Pagi datang dengan suasana yang tidak jauh berbeda dari malam sebelumnya. Tidak ada kata-kata yang benar-benar menyelesaikan apa pun. Hanya sisa-sisa percakapan yang masih menggantung di antara Nindya dan Arman. Nindya sudah lebih dulu bangun. Ia berdiri di dapur, menyiapkan kopi dengan gerakan yang tenang, seolah tidak ada yang berubah. Tapi di dalam kepalanya, semuanya bergerak lebih cepat dari biasanya. “Aku gak bisa biarkan ini mengganggu langkahku…” bisiknya pelan. “Apa pun yang Arman rasakan… aku harus tetap jalan.” Ia menuangkan kopi ke dalam cangkir, lalu menatap cairan hitam itu beberapa detik lebih lama. “Dan aku gak boleh ragu.” Di sisi lain, Arman berdiri di ambang pintu tanpa suara. Ia memperhatikan Nindya dari jauh, mencoba membaca sesuatu yang mungkin terlewat. Namun y

