Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan bagi Arman. Ia terbangun lebih awal, namun kali ini bukan karena kebiasaan, melainkan karena pikirannya yang tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia duduk di tepi tempat tidur di kamarnya sendiri, menatap lantai dengan tatapan kosong. Bayangan semalam kembali muncul tanpa diundang. Setiap kata, setiap ekspresi Nindya, dan setiap bayangan tentang Bima terus berputar tanpa henti. Tangannya mengepal pelan. “Kalau aku terus begini…” gumamnya lirih. Ia berdiri, berjalan ke jendela, lalu membuka tirai sedikit. Cahaya pagi masuk, tapi tidak cukup untuk mengusir beban di dadanya. “Aku bisa kehilangan kendali,” katanya pelan pada dirinya sendiri. Di kamar lain, Nindya juga tidak benar-benar tidur nyenyak. Ia bangun dengan perasaan yang masih b

