Malam itu tidak benar-benar memberi jeda. Setelah percakapan yang menggantung, suasana di dalam rumah terasa semakin rapuh. Nindya berdiri beberapa detik lebih lama di tempatnya, lalu perlahan berbalik menuju ruang kerja tanpa menambahkan apa pun. Arman tidak menghentikannya. Ia hanya berdiri diam, membiarkan jarak itu kembali tercipta, meski kali ini terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya. “Aku harusnya bertanya sekarang…” gumamnya pelan. “Tapi kenapa rasanya, aku gak siap mendengar jawabannya?” Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menghilangkan kegelisahan yang semakin jelas. “Sejak kapan aku jadi seperti ini…” Di dalam ruang kerja, Nindya kembali duduk di depan laptop. Tapi kali ini, layar yang menyala tidak langsung ia fokuskan. Pikirannya masih tertinggal di luar, pada percaka

