Malam itu, Arman tidak langsung masuk ke rumah setelah mobilnya berhenti di halaman. Ia tetap duduk di balik kemudi, tangan masih menggenggam setir erat, seolah jika ia melepaskannya, sesuatu dalam dirinya juga akan ikut runtuh. Napasnya masih tidak stabil sejak kejadian di kafe tadi. Pikirannya berputar tanpa henti, mengulang setiap detail yang ia lihat. Tatapan Nindya, kedekatan mereka, dan ketenangan Bima yang justru terasa seperti tantangan. “Aku gak bisa terus seperti ini.” gumamnya pelan. Ia menyandarkan kepala ke kursi, menutup mata sejenak, tapi bayangan itu justru semakin jelas. “Kenapa rasanya aku yang tersingkir di hubungan sendiri.” Di dalam rumah, Nindya sudah lebih dulu sampai. Ia langsung masuk ke kamarnya tanpa menyalakan lampu ruang tengah. Tasnya diletakkan begitu sa

