Pagi itu langit mendung, seolah menahan hujan yang belum jatuh. Nindya berdiri di depan rumah ibu mertuanya dengan langkah mantap. Tidak ada lagi ragu di wajahnya. Ia sudah menyusun kalimat, menyusun nada, bahkan menyusun kemungkinan reaksi yang akan muncul. Hari ini bukan tentang emosi, melainkan tentang kontrol. Ia menekan bel. Tidak lama, pintu terbuka. Ibu mertuanya, Bu Lestari, menatapnya dengan kening sedikit berkerut. “Tumben datang pagi-pagi. Ada apa?” “Saya ingin bicara, Ma. Penting,” jawab Nindya tenang. Nada suaranya tidak tinggi, tidak pula lembut. Netral. Itu yang membuat Bu Lestari sedikit waspada. Mereka duduk di ruang tamu. Tirai setengah terbuka, cahaya kelabu masuk membelah ruangan. Nindya tidak langsung bicara. Ia justru membuka tasnya perlahan, mengeluarkan ponsel,

