memandang. “Kamu kelihatan sibuk akhir-akhir ini,” ujar Arman akhirnya, suaranya terdengar santai tapi mengandung selidik. Nindya menutup bukunya perlahan. “Bekerja dan berpikir itu bukan kejahatan, kan?” jawabnya tenang. Belum sempat Arman membalas, bel rumah berbunyi. Nindya berdiri. “Sepertinya tamu kita sudah datang.” Arman mengernyit. “Tamu?” “Bima bilang tadi sore telepon dan katanya ingin mampir. Ada yang mau dibicarakan.” Nama itu membuat rahang Arman menegang, meski wajahnya berusaha tetap datar. Pintu terbuka. Bima berdiri dengan senyum hangat sep

