Strategi Baru

1125 Words

Nindya tidak langsung pulang. Mobilnya justru berhenti di tepi jalan yang lebih sepi, jauh dari keramaian kafe. Ia duduk diam di dalam mobil, menatap ponsel yang masih menyala di tangannya. Pesan terakhir dari Arman belum ia balas lagi. Ia menarik napas pelan, lalu bersandar. “Dia mulai curiga…” bisiknya pelan. “Tapi belum paham semuanya.” Beberapa detik kemudian, ia membuka catatan di ponselnya dan mulai menulis sesuatu. Di dalam kepalanya, semuanya mulai tersusun lebih rapi. Nama Ratna, Adrian, dan ibunya Arman… semuanya seperti potongan yang perlahan menemukan bentuknya sendiri. Nindya mengetuk layar ponselnya pelan, lalu bergumam. “Kalau satu titik mulai terbuka, yang lain juga akan ikut.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan. “Tinggal siapa yang akan jatuh duluan.” Sementara i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD