Nindya berdiri di depan cermin kamar, menatap pantulan wajah yang bukan miliknya, tetapi kini sepenuhnya berada dalam kendalinya. Ada ketegasan yang tidak lagi ia sembunyikan. Api yang dulu membakar Nadia kini menyala tenang di balik mata Nindya. Hari ini bukan lagi tentang bertahan. Hari ini tentang bergerak. “Aku tidak akan terus menjadi korban,” bisiknya pelan pada bayangan di cermin. “Jika mereka menyusun fitnah dengan rapi, maka aku akan membongkarnya dengan lebih rapi.” Langkah pertama dimulai dari sekolah. Sebagai guru SD negeri, Nindya memiliki akses kepada orang tua murid yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama dengan tempat Ratna bekerja saat ini. Ia menyusun daftar nama di dalam buku catatan kecil berwarna cokelat. Setiap nama diberi tanda, lengkap dengan kemungkinan in

