Hujan semalam masih menyisakan bau tanah basah ketika Nindya duduk di ruang kerjanya. Pertarungan pertama telah terjadi, tetapi baginya itu baru awal. Retakan memang sudah tampak, namun Nadia di dalam dirinya tahu bahwa yang mereka hadapi bukan sekadar konflik rumah tangga. Ada sejarah panjang yang belum tersentuh. “Kalau Ratna berani bertindak sejauh ini, pasti ada akar yang lebih dalam,” bisik Nindya pelan pada dirinya sendiri. “Ini bukan cuma soal Arman.” Ia mulai menelusuri masa lalu Ratna dengan lebih sistematis. Bukan hanya proyek kantor atau pertemuan rahasia, melainkan jejak kehidupan sebelum semua ini terjadi. Nama sekolah lama Arman menjadi titik awal. SMA Harapan Bangsa. “Arman, kamu dulu sekolah di SMA Harapan Bangsa, kan?” tanya Nindya ringan suatu malam. Arman mengangguk

