Suasana di dalam rumah itu tidak lagi sama setelah kepergian Nindya. Hening yang tersisa bukanlah ketenangan, melainkan tekanan yang perlahan menghimpit dari segala arah. Ratna berdiri kaku di dekat meja, sementara ibunya Arman tetap diam, menatap dokumen yang tadi ditinggalkan. Keduanya tahu, ini belum selesai. “Dia tahu terlalu banyak,” bisik Ratna pelan. “Kita gak bisa biarkan dia berkembang.” Ibunya Arman tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada kertas-kertas itu, pikirannya bergerak cepat, menghitung kemungkinan yang tersisa. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Dia belum membuka semuanya,” katanya akhirnya. “Itu berarti dia masih menahan sesuatu.” Ratna menoleh cepat. “Dan itu lebih berbahaya,” katanya. “Karena kita gak tahu apa yang dia simpan.

